LiputanIslam.com – Rezim Zionis penjajah Palestina, Israel, berkoar bahwa pihaknya mulai melancarkan operasi militer bersandi “Perisai Utara” dengan misi penghancuran terowongan kelompok pejuang Hezbuollah di bawah tanah perbatasan utara Israel.

Operasi itu diumumkan militer Israel secara masif, Selasa (4/12/2018), ketika  Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kian terbelit kasus-kasus dugaan korupsi dan lain-lain. Karena itu, operasi militer tersebut lebih merupakan modus Netanyahu untuk berkelit dari kasus-kasus itu dan mencoba mengantisipasi dampaknya yang bisa jadi akan menamatkan riwayat politiknya, meskipun Israel memang dihantui oleh terowongan-terowongan maut.

Juru bicara militer Israel, Letkol Jonathan Conricus, mengklaim telah mengungkap salah satu terowongan kelompok militan Lebanon ke wilayah Israel, sementara Netanyahu mengatakan dalam pidato televisi Selasa lalu bahwa terowongan itu dibangun oleh Hizbullah dengan dana dari Iran.

Israel dilanda ketakutan ihwal terowongan para pejuang Lebanon dan Gaza sehingga bertolak ke Brussel, menjumpai Menlu AS Mike Pompeo dan memintanya membantu Israel, beberapa jam menjelang pengumuman dan pemberitaan masif tentang dimulainya operasi “Perisai Utara”.

Pembuatan terowongan Hizbullah, Hamas, dan faksi-faksi pejuang Palestina lain didukung dengan skill dan teknologi yang bisa jadi juga dipakai di Dataran Tinggi Golan yang belakangan sedang dipersiapkan oleh para pejuang sebagai front untuk pertempuran mendatang dengan Israel.

Sejauh ini belum ada respon dari Hizbullah terkait dengan operasi Perisai Utara, dan kemungkinan besar memang dibiarkan selagi operasi itu berjalan di wilayah Israel (Palestina pendudukan 1948), dan jika Hizbullah harus bereaksi maka tindakan yang akan dilakukanpun bukan lagi mengandalkan terowongan semata, melainkan melalui mesin-mesin peluncur rudalnya yang berpresisi tinggi, berjumlah ratusan ribu, dan terus meningkat dari waktu ke waktu.

Terowongan rahasia sudah lama dikabarkan dibuat dengan sangat mahir oleh Hizbullah untuk mengganyang Israel dalam perang mendatang. Bahkan konon hal ini juga diterapkan oleh kelompok pejuang Islam ini di Gaza, Suriah, Yaman, dan bisa jadi pula di Irak.

Ketekunan Hizbullah dalam penggalian terowongan memperkuat satu teori yang mengatakan bahwa Hizbullah berniat membebaskan kawasan Galilee (al-Jalil) dari cengkraman Zionis dalam perang mendatang, sebagai persiapan untuk pembebasan kawasan pendudukan lainnya.

Alhasil, Israel sekarang adalah rezim pendudukan yang diselimuti kecemasan dari berbagai aspek. Mereka sangat tertekan oleh keberadaan Iran di Suriah, oleh eksistensi Hizbullah di Golan, oleh keberhasilan Hizbullah membangun pabrik-pabrik rudal, oleh intensitas kerjasama Hizbullah dengan gerakan-gerakan perlawanan Palestina di Gaza, dan oleh keberhasilan Hizbullah menyupai para pejuang Palestina dengan rudal Kornet hingga Israel bersedia menerapkan gencatan senjata dalam tempo kurang dari 48 jam pada konfrontasi terbarunya dengan para pejuang Gaza.

Dan satu lagi, Israel juga mengalami mimpi buruk berupa keberhasilan tentara Suriah memiliki sistem pertahanan udara S-300 yang terbukti mengubur riwayat kesewenang-wenangan angkatan udara Israel terhadap zona udara Suriah.

Seorang wartawan Arab mengatakan kepada ketua redaksi media online Rai al-Youm, Abdel Bari Atwan, mengatakan, “Lebanon dan Jalur Gaza tak sampai 1% dari total luas dan populasi penduduk dunia Arab. Meski demikian, keduanya telah menyebabkan kehinaan, ketakutan, dan kekalahan Israel yang tercatat sebagai pasukan terkuat ke-4 di dunia. Bukankah ini merupakan puncak inovasi? Bukankah ini keajaiban?” (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*