LiputanIslam.com –   Perang Yaman mengalami tahap eskalasi baru belakangan ini setelah kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) dan para sekutunya menggunakan pesawat-pesawat nirawak (drone) berbahan peledak dengan skala intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya, untuk menyerang bandara dan berbagai sasaran vital lain di wilayah Arab Saudi, terutama Jizan dan Najran yang tak jauh dari perbatasan selatan, serta stasiun pompa minyak di sebelah barat Riyadh.

Jubir pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi, Kolonel Turki al-Maliki, mengaku sangat prihatin atas eskalasi ini sembari menyebut serangan drone itu sebagai “aksi teror” dan mengancam akan membalasnya dengan “tindakan militer”.

“Kami tidak akan membiarkan ada aksi-aksi teror melalui peluncuran drone dengan sasaran sipil dan sendi-sendi vital,” ujarnya.

Baca: Yaman Lancarkan Serangan Mematikan ke Wilayah Arab Saudi

Dia tidak menjelaskan tindakan militer yang akan ditempuh pasukan koalisi. Tapi yang jelas, tindakan militer yang selalu dilakukan Saudi dan sekutunya selama lima tahun terakhir ini ialah melancarkan serangan udara dengan jet-jet tempur canggih tipe F-16 dan F-15 dengan berbagai sasaran yang bukan hanya militer melainkan juga sipil semisal rumah sakit, gedung sekolah, tempat acara takziyah, dan tempat resepsi pernikahan, sehingga mereka mendapat kecaman internasional, dan bahkan sejumlah negara, termasuk Jerman, Spanyol, dan Kanada, menyatakan menghentikan penjualan senjata masing-masing kepada Saudi demi menghindari penggunaannya terhadap warga sipil.

Baca: Drone Yaman Ledakkan Sistem Rudal Patriot Saudi di Najran

Drone berbahan peledak menjadi senjata baru yang ampuh di tangan Ansarullah yang juga mengoleksi rudal-rudal balistik mutakhir dengan kemampuan yang bahkan dapat mengecoh radar di darat. Karena itu, selanjutnya drone bisa jadi akan rutin digunakan Ansarullah untuk membalas serangan pasukan koalisi terhadap sasaran sipil di Yaman.

Baca: Rakyat Yaman Gelar Upacara Pemakaman Massal untuk Para Korban Serangan Saudi di Sana’a

Ketua Komisi Tinggi Revolusi Yaman, Mohammad al-Houthi, mengingatkan bahwa untuk pembalasan tersebut terdapat lebih dari 300 target militer yang telah diidentifikasi dan dapat dibom sewaktu-waktu di wilayah negara-negara anggota pasukan koalisi. Video rekaman serangan drone Ansarullah ke Bandara Internasional Abu Dhabi yang terjadi setahun yang lalu namun baru dipublikasi telah memberikan pesan yang sangat jelas.

Baca: Ansarullah Yaman Rilis Video Detik-Detik Serangan Nirawaknya Ke Bandara Abu Dhabi

Video itu memperlihatkan lesatan drone di bandara yang kemudian di susul dengan ledakan hebat. Namun, hal lain yang tak kalah krusialnya ialah terkait pengambilan gambar-gambar itu dengan kamera yang dipasang di dalam bandara, yang mengindikasikan pelanggaran keamanan yang serius.

Ansarullah  tidak merinci ihwal “bank sasaran” yang dia sebutkan, tapi sumber-sumber Yaman mengungkapkan bahwa sasaran itu antara lain bandara internasional, pabrik desalinasi, kilang dan pompa minyak, dan pembangkit listrik. Jika target ini benar-benar digempur maka ini menjadi bencana politik dan ekonomi nyata.

Baca: Setelah Rilis Video Serangan Drone Ke UEA, Ansarullah Yaman Keluarkan Ancaman Baru

Tanpa memberikan penjelasan, Kolonel al-Maliki mengklaim pihaknya telah menggagalkan lebih dari 35 “aksi teror” Ansarullah di Selat Bab al-Mandab dan Laut Merah selatan. Dia hendak mengesankan adanya ancaman besar bagi navigasi internasional di perairan vital yang dilintasi oleh sekitar lima juta barel minyak minyak ekspor itu.

Kembali kepada Perjanjian Stockholm untuk gencatan senjata, dan memulai negosiasi serius untuk mencapai solusi politik adalah solusi terbaik untuk menenangkan situasi dan meredakan eskalasi dan pertumpahan darah, terutama karena perang sudah tidak lagi terbatas di wilayah Yaman seperti yang diinginkan Saudi dan sekutunya. Pihak Ansarullah yang semula dianggap lemah dan akan terbasmi dalam waktu singkat ternyata justru semakin kuat dan dapat memberikan serangan balasan yang menyakitkan negara-negara musuhnya hingga ke tahap yang bahkan mengacaukan keamanan, stabilitas, dan pertumbuhan ekonomi mereka.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian menyebut konflik di Yaman sebagai “perang kotor” dan menyerukan kepada Arab Saudi dan UEA agar menghentikannya.  Permintaan atau saran ini sudah seharusnya mereka perhitungkan baik-baik karena datang justru dari negara sekutu mereka yang bahkan juga merupakan salah satu sumber persenjataan terpenting mereka.

Alhasil, kelanjutan perang Yaman sudah tidak lagi sejalan dengan interes Saudi dan UEA, dan malah kontraproduktif, karena Ansarullah yang semula mereka remehkan ternyata sanggup memberikan perlawanan yang sengit, dan hebatnya lagi, dengan biaya dan resiko yang minim. Dan fakta sejarah yang juga patut diingat ialah bahwa belum pernah ada kekuatan militer masuk ke Yaman kemudian keluar sebagai pemenang. Karena itu, Saudi dan sekutunya tampaknya juga  mengalami nasib sama setelah masuk ke Yaman dan menginvasi negara jiran mereka ini. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*