LiputanIslam.com –   Timteng belakangan dihebohkan oleh kejutan demi demi kejutan yang menyesakkan dada AS dan sekutunya di Semenanjung Arab dan kawasan Teluk Persia. Rangkaian kejutan itu diawali dengan insiden serangan dan sabotase terhadap tujuh kapal tanker minyak, kemudian disusul penyitaan kapal tanker Inggris, gempuran pasukan drone kamikaze Yaman ke ladang minyak al-Shaybah milik Arab Saudi, dan lalu serangan Yaman ke bandara-bandara Abha, Jizan, dan Najran di Arab Saudi yang membuatnya aktivitas penerbangan di bandara-bandara ini sempat lumpuh.

Sekarang, kejutan terbaru adalah pengakuan pemerintah AS atas keberhasilan Pasukan Pertahanan Udara Yaman merontokkan drone AS jenis MQ-9 seharga puluhan juta Dolar AS dengan rudal canggih di angkasa provinsi Damar di tenggara Sanaa, ibu kota Yaman.

Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman Brigjen Yahya Saree menegaskan bahwa rudal yang digunakan untuk merontokkan drone itu adalah buatan lokal yang akan diumumkan pada konferensi pers dalam waktu dekat.

Baca: Usai Penyelidikan, Pentagon Akan Respon Insiden MQ-9 di Yaman

Peristiwa ini tak pelak menandai satu perkembangan krusial yang bukan saja menimbulkan kegamangan AS melainkan juga mengerikan bagi aliansi militer Saudi-Uni Emirat Arab (UEA). Sebab, penembak jatuhan drone itu membawa pesan penting kepada semua pihak bahwa angkasa Yaman tidak lagi aman dan terbuka bagi penerbangan pesawat semau mereka seperti sebelumnya.

Sejak lebih dari 10 tahun silam, drone AS dapat berkeliaran dengan bebas di angkasa Yaman, termasuk untuk menebar maut dengan dalih memerangi jaringan teroris Al-Qaeda. Lantas untuk apa drone AS malang melintang di angkasa provinsi Damar, sedangkan Al-Qaeda bercokol di provinsi-provinsi selatan Yaman?

Keberadaan drone AS di Yaman, dengan alasan apapun, merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Yaman, apalagi menjalankan misi spionase yang alih-alih berkaitan dengan Al-Qaeda justru semata untuk menghimpun informasi militer Yaman dan pasukan Ansarullah (Houthi) demi kepentingan aliansi Saudi-UEA terkait invasi militer mereka ke Yaman dengan dalih memulihkan pemerintahan presiden terguling Abd Rabbuh Mansour Hadi.

Komando Pusat AS merilis statemen berisi kecaman terhadap Iran dan menyebut dukungan negara republik Islam kepada Ansarullah sebagai ancaman bagi stabilitas Timteng. Padahal, apa yang dilakukan oleh komando ini di Yaman tak kalah gencarnya dengan penerbangan pesawat yang dilakukan oleh aliansi Saudi-UEA yang tak kenal henti menebar bom selama perang Yaman yang sudah memasuki tahun kelima.

Baca: Drone MQ-9 AS Tertembak Jatuh di Yaman, Pentagon Salahkan Iran

Segala cara sudah mereka lakukan, namun harapan mereka untuk merebut Sanaa dan menundukkan Ansarullah tetap sebatas isapan jempol. AS juga tak sanggup membalas penembak jatuhan pasukan Iran terhadap drone kebanggaan AS yang telah melanggar zona udara Iran, sebagaimana juga tak berdaya melindungi kapal tanker minyak sekutu terdekatnya, Inggris, yang digelandang oleh pasukan Iran ke pelabuhan Bandar Abbas, Iran selatan.

Api perang Yaman menjalar ke lengan AS, dan segala ancaman dan intimidasi AS, baik di Yaman maupun di kawasan Teluk Persia, sama sekali tidak menakutkan musuhnya. Tak seperti pada dekade-dekade silam, sekarang AS-lah yang justru tampak tertekan, gamang, dan tak berdaya mengendalikan perkembangan situasi. Parahnya lagi, Iranfobia yang menjadi andalan AS untuk menutupi kedoknya dalam menebar ketegangan juga sudah tidak efektif.

AS sudah tak berwibawa dan menakutkan siapapun, kecuali para sekutunya sendiri di kawasan Teluk. Sedangkan kubu lawan AS, bukannya takut, malah menjadi bahaya besar bagi AS. Betapa tidak, drone AS seharga lebih dari US$ 200 juta telah dirontokkan oleh pasukan Iran dengan rudal yang harganya hanya sekian ribu Dolar. Peristiwa ini juga menjadi pukulan telak bagi industri militer AS dan menguak kelemahannya.

Di Yaman, setelah Pasukan Pertahanan Udara yang identik dengan Ansarullah merontokkan drone MQ-9 milik AS, Yahya Saree memperparah mimpi buruk AS dengan bersumbar bahwa Yaman masih akan terus menyajikan kejutan demi kejutan di masa mendatang, yang pahit bagi AS dan sekutunya di Yaman, kawasan Teluk Persia, dan bisa jadi pula di kawasan Laut Merah.

Pasalnya, selama ini selalu terbukti bahwa Ansarullah tidak sekedar bersumbar dan mengumbar slogan, melainkan kerap membuktikan apa yang mereka katakan, merealisasikan apa yang mereka ancamkan, termasuk menggempur ladang minyak al-Shaybah dan jalur pipa minyak Timur-Barat Saudi, dan sekarang merontokkan drone canggih MQ-9 milik AS.

Karena itu, bukan tak mungkin bahwa kejutan-kejutaan selanjutnya akan lebih besar, dan bisa jadi pula bahwa rudal-rudal seperti yang dipakai oleh Ansarullah itu juga sudah atau akan jatuh ke tangan kelompok-kelompok muqawamah (resistensi) lainnya di Timteng, yaitu Hamas dan Jihad Islam di Jalur Gaza, Hizbullah di Lebanon selatan, dan pasukan relawan al-Hashd al-Shaabi di Irak. (mm/raialyoum)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*