GCC dan hizbullahLiputanIslam.com – Dewan Menteri Dalam Negeri Liga Arab dalam deklarasi penutupan sidangnya yang ke-33 di Tunis, ibu kota Tunisia, Rabu (2/3), menyebut Hizbullah sebagai kelompok teroris. Di hari yang sama, statemen serupa juga dikeluarkan oleh Dewan Kerjasa Teluk (Gulf Cooperation Council /GCC) yang terdiri atas enam negara Arab sekitar Teluk Persia, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Oman.

Harus diakui bahwa pengaruh kerajaan Arab Saudi sangat luar biasa di beberapa negara Arab, tapi itu bukan berarti rezim petrodoمlar ini dapat dengan mudah menggalang konsensus Arab anti gerakan pimpinan Hassan Nasrallah yang berbasis di Lebanon tersebut. Sebaliknya, obsesi Saudi itu dapat dipastikan kandas.

Sebagaimana dikabarkan koran Lebanon al-Safir, banyak komponen masyarakat dan partai di berbagai negara Arab menentang keras deklarasi anti Hizbullah tersebut.

Saudi semula mengatasnamakan GCC dalam merilis deklarasi anti Hizbullah, tapi kemudian juga membawa-bawa nama Dewan Menteri Dalam Negeri Arab di akhir sesi pertemuan ke-33 dewan ini di Tunis, dengan tujuan dapat memantapkan klaim bahwa Hizbullah adalah kelompok teroris. Padahal, opini yang berkembang di Lebanon maupun di kawasan Timteng sejak dulu sampai sekarang tidaklah seperti apa yang diharapkan oleh klan Saudi yang memang sangat membenci Hizbullah.

Sepak terjang Saudi menggalang konsensus Arab semaunya sendiri bukan baru sekarang kandas. Pada pertengahan Desember 2015, Wakil Putera Mahkota merangkap Menteri Pertahanan Saudi Mohammad bin Salman bin Abdulaziz juga dengan congkaknya tiba-tiba mendeklarasikan apa yang disebutnya “Aliansi Islam Anti Terorisme”, tapi deklarasi itu ternyata hanyalah isapan jempol belaka setelah terbukti bahwa beberapa negara besar Islam tidak tahu menahu soal pembentukan aliansi ini.

Sekarangpun, “konsenses Arab” di Tunisia ternyata juga tak lebih dari kemufakatan dinasti al-Saudi dengan beberapa rezim Arab sekutunya. Betapa tidak, Tunisia yang menjadi tuan rumah pertemuan Dewan Menteri Dalam Negeri Arab itu, seperti dilaporkan al-Safir, tidak memandang Hizbullah sebagai organisasi teroris.
Aljazair, apalagi Irak, menolak aksi ugal-ugalan anti Hizbullah di bawah komando Saudi tersebut. Dua negara ini memilih aksi walk out, sedangkan Lebanon sendiri menyatakan protes dan menolak bergabung dengan aksi yang digalang Saudi cs .

Mengenai Mesir, al-Akhbar menyebutkan keterangan sumber di Kementerian Luar Negeri Mesir yang memastikan bahwa Kairo tidak akan memutuskan hubungannya dengan Hizbullah, sementara persetujuan Mesir dengan statemen anti Hizbullah itu adalah demi membeli suara Saudi dalam pemilihan sekjen Liga Arab mendatang.

Ketua Partai al-Karama Mesir, Mohamed Sami, menyayangkan terorisasi Hizbullah dalam Deklarasi Tunis serta memandang Hizbullah sebagai simbol perlawanan Arab terhadap Israel.

“Hizbullah adalah satu-satunya pihak Arab yang berhasil memaksa Israel mempertimbangkan kembali ambisinya, dan kekuatan Hizbullah dalam resistensi dan muqawamah-lah yang membuat para pejabat Israel tak nyenyak tidur,” katanya.

Hizbullah sendiri belum lama ini mengirim delegasi ke Mesir untuk mengikuti acara belasungkawa atas wafatnya cendekiawan Muslim Mesir Mohammad Husain Haykal.

Di mata dunia, Hizbullah yang sejak awal dibentuk untuk melawan Zionisme Israel juga tak seperti yang harapkan klan al-Saud. Rusia, misalnya, jelas-jelas tidak memandang Hizbullah sebagai kelompok teroris. Moskow bahkan sudah pernah menegaskan Hizbullah bukan organisasi teroris, dan karena itu Rusia justru bersekutu dengan Hizbullah dalam perang melawan terorisme di Suriah.

Di Lebanon, semua faksi yang menjadi mitra Hizbullah, termasuk Gerakan Amal yang dipimpin Nabih Berri, ketua parlemen Lebanon, menegaskan penolakan mereka terhadap statemen anti Hizbullah tersebut.

Suleiman Frangiyeh, pemimpin Gerakan Marada, menyatakan bahwa orang-orang yang bersekutu dengan Saudi di Lebanon dan turut mencalon diri dalam pemilu presiden Lebanon juga ikut menentang statemen tersebut. Menurutnya, mereka bahkan memandang Hizbullah sebagai gerakan yang telah mengangkat martabat Lebanon dan bangsa-bangsa Arab lainnya, dan mengingatkan bahwa terorisasi Hizbullah itu hanya akan memuaskan Rezim Zionis Israel.

Tanggapan serupa juga dinyatakan oleh Gerakan Kebebasan Patriotik pimpinan Menteri Luar Negeri Lebanon Gebran Bassil.
“Beberapa sekutu Saudi sendiri di Lebanon juga menentang terorisasi Hizbullah, dan sebagian di antara mereka sebelumnya juga memilih aksi diam di depan badai serangan Saudi terhadap Hizbullah,” ungkap Bassil.

Liga Arab Menyalahi Prosedur

Menteri Dalam Negeri Irak Mohammad al-Ghabban mengatakan bahwa sidang para menteri dalam negeri Arab di Tunis menyalahi prosedur, karena teks deklarasi tiba-tiba dibagi-bagikan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya kepada siapapun sehingga juga praktis tidak tergodok dalam sidang komisi.

“Sebagai protes atas kejadian ini kami mundur dari sidang,” katanya, seperti dilansir IRNA.

Gempita Penolakan di Tunisia Sendiri

Di Tunisia sendiri yang menjadi tuan rumah pertemuan tersebut asosiasi pengacara negara ini yang empat anggotanya telah menyabet Hadiah Nobel pada tahun 2015 juga mengecam keras terorisasi Hizbullah.

Sindikat buruh Tunisia juga tak mau ketinggalan menentang deklarasi Tunis anti Hizbullah. Mereka justru menegaskan bahwa Hizbullah merupakan simbol perlawanan nasional sehingga terorisasi Hizbullah jelas merupakan upaya untuk memecah belah dan menghancurkan Dunia Arab serta merupakan bentuk pelayanan terhadap negara-negara reaksioner Arab dan kaum Zionis.

Berbagai komponen masyarakat lain serta partai di Tunisia juga tergerak menentang terorisasi Hizbullah, termasuk Partai Demokrasi Bersatu, Partai Demokrasi Sosial, Kongres Tunisa untuk Hak Ekonomi dan Sosial, Komisi Perhormatan Kebebasan dan HAM, Asosiasi Kebangkitan Demokrasi dan Kewargaan, dan Front Rakyat. Mereka ramai-ramai merilis pernyataan protes dan penolakan mereka serta menyebut terorisasi Hizbullah sebagai “tikaman dari belakang terhadap kubu perlawanan anti takfiri dan Zionis.”

Demikianlah realitas yang ada tentang Hizbullah di mata kalangan yang tak tersilaukan oleh gemerlap harta dan istana raja-raja minyak Arab. Karena itu, Menteri Luar Negeri Tunisia Khamis Al-Jehinawi dalam wawancara dengan al-Hiwar yang juga dilansir oleh kantor berita resmi negara ini, TAP, mengatakan bahwa deklarasi Tunis itu hanya sebatas statemen sehingga tidak mengikat. Dan ini menunjukkan bahwa Saudi cs lagi-lagi berusaha memaksakan dagelan kotornya kepada khalayak Arab dan dunia demi pelampiasan sebuah kebencian. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL