milisi al-houthi yamanLiputanIslam.com – Yaman belum lama ini sempat diriuhkan oleh kecamuk pertempuran yang berlangsung selama beberapa hari antara pasukan pemerintah dan massa demonstran yang digerakkan oleh gerakan Ansarullah atau yang lebih dikenal media dengan sebutan kelompok Syiah al-Houthi. Kecamuk itu mereda setelah jatuh korban tewas sekitar 200 orang dan milisi Ansarullah pada Ahad 21 September berhasil menguasai banyak pusat pemerintahan serta stasiun radio dan televisi di Sanaa, ibu kota Yaman.

Tak tanggung-tanggung, Ansarullah juga berhasil memaksa mundur Perdana Menteri Mohammad Salim Basindwa yang kemudian disusul dengan penandatanganan perjanjian antara pemerintah dan Ansarullah. Dalam perkembangan terbaru yang dilaporkan Rabu (24/9), Presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi mulai menerapkan sebagian isi perjanjian, yaitu menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan mengangkat para penasehat presiden dari gerakan Ansarullah dan kelompok separatis di selatan negara ini (Gerakan Selatan).

Sejak awal Agustus 2014, milisi Syiah al-Houthi mulai menggerakkan aksi unjuk rasa damai di sekitar gedung-gedung kementerian menuntut pemulihan subsidi BBM sekaligus reformasi politik. Aksi yang kemudian berubah menjadi konfrontasi berdarah itu lantas berujung pada kesepakatan untuk meredakan krisis dengan mediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sesuai kesepakatan yang diteken di istana presiden itu, pemerintahan baru akan dibentuk dan presiden harus segera mengangkat penasehat dari kelompok al-Houthi dan kelompok separatis Yaman selatan. Selain itu, dalam penunjukan perdana menteri baru, presiden harus bermusyawarah dengan semua partai dan pihak yang turut menandatangani perjanjian tersebut. Perjanjian itu tak pelak memperbesar pengaruh al-Houthi di gelanggang politik Yaman. (Baca: Situasi Ibu Kota Yaman Memulih Pasca Penandatanganan Perjanjian Damai)

Kelompok al-Houthi tidak sampai mendesak supaya Presiden Hadi mundur, meskipun mereka menganggapnya sebagai sekutu AS, negara yang dimusuhi oleh al-Houthi. Namun demikian, membesarnya pengaruh al-Houthi dalam pemerintahan Yaman tentu menjadi pemandangan yang menyakitkan bagi rezim Arab Saudi yang sudah banyak mengalirkan bantuan dana ke Yaman dalam beberapa tahun terakhir, apalagi Ansarallah di mata Riyadh merupakan perpanjangan tangan Iran dan sudah beberapa kali terlibat konfrontasi dengan tentara Saudi. Hanya saja, sejauh ini Saudi terlihat berhati-hati dan belum menunjukkan reaksi terhadap pendudukan al-Houthi terhadap banyak instansi pemerintah Yaman di Sanaa.

Pergerakan Kelompok al-Houthi

Milisi al-Houthi sudah terlibat perang melawan pemerintah pusat sejak 10 tahun silam dengan tujuan mendapat status otonomi lebih besar untuk daerah asal mereka, provinsi Saadah di bagian utara Yaman. Kelompok ini juga aktif di bidang pemikiran dan gigih melawan penyebaran Salafi/Wahabi di Yaman serta eksis pertama kali sebagai gerakan pemikiran dan politik pada tahun 1991.

Pada tahun 1993 pemimpin mereka, Hussain al-Houthi, lolos masuk ke dalam parlemen serta mendirikan Partai al-Syabab al-Mu’min (Pemuda Beriman) dengan tujuan melawan pengaruh Wahabisme yang diketahui mewabah akibat kepulangan para ekstrimis Salafi Yaman dari Afghanistan. Namun pada tahun 2004 Hussain al-Houthi terbunuh di tangan pasukan keamanan pemerintah.

Presiden Yaman saat itu, Ali Abdullah Saleh, sebenarnya juga bermazhab Syiah Zaidiyah sebagaimana kelompok al-Houthi. Namun, karena banyak mendapat bantuan dari Arab Saudi, dia malah memarginalisasi mazhab itu dan membukakan peluang bagi eskalasi pengaruh kelompok-kelompok takfiri Salafi. Kaum Salafi yang didanai oleh Arab Saudi terus menguat dan berpengaruh dalam pemerintahan sehingga banyak universitas dan pesantren Syiah Zaidiyah tersisihkan dan terbatasi aktivitasnya, dan inilah yang kemudian menjadi pemicu munculnya gerakan al-Houthi.

Gerakan ini terlibat konfrontasi pertama kali dengan pasukan pemerintah pada tahun 2004, dan saat itulah pemimpinnya, Hussain al-Houthi, terbunuh di tangan pasukan pemerintah.

Kelompok al-Houthi secara resmi menyatakan hasratnya untuk terlibat dalam aktivitas partai dan pendirian universitas, serta mendesak pemerintah supaya Syiah Zaidiyah diakui oleh pemerintah sebagai salah satu mazhab resmi di Yaman.

Pemimpin kelompok al-Houthi (Ansarallah), Abdel Malik al-Hothi

Kelompok ini sekarang dipimpin oleh Abdel Malik al-Houthi. Dengan bantuan beberapa rekan sepemikirannya di Partai Syabab al-Mu’min dia terus mencetak banyak kemamjuan dalam memimpin kelompok ini.

Dewasa ini kalangan Syiah Zaidiyah di Yaman terbagi menjadi dua kelompok pendapat keagamaan; sebagian besar cenderung kepada kepada Syiah Imamiyyah (Itsna Asyariyyah), dan sebagian kecil masih tetap bertahan pada pandangan yang dekat dengan pandangan Ahlussunnah. Keterbelahan itu mulai berproses sejak peristiwa kemenangan revolusi Islam Iran.

Hussain al-Houthi memopularkan tradisi peringatan hari Asyura yang sebelumnya tidak popular di kalangan Syiah Zaidiyah dan menjadikan Muharram sebagai bulan duka cita serta membawa banyak hal lagi yang semula tidak ada dalam budaya setempat.

Sejak adanya gerakan al-Houthi ketegangan antara kelompok Syiah Itsna Asyariyyah dengan kelompok Syiah Zaidiyah jauh berkurang. Kelompok al-Houthi bahkan mendirikan sebuah organisasi Persatuan Syiah Semenanjung Arab yang meghimpun semua elemen Itsna Asyariyah dan Zaidiyah.

Di pihak lain, kedekatan Ali Abdullah Saleh dengan Arab Saudi melicinkan perluasan pengaruh kaum Wahabi di Yaman, terutama di parlemen, walaupun sebenarnya jumlah mereka sangat kecil di negara ini. Kondisi ini bahkan juga sangat meresahkan kaum Sunni Yaman.

allamah badreddin al-houthi

Allamah Badreddin al-Houthi

Sebagaimana penduduk yang bermazhab Syiah, penduduk Yaman yang bermazhab Syafi’i dan menempati posisi mayoritas di negara ini juga sangat terusik oleh sepak terjang Wahabi yang kaku dan cenderung takfiri (mudah mengafirkan lawan pendapat) sehingga sebagian kelompok Syafi’i Yaman memilih bergabung dengan kelompok al-Houthi dalam beberapa kali pertempuran melawan pemerintah Yaman.

Setelah Hussain al-Houthi terbunuh, ulama sepuh Syiah Allamah Badruddin al-Houthi (wafat: 25 November 2010 M/18 Dzulhijjah 1431 H) hijrah dari Sanaa ke Saadah. Meski sudah berusia lanjut, yakni sekitar 90 tahun, dia yang memang aktif mengajarkan mazhab Istna Asyrariyah memegang komando perang untuk kedua kalinya antara milisi al-Houthi dan pasukan pemerintah.

Perang ketiga berkobar setelah pasukan pemerintah menyerang pangkalan-pangkalan milisi al-Houthi dengan dalih demi pembebasan beberapa tentara yang ditawan oleh milisi al-Houthi. Saat itu rezim Abdullah Saleh puas dengan hasil perang tersebut. Perang keempat dan kelima juga dikobarkan pemerintah dengan dalih yang sama. Namun pada perang kelima pasukan pemerintah kewalahan karena konflik merebak hingga ke empat provinsi lain, yaitu Jouf, Hajjah, Amran dan Sanaa. Pemerintah tak dapat memenangi pertempuran walaupun sudah mengerahkan pasukan khusus. Karena itu Abdullah Saleh lantas mengumumkan gencatan senjata secara sepihak dan menarik pasukan dari semua medan pertempuran.

Perang keenam terjadi pada tahun 2009-2010. Selain menyerang milisi al-Houthi, pasukan pemerintah Yaman saat itu juga menggempur milisi al-Qaeda dan milisi separatis di bagian selatan Yaman, tetapi kemudian mereda setelah pemerintah dan kelompok al-Houthi memilih penyelesaian melalui jalur perundingan.

Dalam pertempuran di Yaman tentara Arab Saudi juga disebut-sebut terlibat serangan terhadap milisi al-Houthi. Sebagian pengamat bahkan menyebutkan perang di Yaman adalah perang secara tidak langsung antara Arab Saudi dan Iran, tapi alasan mereka hanyalah karena sebagian pemimpin al-Houthi bersikap pro Iran dan cenderung pada mazhab Syiah Itsna Asyariyyah.

Bersambung…

(mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL