irak isilLiputanIslam.com – Sudah lebih dari satu pekan Irak diguncang serangan militan Daulat Islam Irak dan Suriah (ISIS). Jatuhnya beberapa kawasan di Irak utara dalam waktu singkat ke tangan kelompok ekstrim bersenjata tersebut menyita perhatian khalak regional Timur Tengah dan bahkan masyarakat global.

Headline berbagai media regional Timur Tengah, demikian pula media Barat banyak diwarnai berita, analisa dan opini seputar kemelut Irak. Dalam hal ini, tak sedikit di antara sekian banyak media itu, termasuk al-Arabiya dan al-Jazeera, terlihat menjalankan strategi dan kebijakan tersendiri dalam menyorot perkembangan situasi Irak sehingga memperkuat indikasi adanya grand design di balik aksi fenomenal ISIS di Irak.

Kebijakan tertentu yang diterapkan oleh media itu cenderung menyudutkan Irak. Lembaga pemberitaan FNA menyimpulan kebijakan itu dalam empat poin sebagai berikut;

Pertama, penyebaran secara meluas dan berlebihan gambar-gambar terkait aksi pembantaian yang dilakukan milisi ISIS di berbagai wilayah Irak yang dikuasainya. Tujuannya ialah; 1. Menciptakan ketakutan di tengah masyarakat Irak, dan ini membantu target-target yang hendak dicapai ISIS; 2. Membangkitkan Islamfobia di tengah khalayak Barat.

Kedua, memberikan warna sektarian pada aksi pengacauan keamanan ISIS di Irak. Tujuannya; 1. Mengobarkan konflik sektarian dan bernuansa aliran atau mazhab di Irak; 2. Mengusik upaya para tokoh Irak memberikan pencerahan kepada masyarakat untuk membedakan kelompok takfiri Salafi/Wahabi dengan Ahlussunnah Waljamaah; 3. Mengadu domba dan mengoyak persaudaraan antara Ahlussunnah dan Syiah; 4. Melemahkan proses persatuan antar kelompok dan mazhab di Irak; kelima, menghalangi pengaruh alim ulama dalam upaya mempersatukan bangsa Irak.

Ketiga, menutupi perselisihan yang terjadi ISIS dengan 12 kelompok militan lain yang bersekongkol dengannya. Tujuannya; 1. Mencegah terulangnya kembali pertikaian antar sesama kelompok teroris Suriah di Irak; 2. Mencegah kekacauan di pihak kelompok-kelompok militan di depan serangan pasukan pemerintah Irak; 3. Mencegah terungkapnya gerakan transnasional yang ada di balik aksi kaum militan.

Partai Baath yang merupakan partai sekular dan pernah berkuasa di Irak di bawah pimpinan diktator terguling Saddam Hossein menentang keras penerapan “hukum syariat” oleh ISIS. Ini menandakan bahwa ISIS bermaksud menerapkan undang-undang syariat ala kelompok radikal Taliban di Afghanistan.

Keempat, mengesankan Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki sebagai biang kekacauan. Tujuannya; 1. Merancukan antara isu keamanan dan isu politik demi tercapainya target-target politik tertentu; 2. Menekan posisi dan daya tawar Maliki dalam pembentukan pemerintahan Irak yang akan datang; 3. Memaksakan agenda-agenda asing terhadap rakyat Irak yang sudah mengkristal dalam pemilu yang baru diselenggarakan di Irak; 4. Melemahkan pribadi dan mental Maliki agar tidak memegang lagi jabatan perdana menteri. 5. Membangun opini bahwa Maliki tidak mampu mengendalikan situasi keamanan pasca penarikan pasukan Amerika Serikat dari Irak. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL