Tel Aviv, LiputanIslam.com—Berdasarkan sebuah laporan yang dikutip oleh Hareetz, Kementerian Militer Israel telah membentuk unit khusus dengan tugas menyembunyikan dokumen-dokumen yang menyimpan sejarah kelam tentang pengusiran penduduk asli Palestina.

Selanjutnya, surat kabar Israel itu melaporkan bahwa unit khusus yang disebut Malmab juga dikenal sebagai departemen khusus di kementerian militer. Malmab telah melakukan operasi selama dua dekade untuk menyembunyikan dokumen bersejarah di brankas rahasia.

Dokumen itu berisi tentang sejarah kelam Israel,  program nuklir,  hubungan luar negeri,  serta genosida dan pengusiran terhadap orang-orang Palestina. Dulu,  kata koran tersebut, dokumen-dokumen itu masih bisa diakses dan bahkan dikutip oleh beberapa peneliti.

Baca: Jurnalis, Kaum Yahudi Eropa di Israel Tidak Menyadari Pembantaian Palestina

Yehiel Horev, penggagas sekaligus pemimpin Malmab sampai tahun 2007 mengakui disembunyikannya dokumen terkait pengusiran 700.000 warga Palestina pada tahun 1948 yang dikenang sebagai “Hari Nakba” bertujuan untuk   menghindari pergolakan lebih lanjut dengan penduduk Palestina di kawasan itu.

Saat ditanya oleh Haaretz tentang motif dibalik penyembunyian dokumen yang sebelumnya pernah diterbitkan itu, Horev beralasan tindakan itu dilakukan untuk mendelegitimasi penelitian yang dilakukan tentang pengusiran warga Palestina dan menyangkal paparan dari para peneliti.

“Pertanyaannya adalah apakah itu bisa membahayakan atau tidak. Ini masalah yang sangat sensitif. Tidak semua masalah tentang pengungsi itu diterbitkan.   Ada yang bilang tidak ada penerbangan sama sekali, hanya pengusiran. Yang lain mengatakan ada penerbangan. Itu bukanlah hal yang bisa dinilai hitam-putih, “katanya.

Israel, Rezim Nazi Kedua?

Israel telah menegaskan bahwa eksodus massal warga Palestina, yang mengawali terbentuknya rezim Israel pada 1948, diakibatkan oleh para politisi Arab yang telah mendorong penduduk untuk meninggalkan wilayah tersebut.

Namun, dokumen-dokumen tersembunyi yang diungkapkan oleh laporan itu, menghadirkan narasi berbeda, mengakui bahwa sebanyak 70 % warga Palestina yang terlantar diusir dari tanah mereka sebagai akibat langsung dari operasi militer Yahudi.

Salah satu dokumen rahasia itu bahkan menggambarkan nama sekelompok pembunuh Yahudi,  yaitu Milisi Irgun dan Lehi. Kedua milisi ini terkenal karena peran mereka saat pembantaian di Desa Deir Yassin pada April 1948,  ratusan penduduk desa itu dilaporkan tewas.

Baca: Sejarah Al-Quds (4): Masa Nabi Musa Sampai Nabi Dawud

Menurut laporan itu , salah satu bukti yang menggambarkan terjadinya pembunuhan sistematis, penjarahan dan pelecehan yang kemudian disembunyikan oleh otoritas Israel, adalah sebuah dokumen yang menggambarkan penghancuran desa Safsaf Palestina tahun 1948, tempat negara Israel dibangun.

“Terdapat 52 warga Desa Safsaf ditangkap, diikat satu sama lain, lubang digali dan mereka ditembak. 10 orang dinyatakan masih berkedut. Para wanita dating dan memohon belas kasihan. Ada 61 mayat. 3 kasus pemerkosaan, 4 pria menembak dan membunuh, “tulis dokumen itu.

Satu dokumen tersembunyi yang merinci operasi pengusiran Yahudi menggambarkan serangan itu sebanding dengan tindakan Nazi.

Sejarawan pro-Zionis terkemuka, Benny Morris, telah meramalkan bahwa Israel akan hancur dalam waktu dekat, mengingat bahwa Israel tidak dapat lagi menaklukkan Palestina dengan menggunakan praktik-praktik diskriminatif terbuka yang didirikannya, dengan memberikan opini publik global yang semakin sensitif mengenai masalah tersebut.

Morris, bagaimanapun, dikenal sebagai pendukung setia pengusiran Israel terhadap Palestina.

Israel tidak akan ada tanpa tanpa pengusiran 700.000 warga Palestina. Tidak ada pilihan selain mengusir para penduduk itu,” kata Morris dalam wawancara dengan Haaretz pada 2004. (fd/Hareetz)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*