situs radikalJakarta, LiputanIslam.com — Maraknya kembali peredaran video anggota teroris transnasional ISIS asal Indonesia yang mengancam TNI, Polri, Densus dan Banser, akhirnya ditindaklanjuti oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dengan mengeluarkan surat perintah bagi Internet Service Provider (ISP) untuk menghalau peredaran situs ISIS.

Menurut Kepala Humas dan Pusat Informasi Kementerian Kominfo Ismail Cawidu, perintah blokir dari Kominfo paling anyar dikeluarkan untuk empat video ISIS di YouTube dan satu situs yang mengakomodir misi ISIS. (Baca: WNI Calon Anggota ISIS, Ingin Gaji Besar)

Ismail mengungkapkan, permintaan penyegelan konten ISIS telah disampaikan langsung ke YouTube, dan satu situs juga sudah dilaporkan ke ISP lokal untuk dihadang aksesnya. Hanya saja, menurut dia, saat ini permintaan blokir tersebut belum direspon YouTube karena masih dalam situasi libur Natal dan tahun baru.

“Kementrian akan terus memantau sepak terjang ISIS di ranah internet Indonesia, karena ISIS menentang keberadaan NKRI,” jelas Ismail, seperti dilansir detik.com, 27 Desember 2014. (Baca: Ini Situs Yang Harus Diblokir)

AS Hikam: Kebohongan yang Diulang, Akan Dianggap Sebagai Kebenaran

Professor Muhammad AS Hikam, pengamat politik dari President University menilai, semestinya pemerintah dan aparat keamanan serta organisasi masyarakat sipil seperti NU dan Muhammadiyah meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap maraknya propaganda melalui jagad maya (cyber propaganda).

“Jika diabaikan, penyebaran video-video semacam itu akan makin marak dan apabila diulang-ulang penayangannya bisa berpengaruh bagi khalayak. Sebab, mengikuti sebuah idiom dalam dunia propaganda, bahwa jika kebohongan diulang-ulang terus maka lama kelamaan ia bisa dianggap sebagai kebenaran,” tulisnya di media sosial. (Baca: ISIS Ancam Bantai TNI, Polri, Densus 88 dan Banser)

Menurut Hikam, di negara-negara dengan sistem komunikasi terbuka, model propaganda seperti ini mudah dijumpai. Dan Indonesia, tambah dia, termasuk negara yang sangat terbuka dan hampir susah untuk menghindari kemungkinan menyebarnya penggunaan jejaring sosial untuk propaganda.

“Yang diperlukan adalah kewaspadaan dan keseriusan dalam menyikapi dan menindak ancaman seperti Islam garis keras ini. Jangan malah menganggap sebagai masalah remeh, apalagi balik menuding pihak lain seakan-akan kelompok-kelompok seperti ISIS itu cuma bualan saja, atau hasil rekayasa Barat semata. Kelompok garis keras adalah nyata wujudnya dan memiliki kemampuan penetrasi ideologis dan praksis yang tak bisa diremehkan. Lebih baik sedia payung sebelum hujan, ketimbang sudah basah kuyup baru menyesali,” tutupnya.

Beberapa waktu yang lalu, pemerintah memblokir situs Papua Post, karena dinilai melakukan provokasi untuk keluar dari NKRI. Dilain sisi hingga detik ini, berbagai situs pendukung ISIS, dan teroris lainnya seperti Al-Qaeda, Boko Haram, Taliban, dan lainnya, masih tetap dibiarkan eksis. (Baca: Situs Papua Post Diblokir Kominfo)

Salah satu situs penyebar berbagai kegiatan dan propaganda ISIS, diantaranya adalah shoutussalam.com. Sejak awal, situs ini bahkan menerbitkan atau menyediakan E-book yang bisa didownload secara gratis untuk menyebarkan ideologinya. Acapkali, situs yang digawangi oleh Muhammad Fachry ini menyajikan konten kekerasan, seperti fatwa-fatwa yang menganjurkan untuk melakukan penggal kepala kepada seseorang yang dianggap murtad.

Setali tiga uang, situs arrahmah.com, voa-islam.com, panjimas.com, juga menyajikan konten serupa. Namun hingga hari ini, semuanya masih tetap eksis. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL