LiputanIslam.com – Di tengah perhatian publik Arab dan Israel terhadap operasi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) bersandi “Perisai Utara” untuk memusnah terowongan maut Hizbullah di wilayah perbatasan Israel-Lebanon, kawasan Tepi Barat mengalami eskalasi dan mendekati titik rawan ledakan militer yang jika terjadi maka akan menjurus pada pecahnya lagi skenario intifada bersenjata bangsa Palestina.

Dua operasi serangan pejuang Palestina telah menimbulkan ketakutan pada orang-orang Israel;

Pertama, operasi yang dilancarkan pemuda bernama Ahsraf Naaluh pada dua bulan lalu di kawasan industri Burkan yang berada di daerah konsentrasi warga Zionis dekat kota Salfit, Tepi Barat. Serangan ini menewaskan dua warga Zionis dan menciderai satu lainnya.  Hebatnya, sepak terjang Israel untuk meringkus atau menghabisi Ahsraf Naaluh sampai sekarang belum membuahkan hasil.

Kedua, operasi yang dilancarkan oleh sekelompok pejuang bersenjata di dekat permukiman Zionis Ofra di utara kota Ramallah beberapa hari lalu. Mereka menyerang sebuah posisi warga Zionis dengan melepaskan tembakan hingga melukai tujuh orang Zionis, kemudian melenggang dengan tenang meninggalkan lokasi, dan sampai sekarang belum tertangkap.

Peristiwa ini mencemaskan orang-orang Israel bukan saja karena para pejuang Palestina telah menggunakan senjata api seintensif itu, melainkan juga karena operasinya telah dilancarkan dengan rencana yang matang dan rapih. Dalam operasi di Ofra, pelakunya tampak tidak gentar melihat keberadaan pasukan yang menjaga warga Zionis. Pelaku melepaskan tembakan sesuai rencana dan menjadi bukti keberanian dan tekad pejuang Palestina.  

Hamas tampak sedang mengelola strategi untuk menciptakan kobaran di Tepi Barat demi meringankan tekanan terhadap Jalur Gaza, menyasar warga Zionis, dan menyulitkan polisi otoritas Palestina yang masih terlibat koordinasi dengan pasukan Israel.

Gadi Eizenkot, Kepala Staf Umum IDF, dalam sebuah rapat belakangan ini mengingatkan kabinet negara Yahudi ilegal ini bahwa Hamas telah memindah operasi militernya ke Tepi Barat. Menurutnya, Hamas telah melancarkan 10 serangan sejak September lalu di berbagai lokasi yang terpencar di Tepi Barat. Jumlah ini tergolong besar pada periode tenang yang sudah berjalan beberapa bulan.

Data resmi Israel mencatat bahwa 10 warga Zionis tewas dan 76 lainnya terluka akibat serangan para pejuang Palestina sejak awal tahun ini. Data ini menunjukkan pukulan telak bagi sistem keamanan Israel, dan geliat keras operasi para pejuang muqawamah (resistensi) Palestina.  

Keberhasilan para pelaku operasi di Ofra dan Burkan melancarkan serangan tanpa terkena serangan tentu menjadi inspirasi bagi orang-orang Palestina lainnya untuk mengikuti jejak mereka. Penggunaan senjata api, di samping penabrakan mobil dan penikaman dengan senjata tajam, menandakan adanya peningkatan penyelundupan senjata api ke Tepi Barat, dan ini bisa jadi merupakan pendahuluan untuk penyelundupan teknologi pembuatan rudal ke kawasan ini.

Tindakan rezim-rezim Arab menelantarkan bangsa Palestina dan mengupayakan terbukanya pintu normalisasi hubungan dengan Israel semakin menajamkan keyakinan bangsa Palestina untuk mandiri serta kembali kepada jalur resistensi bersenjata dan mengupayakannya di kawasan Tepi Barat di mana warga Palestina dan warga imigran Zionis relatif membaur secara geografis.

Karena itu, bukan tak mungkin konfrontasi di masa mendatang akan berkobar di Nablus, al-Khalil (Hebron), Jenin, Tulkarm, Ramallah serta berbagai kota dan daerah lain di Tepi Barat sebagai bentuk reaksi penolakan bangsa Palestina terhadap normalisasi hubungan Arab-Israel. (mm/raialyoum)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*