Tel Aviv, LiputanIslam.com—Jurnalis internasional, Andre Vltechek, menceritakan pengalamannya berkunjung ke Israel selama beberapa hari untuk mengetahui secara langsung situasi di negara Zionis itu. Apa yang ia temukan di sana sangat membuka mata.

Dalam tulisannya yang diunggah ulang oleh Mintpress News pada Selasa (28/5), Vltchek bercerita tentang perjalanannya ke Tel Aviv dan Yerusalem dengan kereta baru yang baru, modern, dan cepat. Di sana, ia berbicara dengan banyak penumpang, meminta mereka menjelaskan kondisi negara mereka, sistem politik mereka, dan sistem apartheid yang mereka junjung tinggi.

Kebanyakan dari kita bisa dengan mudah membayangkan bahwa warga Israel adalah orang jahat, brutal, dan penuh kebencian, melihat apa yang mereka lakukan terhadap Palestina. Namun, tulis Vltchek, ia sebaliknya melihat warga sipil Israel sebagai orang yang “pemalu, pendiam, dan sedikit kebingungan”. Mereka sangat “tidak peduli atas dunia di sekeliling mereka.”

Hal yang paling mengejutkan bukanlah kebrutalan mereka, tetapi ketidakpedulian dan keegoisan.

Vltchek menilai, ini semua bukan karena ‘kebanyakan dari mereka adalah Yahudi’, tetapi karena mereka adalah kaum Eropa.

Faktanya, sedikit orang yang tahu bahwa kebanyakan kaum Yahudi non-Eropa yang tinggal di Israel (yang berasal dari Maroko, Yaman, Etiopia, dan negara lainnya) diperlakukan seperti warga kelas bawah, atau bahkan lebih buruk.

“Israel adalah ‘pos utama’ Eropa di Timur Tengah. Pola pikir sebagian besar penghuninya seperti orang Eropa. Berbicaralah dengan orang-orang di Tel Aviv, Haifa, Bersyeba, serta wilayah non-religius di lingkungan Yahudi di Yerusalem, kemungkinan besar Anda akan sampai pada kesimpulan yang sama,” tulisnya.

“’Kesadaran politik’ orang kulit putih Yahudi-Eropa Israel berada pada tingkat yang sama dengan orang Eropa, yaitu mendekati nol,” tambahnya.

Jika Anda pergi berkunjung ke Inggris atau Prancis, Anda akan melihat bahwa warga di sana punya pola pikir yang sama dengan di Israel.

Inggris memiliki banyak pangkalan militer di luar negeri. Militer Negeri Ratu Elizabeth itu terlibat dalam beberapa ‘proyek’ brutal seperti pendudukan militer dan upaya penggulingan pemerintah asing. ‘Proyek’ ini telah membunuh jutaan orang tak bersalah setiap tahun. Jika Anda pergi ke Tate Modern, Covent Garden Opera, atau ke salah satu klub malam yang tak terhitung jumlahnya di London, cobalah berbicara kepada orang-orang lokal tentang ‘tradisi’ pembunuhan yang dilakukan negara mereka. Mereka akan menertawakan Anda, melawan Anda, atau bahkan mereka tidak akan mengerti apa yang Anda bicarakan.

Lakukan hal yang sama di Perancis, dan kemungkinan besar, hasilnya akan sama. Prancis terlibat dalam proyek-proyek neo-kolonialis di Afrika di mana jutaan orang dihancurkan dan dizhalimi. Namun, berapa banyak warga Prancis yang tahu? Dan jika mereka tahu, berapa banyak dari mereka yang peduli, apalagi mencoba menghentikan itu semua?

Demikian pula yang akan Anda temukan di Israel.

“Sebut saja Tel Aviv – kota terbesar di Israel. Ini adalah salah satu tempat terkaya di dunia, dengan infrastruktur yang lebih baik daripada di Amerika Utara atau Inggris, dengan insitutusi budaya seperti Museum Seni Modern, sebuah mahakarya yang dibangun oleh arsitek Preston Scott Cohen. Wilayah hijau Tel Aviv, ruang publiknya, semua itu bisa menjadikannya sebagai salah satu kota paling layak huni di dunia. Namun, untuk siapa [kemakmuran itu]? Berapa harga yang dibayar oleh orang-orang yang diperbudak, diasingkan, dan dieksploitasi di wilayah itu?” ungkap Vltchek.

 

Kebiasaan Warga Israel Menjustifikasi dengan Kata ‘Holocoust’

Vltchek menulis, setiap kali ia berdebat dengan warga Israel tentang kejahatan negara mereka, kata ‘Holocaust’ hampir pasti akan disebutkan.

“’Holocaust’ adalah satu kata yang ketika diucapkan, diharapkan akan mengakhiri semua argumen dan kritik terhadap Israel. Kata itu seperti kata sandi untuk membuat semua orang diam,” catatnya.

Holocaust adalah kejadian eksodus orang Yahudi dari Eropa ke Timur Tengah setelah berakhirnya Perang Dunia II. Orang Israel akan berargumen bahwa “jutaan orang Yahudi terbunuh, karena itu mereka memiliki hak penuh untuk pindah, atau dipindahkan, ke Timur Tengah!”

Namun, menurut Vltchek, menyebut Holocaust tidak boleh menjadi ‘akhir’ dari segalanya: disinilah seharusnya diskusi dimulai!

Kejadian Holocaust dilakukan oleh orang Eropa (Jerman dan juga beberapa sekutunya) melawan kaum Yahudi, Roma, dan Komunis. Jutaan orang meninggal dunia secara mengerikan. Lalu? Dengan cara-cara kolonialis Inggris yang kejam, para pelaku Holocaust malah mendapat hadiah. Jerman dibangun kembali sepenuhnya, sementara orang-orang Palestina (yang tidak dipedulikan oleh Inggris) dipilih sebagai orang yang harus membayar kejahatan Eropa itu.

“Mengapa kaum Yahudi tidak dihadiahi dengan wilayah Bavaria? Itulah tempat Hitler berasal. Di situlah para pendukungnya tinggal. Di situlah sejumlah pembunuhan mengerikan dilakukan… Jadi, mengapa tidak Bavaria, sebagai kompensasi? Kenapa harus Palestina?” tulis Vtchek.

Ia menjelaskan, alasan dari itu semua adalah karena Inggris dan AS menginginkan pos perkasa di Timur Tengah. Mereka juga menginginkan Jerman yang kuat dan terindustrialisasi lagi seperti sebelum dan selama Perang Dunia.

Kenyataannya, bukan kaum Arab, bukan Palestina yang membakar orang-orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi. Orang-orang Arab sebenarnya adalah sesama korban yang menderita berbagai kekejaman oleh kolonialisme Eropa.

Alih-alih menyatukan dua kelompok, dua korban, melawan rasisme, kolonialisme, dan imperialisme Eropa, Inggris dan sekutunya berhasil ‘memecah-belah dan memerintah’ kedua kelompok ini; sebuah taktik imperialis yang sudah mereka gunakan di seluruh dunia selama berabad-abad yang panjang.

 

Ketidakpedulian yang Mengerikan

“Yang menarik adalah, setiap kali saya mencoba membahas tentang Palestina, Dataran Tinggi Golan, Suriah, Iran, saya tidak menemukan kemarahan [dari orang Israel]. Apakah orang kulit putih, orang Israel-Eropa benar-benar membenci orang Palestina, Arab, Iran? Kesimpulan saya adalah: tidak, mereka tidak! Mereka tidak membeci karena orang-orang ini tidak peduli…,” catatnya.

Dari hasil pengamatan Vltchek, bagi warga Israel, pengeboman di Suriah dan penembakan orang Palestina hanyalah seperti video game. Kejahatan-kejahatan itu bukan urusan pribadi mereka.

“Anda tahu, ketika saya di sana, warga Tel Aviv sedang terobsesi dengan sepeda listrik baru. Jalur sepeda penuh dengan mereka. Siapa yang peduli dengan Palestina?

Museum penuh sesak, orang-orang mengantri berjam-jam untuk pameran terbaru. Konser di mana-mana. Bagaimana dengan Suriah? Lupakan saja! Kudapan Falafel sedang jadi tren di banyak kafe. Musisi-musisi klasik berlatih di depan publik, dengan piano-piano mahal, di stasiun kereta baru di Yerusalem…”

Vltchek mengaku ia selalu terpukau dengan infrastruktur Israel, tetapi bukan kepada siapa yang dilayani. Afrika Selatan, selama apartheid, membangun beberapa jalan raya terbesar di dunia—untuk orang kulit putih. Kaum lain terpaksa hidup di selokan. Begitu pula yang terjadi di Israel.

Selama berabad-abad, kaum Yahudi disiksa, dihina, dan dibunuh oleh orang Eropa fanatik yang rasis. Sekarang, alih-alih bergabung dengan sesama korban, dengan kekuatan progresif, Yahudi-Israel asal Eropa ikut bergabung dengan barisan penindas imperialis. Mereka bergabung dengan mantan penyiksa mereka.

“Sekarang, mereka melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan bukan karena mereka adalah orang Yahudi, tetapi karena mereka orang Eropa,” tutup Vltchek. (ra/mintpress)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*