tenda ktt Arab di mauritaniaLiputanIslam.com –  Negara-negara Arab yang tergabung dalam organisasi Liga Arab menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-27 di Nouakchott, ibu kota Mauritania, Senin (25/7). Dalam KTT ini para pemimpin Arab bersumpah untuk “mengalahkan terorisme” dan kembali kepada gagasan Perancis untuk menghidupkan kembali perundingan damai Palestina-Israel.

Pembicaraan dalam KTT yang digelar di bawah tenda besar dan dipimpin oleh Presiden Mauritania Mohamed Ould Abdel Aziz ini dilaporkan terfokus pada krisis yang melanda Suriah, Irak, Yaman dan Libya.

Perdana Menteri Mesir Sherif Ismail adalah orang pertama yang menyampaikan kata sambutan. Dia mengatakan bahwa intervensi asing telah menjadi sebab kebangkitan kelompok-kelompok ekstrim semisal kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Timteng serta kemunculan gerakan radikalisasi anak-anak muda.

“Intervensi asing dalam urusan Arab merupakan sebab utama krisis yang terjadi sekarang, karena itu kita harus bekerjasama untuk memperkuat front domestik kita agar dapat menghadapi intervensi asing tersebut,” ungkapnya, seperti dikutip Aljazeera yang berbasis di Qatar.

Namun demikian, menurut harian al-Safir terbitan Lebanon, ada beberapa catatan yang menunjukkan betapa pertemuan puncak Arab ini tak ubahnya dengan dagelan yang sudah dipertontonkan Arab selama 70 tahun terakhir.

KTT ini tak ramah lagi dengan slogan dukungan untuk Palestina dan lebih ditujukan untuk memompa animo normalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel sesuai agenda Kerajaan Arab Saudi.

Para pemimpin Arab menggelar KTT pertamanya di Inshas, Mesir, dengan semangat penyelamatan Palestina. Namun, al-Safir menilai sejak itu sampai sekarang KTT Arab tidak membuahkan hasil apapun selain kemunduran dan kebangkrutan.

TV al-Mayadeen memberikan penilaian serupa. Menurut media yang juga berbasis di Lebanon ini, hasil lebih dari 300 keputusan KTT Arab justru keberanjakan dari tiga kata “tidak” kepada Israel, yaitu; “Tidak berdamai, tidak berunding, dan tidak mengakui.” Mereka sekarang beranjak menuju penggalangan koordinasi politik, keamanan, koalisi, dan normalisasi hubungan dengan Israel sehingga beberapa  negara Arab, termasuk Saudi, siap menjalin hubungan diplomatik dengan Isrel.

Dalam 34 tahun terakhir, Mauritania sudah dua kali ini menjadi tuan rumah KTT Liga Arab, itupun setelah Maroko menyatakan tak bersedia menjadi tuan rumah KTT Liga Arab ke-27. Keengganan Maroko ini mengundang banyak tanda tanya dan menimbulkan sinyalemen betapa KTT ini sangat memberatkan, terutama karena sebagian besar negara Arab sudah terbiasa kabur dan bersembunyi ketika berhadapan dengan berbagai tantangan besar.

Pertanyaan utamanya ialah apakah para pemimpin Arab dapat memriotaskan penanggulangan terorisme yang merupakan tantangan utama, dan kompak dalam masalah ini, terutama ketika sebagian di antara mereka justru mengampanyekan Iran sebagai ancaman yang lebih berbahaya daripada Israel, dan bahkan ada yang justru berniat menormalisasi hubungan dengan Israel sembari terus membiarkan Palestina sebagai lilin yang terus meleleh terbakar api.

Kecuali pernyataan yang sudah disiapkan oleh negara-negara Arab Teluk sebelum mendatangi Mauritania, KTT Nouakchott bertema “Sidang Pengharapan” itu hanyalah pengulangan konferensi yang sudah-sudah tanpa ada keputusan apapun yang terimplementasi.

Menurut al-Safir, para peserta KTT Nouakchott hanyalah emir Qatar, emir Kuwait, dan para utusan para pemimpin Arab lain. Itupun setelah mereka memerintahkan supaya mesin pesawat masing-masing di Bandara Nouakchott  tidak dimatikan karena mereka akan pulang meninggalkan tenda konferensi  segera setelah mereka menyampaikan pidato dan berfoto bersama sebagai “kenang-kenangan”.

Lantas apakah mungkin bangsa-bangsa Arab dapat mengharapkan dagelan baru berlabel KTT Liga Arab yang berlangsung selama tujuh jam itu dapat membuahkan solidaritas, kekompakan dan kerjasama Arab.

KTT Arab biasanya digelar selama dua hari agar pada hari pertama para pemimpin Arab dapat menyampaikan pidato masing-masing, dan pada hari kedua menyelenggarakan sidang pengesahan keputusan dan pembacaan deklarasi.

KTT Nouakchott dihadiri hanya oleh empat orang presiden dari Mauritania, Sudah, Djibouti, dan Kepulauan Komoro serta dua emir dari Kuwait dan Qatar. Selebihnya adalah presiden tersingkir Yaman, enam perdana menteri dan ketua parlemen, dan beberapa menteri luar negeri.

Penyelenggaraan KTT ini di dalam tenda yang baru didirikan di dekat Istana Presiden Mauritania juga menjadi tontonan tersendiri, apalagi para peserta KTT mendapat banyak kesulitan, termasuk terputusnya aliran listrik serta gangguan akses internet dan komunikasi telefon. Salah seorang menteri Arab dilaporkan  terkena serangan jantung.

Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi selaku ketua periodik Liga Arab ke-26 absen dalam KTT Nouakchott, padahal dia seharusnya tampil untuk menyerahkan jabatan ketua Liga Arab  kepada Presiden Mauritania Mohamed Ould Abdel Aziz.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga tak datang, padahal KTT Arab selama ini dikampanyekan sebagai basis perjuangan untuk Palestina.

Kemudian, Sekjen PBB Ban Ki-moon juga absen, meskipun selama ini dia berusaha menunjukkan sikap netral dalam isu Arab. Teks pidatonya cukup dibacakan oleh utusannya untuk urusan Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed.

Kondisi ini, menurut al-Safir, membuat “Sidang Pengharapan” berubah menjadi “Sidang Frustasi” yang tak mampu bahkan untuk sekedar memperlihatkan satu langkah simbolik dalam upaya menghentikan pertumpahan darah negara-negara Arab, menyelesaikan berbagai krisis Dunia Arab, dan mencegah perpecahan. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL