foto: tempo

foto: tempo

Di hari deklarasi pasangan capres-cawapres Jokowi-Jusuf Kalla, salah seorang petinggi PDI Perjuangan sudah mulai melakukan serangan politik kepada kubu lawannya. Sang petinggi saat itu memuji Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto, sebagai contoh tentara yang ideal. Wiranto disebutnya sebagai tentara yang meniti karir sampai tingkatan tertinggi. Wiranto adalah jenderal bintang empat, pernah menjadi Panglima TNI dan Menhankam. Dan yang lebih penting, katanya, Wiranto adalah tentara yang tidak pernah dipecat.

Pernyataan terakhir ini jelas sekali menyindir Prabowo, capres saingan Jokowi. Salah satu titik lemah yang sering diungkit-ungkit lawan-lawan politik Prabowo adalah indikasi keterlibatannya dalam kasus pelanggaran HAM berupa penculikan, penghilangan, dan pembunuhan terhadap para aktivis reformasi pada tahun 1997-1998. Pada saat itu, Prabowo yang memiliki jabatan sebagai pangkostrad dianggap paling bertanggung jawab atas segala macam tindakan pengamanan yang berlangsung. Akhirnya, Prabowo memang dinyatakan bersalah secara etika. Ia dipecat dari ketentaraannya. Yang kemudian dinyatakan bersalah secara hukum hingga dipenjara adalah para prajurit di lapangan dan sejumlah prajurit polisi.

Itulah konteks pernyataan petinggi PDI Perjuangan di atas. Baginya, Prabowo punya masa lalu yang kelam. Sebagai perwira TNI, ia sempat dinyatakan bersalah, hingga akhirnya dipecat. Artinya, ia adalah capres yang tak layak untuk dipilih.

Kritik adalah hal yang wajar dan bahkan seharusnya dilakukan. Kebenaran juga harus diungkap, meskipun sudah berlalu bertahun-tahun. Upaya mengkritisi dan mengungkap kebenaran adalah hal yang sangat mulia. Hanya saja, hal yang sangat mulia ini bisa menjadi hal yang buruk di sisi Allah SWT manakala dilakukan demi tujuan yang buruk. Kita tentu masih ingat kata-kata Sayidina Ali di Perang Shiffin manakala mendengar seruan pihak musuh yang meneriakkan slogan la hukma illa lillah (tiada hukum selain hukum Allah). Saat mendengar kata-kata itu, Imam Ali berkata, “Kalimatu haqqin yuraadu bihaa al-baathil (kata-katanya benar, tapi dimaksudkan untuk hal yang keliru)”

Niat buruk yang dibungkus dengan klaim-klaim yang mulia itu biasanya akan ketahuan dari inkonsistensi penutur dalam kata-kata dan perilaku. Jika hari ini ini dia bicara semulia itu, di hari lain dia akan bicara sesuatu yang berbeda. Itu karena sejak awal, kata-kata mulia itu memang bukan muncul dari niatan baiknya.

Di sinilah betapa sangat pentingnya konsistensi sebagai parameter kebenaran kata-kata yang diucapkan. Allah SWT sedemikian menekankan konsistensi. Di dalam surah Asy-Syura ayat 15, Dia berfirman: “Wastaqim kamaa umirta (tetaplah konsisten sebagaimana yang diperintahkan kepadamu).” Atau di ayat lainnya, Allah juga berfirman: “Walaa takuunuu kal-latii naqadhat ‘azlaha min ba’di quwwatin ankaatsa (janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benang yang sudah dipintalnya dengan kuat; lalu menjadi cerai berai kembali apa yang dia pintal itu).” (An Nahl: 92)

Festival inkonsistensi inilah yang kita saksikan dalam beberapa hari terakhir ini. Kepada pengkritik Prabowo kita ingin mempertanyakan konsistensi ucapan-ucapan mereka. Perlu diingat, Prabowo adalah calon yang diusung oleh PDI Perjuangan sebagai cawapres pada pilpres 2009 yang lalu. Jika memang Prabowo adalah penjahat dan punya aib besar, mengapa mereka dulu mengusungnya sebagai cawapres?

Sama seperti Jokowi, Prabowo bukanlah manusia tanpa cela dan kesalahan. Tapi, kritik yang disampaikan kepada mereka berdua tentulah harus berada pada konteks mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan membodohi dan merusak persatuan bangsa.(Editorial/LiputanIslam.com)

Baca sebelumnya: Menyoal Kampanye Negatif Pro-Prabowo

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL