syeikh al-nimr saudiLiputanIslam.com –   Mengapa Arab Saudi tiba-tiba menghukum mati sedemikian banyak orang dalam satu waktu? Apa sebenarnya motif yang ada dalam benak rezim Saudi? Apakah ada kekeliruan dalam membuat pertimbangan?

Jika hukuman mati  terhadap 47 tersangka teroris di Arab Saudi itu ditujukan untuk meneror orang-orang lain agar mereka tidak melancarkan aksi protes, atau serangan, atau kekerasan terhadap rezim beserta semua institusi dan kepentingannya, maka  reaksi yang ada dan dampak-dampaknya justru akan membuat hukuman itu menjadi bumerang bagi Saudi.

Jelas bahwa era baru Saudi yang digalang Riyadh sejak Salman bin Abdulaziz bertahta ialah “era ketegasan” , penerapan kebijakan tangan besi, dan  pengabaian terhadap kebijakan kompromistik yang sempat diterapkan oleh raja-raja sebelumnya. Perubahan ini mulai dijalankan dengan menabuh genderang perang di Yaman untuk menumpas aliansi Houthi –  Salehi dengan dalih demi membendung pengaruh Iran.

Dinasti al-Saud mengawali tahun 2016 dengan menghukum mati sekian banyak orang dan dengan jumlah yang terbesar sejak tahun 1980 di mana Saudi mengeksekusi 63 ekstrimis Islam pimpinan  Juhayman al-Otaybi yang telah menduduki  Masjidil Haram.

Ketegasan memang perlu dan urgen, asalkan waktunya tepat, didukung dengan kekuatan dan komponen yang memadai, serta berbasis strategi yang solid dan di tengah iklim regional dan internasional yang kondusif. Sayangnya, rezim Saudi tidak memenuhi semua atau sebagian besar syarat ini.

Jelas tidak bijak jika Saudi dalam satu waktu yang sama terlibat dalam dua perang, satu di Suriah dan yang lain di Yaman, dengan dalih demi menghadang pengaruh Iran, apalagi ketika pengaruh Iran ini diperkuat oleh adanya kesepakatan nuklir Teheran dengan negara-negara P5+1 yang berkonsekuensi pada pencabutan embargo terhadap Iran yang sudah berlangsung hampir 30 tahun.

Demikian pula ketika negara sebesar Rusia dengan segala kekuatan militer dan politiknya berdiri tegar di belakang pemerintah Suriah dan terlibat langsung dalam perang melawan kelompok-kelompok pembangkang bersenjata, ketika pendapatan minyak turun drastis, dan ketika kebijakan sekutu lama Saudi, Amerika Serikat, mulai gontai tak menentu.

Hukuman mati terhadap 46 orang Sunni terdakwa ekstrimis penganut faham al-Qeada, pelaku aksi protes dan pelaku aksi peledakan langsung maupun tak langsung antara tahun 2003 hingga 2006 tak lain merupakan upaya menutupi hukuman mati terhadap Syeikh Nimr al-Nimr, ulama Syiah yang didakwa sebagai penggerak aksi protes damai untuk menuntut penegakan demokrasi dan HAM seiring dengan revolusi-revolusi Arab Spring lain, termasuk revolusi di Suriah yang getol didukung Saudi. Namun upaya ini tidak akan dapat menyembunyikan realitas dan tak akan sanggup meredam kemarahan kaum Syiah. Tak hanya itu, tindakan Saudi itu bahkan bisa jadi menyatukan – untuk pertama kalinya- “dua kemarahan” Sunni dan Syiah sekaligus serta memicu reaksi balas dendam para ekstrimis dari kedua belah pihak.  syeikh al-nimr saudi2

Kita tentu mengutuk teroris pembunuh orang-orang tak berdosa serta pengacau keamanan dan stabilitas, tapi di saat yang sama kita dapat membedakan mana terorisme dan mana gerakan demi kebebasan, reformasi, dan hak untuk memrotes kezaliman, penindasan, korupsi dan penistaan kebebasan.  Atas dasar ini kita menolak hukuman mati yang diterapkan oleh Kerajaan Arab Saudi ketika hukuman itu keluar dari sistem pengadilan yang sama sekali tidak merepresentasikan norma dan mekanisme keadilan. Karena itu kita menentang penerapan hukuman itu terhadap 47 terdakwa dalam penjara di 12 kota Saudi pada Sabtu pagi (2/1/2016)

Semua orang yang dihukum mati itu tidak diproses di mahkamah yang adil. Mereka jelas tak mungkin dapat membela diri dalam sistem peradilan yang telah menjatuhkan hukuman cambuk plus penjara 10 tahun terhadap orang yang hanya sekedar berkicau di halaman Twitter, dan sistem peradilan yang melarang seorang penyair perempuan menulis dan berekspresi di media selama 15 tahun, dan itupun atas instruksi seorang emir suatu kawasan, bukan dari mahkamah resmi, dan hanya lantaran sebait syair dari orang yang memang penyair dan budayawan.

Penindasan, pengucilan dan represi di Kerajaan Arab Saudi adalah satu-satunya praktik yang boleh dibilang bertolak bukan dari faktor mazhab dan sektarianisme, karena praktik itu memang tidak membedakan antara Sunni dan Syiah ketika perkaranya adalah tuntutan kebebasan, reformasi dan keadilan. Hanya saja, harus diakui bahwa kalangan minoritas Syiah adalah pihak yang paling tertindas, sekian dekade mengalami diskriminasi, dan dianggap sebagai warga kelas 2 yang diragukan loyalitasnya. Orang yang enggan mengakui realitas ini jelas congkak dan sengaja mengabaikan fakta.

syeikh al-nimr saudi3Mungkin terlalu dini untuk menebak apa yang akan terjadi, tapi hampir pasti bahwa hukuman mati itu akan mengundang reaksi keras yang bisa jadi akan fatal bagi keamanan dan stabilitas Saudi serta membuatnya tertimpa tangga setelah selama ini terjatuh. Kasus ini menambah tumpukan berkas perkara terkait dengan penistaan Saudi terhadap kebebasan, keadilan, dan HAM.

Musuh terbesar rezim Saudi sebenarnya justru berasal dari sulbi pemerintahannya sendiri, yaitu orang-orang yang getol menjalankan praktik-praktik tersebut, yang telah banyak mengundang krisis serta mengobarkan perang di dalam dan di luar negeri yang selama ini baru sekedar pendahuluannya dan bisa jadi akan berkelanjutan hingga sekian dekade.

Perang di luar negeri telah menelan banyak korban manusia serta menimbulkan beban biaya keuangan, politik dan militer, namun jika perang sampai terjadi di dalam negeri sendiri tentu akan jauh lebih fatal dan berimbas pada semua sektor, apalagi ketika meledak di waktu yang salah; ketika rakyat sedang terdera krisis ekonomi dan manakala angka pengangguran terus membengkak.

Orang-orang yang dijatuhi hukuman mati terdiri atas orang-orang yang berpengaruh di tengah rakyat serta memiliki pendukung sektarian di dalam maupun di luar negeri. Kita tidak yakin bahwa pihak-pihak yang telah mengambil keputusan hukuman mati itu telah membuat perhitungan yang matang dan jitu. Ini sama dengan ketika mereka membuat keputusan untuk terlibat dalam perang di luar negeri, terutama di Yaman.

Alhasil, hari-hari depan akan berat dan bahkan sangat berat bagi Kerajaan Arab Saudi.

(Artikel ini diterjemahkan dari artikel pada rubrik “Iftihiyyah” (Pembukaan) pada media online Rai al-Youm, London, Inggris, Sabtu 2 Januari 2016)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL