Assad

Presiden Suriah Bashar al Assad

LiputanIslam — Jauh jauh hari Presiden Suriah Bashar al Assad sudah memperingatkan kepada negara-negara yang mendukung terorisme di Suriah, bahwa pada suatu hari nanti mereka akan membayar untuk kebijakan yang mereka ambil.

“If the Europeans deliver weapons, then Europe’s backyard will become terrorist-like, and Europe will pay the price for it. Terrorists will become battle-skilled and return laden with extremist ideology”

Assad memprediksi dua hal:

1. Eropa akan membayar sebuah harga atas dukungannya  mempersenjatai jihadis Suriah

2. Para jihadis yang sudah pernah merasakan pertempuran di Suriah akan pulang dengan keahlian bertempurnya, sekaligus telah terpengaruh oleh ideologi yang ekstrim.

Arab Saudi yang dilanda ketakutan jika kelak para jihadis  mereka kembali ke negaranya, buru buru mengeluarkan dekrit yang salah satu isinya adalah mencegah para jihadis di perbatasan Turki. Lalu bagaimana dengan jihadis asal Eropa yang juga hendak pulang kampung setelah berpetualang di Suriah?

Inilah yang sedang terjadi hari ini.  Sekitar 250 jihadis Inggris telah kembali ke Inggris setelah menjalani pelatihan dan pertempuran di Suriah. Kepada Sunday Times, jajaran pejabat di bidang keamanan mulai khawatir para jihadis ini akan melakukan serangkaian serangan di Inggris.

Menurut data yang dimiliki oleh kementrian Inggris, kurang lebih 400 warga negaranya telah berangkat ke Suriah untuk berjihad. Berbagai bentuk jihad untuk Suriah banyak dilakukan oleh negara Inggris, baik yang langsung terjun ke Suriah, atau membantu jihadis berangkat ke negeri Syam terdebut  sampai menggalang dana untuk biaya peperangan.

Dinas keamanan Inggris telah memonitor 250 jihadis yang  kembali ke rumahnya, yang di dalamnya meliputi beberapa kelompok garis keras pensiunan dari peperangan di  Afghanistan atau Pakistan. Telah banyak kejadian dimana seseorang yang telah menjalani pelatihan menggunakan amunisi/senjata,  keterampilannya tersebut digunan untuk melakukan aksi teror. Sir Bernard Hogan-Howe, seorang petinggi kepolisian di London menyatakan;

“There are a few hundred people going out there. They may be injured or killed, but our biggest worry is when they return they are radicalized, they may be militarized, they may have a network of people that train them to use weapons.”

Sedangkan ketakutan Inggris ada 3:

1. Jihadis akan menjadi radikal ketika pulang ke tanah airnya

2. Jihadis telah memiliki keahlian di bidang militer (bertempur)

3. Jihadis dikhawatirkan sudah terhubung dengan jaringan orang-orang yang melatih mereka menggunakan senjata (teroris internasional)

Siapa yang menabur angin, dia yang akan menuai badai. Mungkin pepatah ini tepat untuk melukiskan efek dari dukungan negara Eropa, Amerika dan juga Arab dalam mempersenjatai dan mengimpor jihadis untuk memerangi Suriah. Tidak seperti Libya yang mampu mereka taklukkan dalam waktu singkat, Suriah yang telah tiga tahun lamanya mereka perangi tidak menunjukkan tanda-tanda kalah, malah kondisinya berbalik. Suriah dengan SAA, NDF, dan dukungan dari muqawwama Hizbullah kini berada di atas angin.

Sebelumnya,  Al-Alam melaporkan bahwa jihadis asal Inggris di Suriah yang sedang dilatih oleh Al- Qaeda ternyata tidak hanya diprogram  untuk melawan pemerintahan Suriah, tetapi juga untuk melakukan serangan ala kelompok garis keras jika mereka pulang kelak. Menurut wawancara yang dilakukan oleh British Daily Telegraph pada bulan Januari 2014,  seorang jihadis yang telah membelot dari ISIL menyampaikan bahwa jihadis  lain yang direkrut dari Eropa dan Amerika Serikat juga sedang dilatih untuk membuat bom mobil sebelum kembali ke kampung halamannya dan akan memulai membentuk aksi teror. Mereka sering membicarakan tentang serangan teroris.

“Kami  bangga dengan peristiwa  9/11 dan pemboman London. Para mujahidin Inggris , Perancis dan Amerika di dalam suatu ruangan mulai berencana untuk melakukan bom bunuh diri di tempat tertentu di Eropa dan Amerika Serikat.

. “Jihadis dari  Amerika mengatakan bahwa dia bermimpi meledakkan Gedung Putih.”

Secara keseluruhan, diperkirakan ada sekitar 2.000 warga Eropa saat ini diyakini pertempuran di Suriah. Jihadis Inggris di Suriah yang sudah malang melintang di dalam peperangan menggunakan jejaring sosial seperti twitter dan facebook  untuk memikat  dan merekrut anak muda Inggris yang masih hijau.

Para ekstremis di Suriah ini memposting aksi mereka seperti membunuh dalam bentuk  video dan foto di situs yang dikunjungi setiap hari oleh jutaan remaja Inggris. Di video lain, para jihadis juga  berpose di gurun Suriah dengan  memegang senjata,  mereka secara terbuka memberikan informasi tentang bagaimana merekrut jihadis baru dan bagaimana caranya melakukan perjalanan ke Suriah dengan aman untuk bergabung dengan mereka di zona perang. Untuk yangmasih ragu, mereka berusaha meyakinkan bahwa memasuki Suriah dari Turki amatlah mudah.

Lalu Indonesia?

Indonesia tidak ketinggalan dalam berpartisipasi dalam perang Suriah. Kelompok Islam garis keras yang bercita- cita hendak menegakkan khilafah di Bumi Syam pun ikut memenuhi seruan ‘jihad suci’ . Sementara mereka yang tidak mampu untuk berjihad di Suriah, dengan sukarela membaiat Amirul Mukminin ISIS sebagai pemimpinnya. Akankah Indonesia akan menjadi Suriah kedua? Tergantung, bagaimana pemerintah Indonesia bertindak menyikapi kelompok ekstrem yang dalam ideologinya, hanya mereka yang paling benar.  (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL