letter

http://www.theguardian.com/world/2015/sep/28/saudi-royal-calls-regime-change-letters-leadership-king-salman

LiputanIslam.com — Tragedi Mina yang telah menewaskan ratusam korban jiwa tidak hanya mengguncang dunia Islam internasional, namun juga telah menimbulkan keretakan dalam keluarga Kerajaan Arab Saudi sendiri. Dilansir The Guardian (28/9/2015), cucu dari pendiri Arab Saudi, menyerukan agar dilakukan pergantian rezim di Riyadh.

Sang pangeran (yang namanya tidak disebutkan untuk alasan keamanan), menyampaikan kecaman karena di bawah pemerintahan Raja Salman, Arab Saudi menghadapi berbagai masalah yang serius, seperti anjloknya harga minyak, perang di Yaman, dan hilangnya kepercayaan atas pemerintah sekarang setelah terjadinya berbagai musibah selama musim haji.

Sang Pangeran juga menyatakan kepada The Guardian bahwa sejak bulan Januari 2015, terjadi keresahan di kalangan anggota kerajaan dan masyarakat luas ketika Raja Salman naik tahta.

“Raja tidak dalam kondisi stabil dan sebenarnya, anak raja (Mohammad bin Salman) yang memerintah kerajaan. Jadi, sekitar empat atau mungkin lima paman saya akan segera bertemu untuk mendiskusikan hal ini. Mereka membuat rencana untuk membuka peluang (pergantian rezim-red). Banyak generasi kedua yang merasa sangat cemas,” ujarnya.

Sang Pangeran juga mengungkapkan, bahwa rencana ini juga didukung oleh banyak kalangan, termasuk pemimpin suku. Menurutnya, mereka didesak untuk segera melakukan pergantian rezim, atau Kerajaan Arab Saudi akan hancur.

**

Sepeninggal Raja Abdullah, keluarga kerajaan Arab Saudi diliputi kabut gelap. Naiknya Raja Salman ke tampuk kekuasaan, diikuti dengan menguatnya anggota keluarga dari klan Sudairi di posisi penting pemerintahan. Pangeran Muqrim, didepak dari jabatannya sebagai Putera Mahkota dan digantikan oleh Pangeran Mohammad bin Nayef.

Ketika terjadi tragedi di Mina, media pertama yang menyiarkan bahwa Pangeran Mohammad bin Salman biang keladi musibah ini adalah Ad-Diyar, media berbahasa Arab yang berbasis di Lebanon. Media ini sendiri milik dari Pangeran Al-Waleed bin Talal. (Baca juga: Mengapa Ad Diyar, Media Milik Pangeran Al-Waleed Mengungkap Tragedi Mina?)

Seperti di ketahui, tragedi Mina telah menimbulkan pertanyaan, “Mampukah Arab Saudi mengelola pelaksanaan haji dan menjaga situs paling suci umat Islam?”

Dalam tragedi Mina, Arab Saudi menuding biang tragedi ini adalah jamaah haji asal Afrika, yang dikabarkan tidak disiplin dan melawan arus. Namun opini publik yang tertuang di berbagai media maupun di jejaring sosial, meragukan klaim tersebut.

“Orang-orang di dalam [kerajaan] tahu apa yang terjadi, tetapi mereka tidak bisa mengatakannya,” kata seorang aktivis yang tinggal di Mekah, yang tidak mau disebutkan namanya. Aktivis itu menuding pemerintah Arab Saudi mencoba melarikan diri dari tanggung jawab. (Baca juga: Netizen Desak Saudi Buka CCTV Tragedi Mina, Bagaimana Sikap Raja Salman?)

***

Saat ini, harga minyak menjadi salah satu masalah serius yang dihadapi Arab Saudi, yang telah anjlok 50% dari harga minyak tahun lalu. Pada hari Senin (28/09/2015), Financial Times melaporkan bahwa Arab Saudi telah menarik dana sebesar 70 miliar USD dari investasi luar negeri untuk menopang ruang fiskalnya yang rapuh akibat anjloknya harga minyak.

Menurut Alastair Newton, Direktur Alavan Business Advisory, anggaran Arab Saudi yang diterbitkan tahun ini didasarkan dengan estimasi harga minyak 90 USD per barrel. Namun sayangnya, akibat perang Yaman, kondisi keamanan yang tidak stabil akibat adanya ancaman terorisme, dan naiknya harga barang-barang, maka posisi keuangan Arab Saudi hanya stabil jika minyak dijual dengan harga 110 USD per barrel.

Sementara saat ini, harga minyak masih di bawah 50 USD per-barrel. Akibatnya, indeks Arab Saudi (Tadawul All Share), telah menurun hingga 30% selama 12 bulan terakhir.

“Mereka memiliki cadangan yang cukup untuk mempertahankan situasi ini untuk setidaknya satu tahun, meskipun hal ini sangat mahal bagi mereka,” kata Khairallah Khairallah, mantan redaktur pelaksana surat kabar al-Hayat milik Arab Saudi.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional sudah memprediksi defisit anggaran Arab Saudi melebihi $ 107 miliar tahun ini.

“Raja dan anaknya, Mohammad bin Salman, bertanggung jawab atas kebijakan minyak. Mohammed bin Salman juga bertanggung jawab untuk [perusahaan minyak negara] Aramco. Putra mahkota [Mohammed bin Nayef] fokus pada bidang keamanan. Mereka adalah pemain utama di Arab Saudi. Mereka membagi tanggung jawab,” kata Khairallah Khairallah.

***

Pangeran Mohammad bin Salman adalah ‘pendatang baru’ dalam tim kepemimpinan Arab Saudi, sekaligus paling kontroversial. Sebabnya, karena ia masih dianggap terlalu muda (35 tahun), tetapi telah memegang posisi penting di kerajaan, termasuk sebagai Menteri Pertahanan, dan Ketua Dewan Urusan Ekonomi dan Pembangunan, yang merupakan komite utama atas kebijakan ekonomi di kerajaan.

Posisinya ini menyebabkan ia bertanggung jawab untuk berbagai masalah yang tengah dihadapi Arab Saudi, termasuk perang di Yaman. Rakyat Saudi dikabarkan muak melihat pemerintahnya yang paling kaya di dunia Arab, menggempur negara yang penduduknya paling miskin, dan mengkritik Pangeran Mohammad bin Salman dengan memberinya julukan ‘Reckless’ – yang tergesa-gesa, tanpa memiliki strategi yang memadai ataupun solusi.

Surat dalam Bahasa Arab yang menyerukan penggulingan Raja Salman telah dibaca lebih dari 2 juta kali. Surat ini, menyerukan kepada putra-putra dari Raja Abdul Aziz yang masih hidup, seperti Pangeran Talal, Pangeran Turki, dan Pangeran Ahmed bin Abdul Aziz, untuk bersatu melakukan kudeta dan mengganti penguasa istana saat ini, sebelum memilih penguasa baru dari anggota kerajaan.

“Biarkan yang paling tua dan yang paling mampu untuk mengambil alih urusan negara. Kami menyerukan anak-anak Ibnu Saud, dari Bandar yang paling tua, sampai yang termuda, Muqrin, untuk membuat pertemuan darurat dengan anggota keluarga senior untuk menyelidiki situasi dan mencari tahu apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan negara, untuk melakukan perubahan di jajaran penting, yang memiliki keahlian, tanpa peduli dari klan manapun ia berasal.”

Pangeran Arab Saudi yang menulis surat ini, mengaku menerima dukungan luas baik dari dalam keluarga kerajaan maupun masyarakat pada umumnya. Tetapi, menurutnya, hanya ada satu anggota keluarga senior kerajaan yang mendukungnya secara terbuka, mengingat sejarah brutal Arab Saudi yang kerap menghukum lawan politik.

Seperti diketahui, gejolak internal Kerajaan Arab Saudi bukanlah hal baru. Sejarah mencatat, raja terkenal Saudi pada tahun 1964 yakni Raja Saud dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepada Faisal, setelah Faisal yang memimpin Garda Nasional mengancam kudeta militer. Raja Faisal sendiri dibunuh oleh keponakannya 11 tahun kemudian. Keponakannya itu dipancung tiga bulan setelahnya di depan kerumunan ribuan warga Arab Saudi di Riyadh. Sejak itu, suksesi di Kerajaan Arab Saudi sulit untuk ditebak, karena putra raja belum tentu menjadi putra mahkota. Apa yang akan terjadi pada Arab Saudi jika kudeta ini benar-benar terjadi? (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL