LiputanIslam.com –   Apakah Iran akan membuktikan ancamannya dan kembali memperkaya uranium dengan skala tinggi pada Ahad mendatang? Butuh waktu berapa lama Iran untuk dapat membuat bom nuklir seandainya negara republik Islam ini menghendakinya?

Presiden Iran Hassan Rouhani, Rabu 3 Juli 2019 mengancam bahwa negaranya akan menambah volume pengayaan uraniumnya melebihi batas yang disepakati dalam perjanjian nuklir multilateral tahun 2015, yakni 3,67 persen, dan akan menambah cadangan uraniumnya melebihi batas 300 kilogram sejak Ahad 7 Juli mendatang jika tidak ada peringanan sanksi ekonomi terhadap Iran.

Tanggal tersebut penting karena merupakan batas akhir 60 hari ultimatum Iran kepada negara-negara Eropa penandatangan perjanjian nuklir agar meng-cover sanksi AS. Pertemuan Wakil Menlu Iran Abbas Araghchi dengan delegasi negara-negara Eropa tersebut di Wina, Austria, pekan lalu tampaknya gagal menghasilkan jaminan Eropa seperti yang diharapkan Iran.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump yang menarik diri secara total dari perjanjian itu dan kemudian menerapkan sanksi terhadap Iran untuk memaksanya bernegosiasi guna mencapai kesepakatan baru sesuai persyaratan AS malah mengancam Iran dengan sanksi-sanksi besar jika Iran berhenti konsisten kepada perjanjian nuklir. Betapa pongahnya, dia sendiri keluar dari perjanjian itu tapi kemudian hendak memaksa Iran tetap konsisten kepadanya.

Baca: Trump Minta Iran “Berhati-Hati dengan Acaman”

Iran memerlukan 1050 kilogram uranium yang telah diperkaya rendah untuk mendapatkan bibit yang akan menghasilkan bom nuklir, dan volume pengayaannya dapat ditingkatkan hingga 90 persen serta hanya perlu tersedia 25 kilogram uranium saja untuk dapat memproduksi bom itu, menurut para ahli.

Pada tahun 2015 di mana Iran dan enam negara terkemuka dunia meneken pejanjian nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) cadangan uranium yang diperkaya Iran untuk tujuan damai sesuai ketentuan internasional sekitar 10,000 kilogram, dan 98 persen di antaranya diboyong keluar negeri. Tapi Iran sekarang memiliki 19,000 unit mesin sentrifugal yang dapat menghasilkan volume tersebut atau bisa jadi lebih tinggi lagi  dalam tempo beberapa minggu saja, sebagaimana disebutkan oleh para pakar di majalah AS Foreign Policy.

Iran memiliki kemampuan dan keahlian menghasilkan bom nuklir dalam jangka waktu satu tahun, tapi mengaku tidak akan berusaha membuatnya sesuai fatwa haram pemimpin besarnya,Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei. Tapi pihak lain boleh saja tak percaya kepada pengakuan Iran maupun fatwa tersebut.

Dunia sekarang dihadapkan pada menguatnya kemungkinan konfrontasi militer antara Iran dan AS, terutama setelah hari Ahad mendatang. Negara-negara Eropa enggan memenuhi tuntutan Iran untuk meringankan sanksi ekonomi sebelum ultimatum itu berakhir, sementara Iran hampir mustahil akan menarik ancamannya itu.

Mengenai pembatalan serangan AS pada menit-menit terakhir ke tiga situs rudal dan nuklir Iran sebagai balasan atas penembak jatuhan drone pengintai AS oleh Iran, kekhawatiran Israel kepada besarnya reaksi Iran adalah penyebab pembatalan itu. Dan kekhawatiran itu bisa jadi membesar setelah Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran Mojtaba Zolnoor bersumba bahwa Israel akan musnah hanya dalam tempo setengah jam jika AS menyerang Iran.

Panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami, Rabu 3 Juli 2019, mengatakan kepada kantor berita Iran bahwa keperkasaan militer Iranlah yang memaksa Trump membatalkan misi militernya terhadap Iran.

Dia mengatakan, “Dalam situasi saat ini pihak musuhlah yang takut terhadap pecahnya perang, dan ketakutan ini terlihat dalam perilaku fisik dan taktis mereka … Di persimpangan saat ini, perang ekonomi adalah bidang utama bagi musuh dalam menghadapi kami.”

Baca: IRGC: Takut Perang dengan Iran, AS Memilih Fokus pada Konflik Ekonomi

Dia juga menegaskan bahwa jika perang berkobar maka semua orang akan terkejut menyaksikan senjata khusus Iran yang sampai sekarang masih dirahasiakan. Tak ada keterangan senjata apa yang dia maksud. Karena itu, anggaplah itu hanya gertak sambal yang identik dengan dunia peperangan.

Baca: Pasukan Iran Ancam AS dengan “Senjata Rahasia”

Majalah bulanan Le Monde Diplomatique terbitan Prancis menyebutkan 15 sebab keengganan AS menyerang Iran, antara lain ialah kerugian tentara AS di semua perangnya di TimurTengah, terutama Irak, Afghanistan, dan Suriah, serta tingginya kesiapan pertahanan Iran. Presiden Trump yang bertanggungjawab menarik pasukan AS di Timur Tengah akan sangat bodoh jika melanggar tanggungjawab ini dengan menyerang Iran. Biaya dan resiko serangan ke Iran akan sangat mahal bagi Israel dan sekutunya di kawasan Teluk Persia, dan Trump pun akan gagal dalam pemilu presiden AS mendatang.

Alhasil, hari Ahad mendatang akan menjadi hari yang krusial terkait dengan perkembangan sikap yang mungkin akan diambil oleh pihak-pihak yang terkait dengan krisis ini semisal Eropa, AS, Israel serta Iran sendiri dan para penguasa negara-negara Arab Teluk. Nanti akan mudah diketahui benang merahnya oleh para pemerhati.  (mm/raialyoum)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*