Ad diyar

Ad-Diyar milik Pangeran Al- Waleed

Oleh: Putu Heri

Sumber dari semua sumber berita nasional dan internasional yang menyatakan bahwa tragedi Mina terjadi karena jalanan yang dibelokkan karena Mohammad bin Salman, adalah Ad-Diyar, media berbahasa Arab yang berbasis di Lebanon. Berita dari media inilah yang lantas diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan setelahnya, Iran dan Syiah yang dituding menyebarkan berita ini untuk memojokkan Arab Saudi.

Pertanyaannya adalah, siapa pemilik media Ad-Diyar?

Menurut halaman Wikipedia, Ad-Diyar adalah media yang mulai beroperasi sejak tahun 1941, yang merupakan milik Pangeran Al Waleed bin Talal al Saud. Pangeran Al-Waleed merupakan putra dari Talal, yang lebih banyak berkecimpung di dunia bisnis. Ia dimasukkan sebagai orang terkaya nomor 34 sedunia oleh majalah Forbes. Ia juga diberitakan mendonasikan hartanya untuk kegiatan amal.

Jadi, mengapa media milik Pangeran Al- Waleed justru mengungkap penyebab tragedi Mina, dan bukan menutupinya? Bukankah ia dan Pangeran Mohammad bin Salman adalah saudara sepupu?

***

Konflik di Internal Keluarga Kerajaan Arab Saudi

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Nayef berasal dari klan Sudairi, dan naiknya Raja Salman sebagai Raja Arab Saudi menggantikan Raja Abdullah yang telah mangkat, telah diprediksi oleh para pengamat bahwa ia tengah berusaha untuk mengkonsolidasikan klan Sudairi ke dalam struktur kekuasaan. Mendiang Raja Abdulaziz memiliki tujuh orang anak laki-laki dari istrinya Hassa binti Ahmad al-Sudairi, yang kerap disebut sebagai Sudairi Seven.

house of saud

Sudairi Seven

Mereka, membentuk aliansi yang kuat untuk mendominasi panggung politik kerajaan, meskipun selama kepemimpinan Raja Abdullah, pengaruh dan kekuasaan klan Sudairi jauh melemah. Pangeran Mohammad bin Nayef diangkat sebagai Wakil Putera Mahkota pada 23 Januari 2015, dan naik sebagai Putra Mahkota pada 29 Apri 2015 menggantikan Pangeran Muqrin.

Jika menimbang bahwa faktor keturunan telah memainkan peranan penting dalam politik internal House of Saud, dapat disimpulkan bahwa kepentingan dan tujuan yang beragam akan terus bersaing untuk memperebutkan pengaruh dan dominasi. Dengan menempatkan klan Sudairi di posisi kunci seperti Putera Mahkota, Menteri Pertahanan, Wakil Menteri Perminyakan, dan Kepala Istana, maka Raja Salman telah mengamankan klan ini untuk terus berkuasa di tahun-tahun yang akan datang. Imbasnya, ketegangan untuk memperebutkan kekuasaan antara anak-cucu Raja Abdulaziz di internal House of Saud akan semakin meningkat.

Pangeran Muqrin yang sebelumnya menjabat sebagai Putra Mahkota, adalah putra dari raja Abdulaziz dengan istrinya Baraka al Yamaniah yang berasal dari Yaman. Sejak tanggal 26 Maret, Arab Saudi melakukan agresi militer ke Yaman, dan pada tanggal 29 April, Pangeran Muqrin dicopot dari jabatannya sebagai Putera Mahkota atas kehendak Raja Salman. Hal itu menuai banyak kritik baik dari dalam maupun luar negeri. Meski demikian, perang anti-Yaman paling banyak diprotes dan menimbulkan friksi di dalam tubuh rezim Al-Saud sendiri. Sejumlah pangeran Al-Saud secara terang-terangan mengungkapkan penentangannya atas serangan ke Yaman, termasuk Mutaib bin Abdullah, anak raja yang baru mangkat dan Pangeran Muqrin, yang juga mengungkapkan penentangannya secara transparan.

Karena adanya perselisihan dan perebutan kekuasaan di internal House of Saud, maka selalu ada kemungkinan politisasi atas sebuah peristiwa atau tragedi sebagaimana yang terjadi di Mina. Pada awalnya, siapa dalang tragedi Mina masih menjadi tanda tanya. Namun ketika berhembus kabar hal itu disebabkan oleh kedatangan Putra Mahkota sehingga jalan harus ditutup, maka dunia publik pun mulai mengecam Arab Saudi, dalam hal ini King Salman dan jajaran pemerintahannya, yang dianggap tidak mengutamakan keselamatan jamaah haji.

Tragedi ini juga semakin mencoreng wajah King Salman, karena dalam musim haji tahun ini, tragedi demi tragedi terjadi berulang kali. Mulai robohnya crane, tragedi Mina, dan yang terbaru, kebakaran di salah satu lobby hotel yang ditempati jamaah Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, bahwa hal ini menimbulkan banyak antipati, apalagi jika ditambah dengan invansi militer atas Yaman yang telah merengut ribuan korban jiwa.

Di lain pihak, Pangeran Al Waleed, melalu media miliknya, selain mengungkap tragedi Mina, pada Juli 2015 lalu, menyumbang kekayaan pribadi sebesar USD 32 miliar atau setara dengan Rp 426,7 triliun. Dana itu bakal dipakai untuk membantu di bidang kesehatan, pemberantasan penyakit, bantuan bencana, dan hak-hak perempuan.

Arab Saudi dikenal sebagai negara yang sangat membatasi hak-hak perempuan, dan Pangeran Al-Waleed juga peduli dengan isu ini. Dilansir oleh Leaders Online, Pangeran Al-Waleed mengungkapkan pentingnya peranan perempuan ini dalam pembangunan perekonomian suatu negara. Ia mengakui bahwa pemberdayaan perempuan di Arab Saudi belum sepesat yang diharapkannya. Tak ayal, kiprah Pangeran Al-Waleed ini tentu saja menuai pujian dan simpati baik dari dalam maupun luar negeri.

***

Saat ini, klan Sudairi masih memegang posisi penting di dalam jajaran pemerintahan. Namun secara terang-terangan maupun diam-diam, para anggota kerajaan lainnya pun tengah bergerilya, mencari peluang untuk saling mencongkel dan menjatuhkan. (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL