palestine-israel flagLiputanIslam.com – Di tengah kecamuk perang Palestina-Israel yang sudah berjalan sekitar satu minggu, Senin 14 Juli 2014 pemerintah Mesir tiba-tiba dengan lantang meneriakkan seruan gencatan senjata. Pemerintah Mesir meminta Israel menghentikan serangan udara ke Gaza, sekaligus menyeru para pejuang Palestina supaya berhenti menghujani Israel dengan roket-roket yang menggemparkan Timur Tengah.

Hebatnya, seruan itu segera diiyakan oleh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, sedangkan pihak Palestina berbeda sikap. Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang berasal dari faksi Fatah dan berkedudukan di Tepi barat mengambil sikap seperti Netanyahu, tetapi Hamas menolaknya mentah-mentah, sedangkan faksi Jihad Islam yang semula menyatakan masih perlu berpikir dan mempelajari inisiatif gencatan senjata tersebut akhirnya juga mengikuti langkah Hamas.

Sikap Netanyahu yang sedemikian cepat menerima seruan itu tak pelak mengundang pertanyaan, mengingat Rezim Zionis Israel selama ini dikenal sebagai pihak yang sangat antagonis dan hiperaktif dalam membantai bangsa Palestina secara brutal tanpa pandang bulu. Mengapa PM Israel sedemikian antusias menerima seruan Mesir?

Banyak kalangan memandangnya tidak lepas dari tekanan mental yang sedang melanda entitas Zionis. Sebagian kelangan di Timur Tengah menyebut keputusan Netanyahu itu tidak lebih dari tindakan melempar “pelampung” untuk menyelamatkan orang-orang Israel ketimbang iktikad untuk menghentikan pesta darahnya di Jalur Gaza. Karena itu, wajar apabila faksi pejuang Palestina menolak penghentian serangan roket ke Israel sebelum semua atau sebagian besar harapannya terpenuhi.

Hal yang juga menarik, pemerintah Kairo begitu lantang ketika memublikasikan seruan itu melalui media. Mesir terlihat begitu percaya diri dan seakan memegang otoritas penuh untuk mendikte orang-orang Palestina. Sikap itu tak pelak menciderai rasa keadilan pihak pejuang Palestina, apalagi Kairo sedemikian percaya diri tepat setelah mengadakan pembicaraan dan meraih kesepakatan dengan Israel dan Amerika Serikat (AS). Perilaku Kairo juga menyalahi semua norma diplomasi yang ideal dan bermartabat.

Mesir tidak seharusnya memposisikan diri sebatas mediator. Kairo semestinya lebih berpihak pada kubu bangsa Palestina yang jelas-jelas teraniaya dan tertindas. Karena itu, Kairo setidaknya menghargai para pejuang Palestina dengan terlebih dahulu beraudiensi dengan mereka, menampung keluhan-keluhan mereka, dan membuka pintu kemungkinan untuk lebih menyesuaikan poin-poin seruannya dengan aspirasi mereka, bukan malah mendeklarasikan seruan gencatan senjata secara tiba-tiba, arogan dan berbau pesan Washington dan Tel Aviv.

Dengan seruan lantang itu Mesir rupanya hendak mencoba mengembalikan pamornya sebagai kekuatan lokomotif Timur Tengah, khususnya dalam isu konflik Palestina-Israel. Sayangnya, dengan cara itu reputasi Mesir di mata para pejuang Palestina justru semakin terpuruk.

Diksi  “Permusuhan”

Sebagaimana dinyatakan Kementerian Luar Negeri Mesir dalam statemennya, inisiasi gencatan senjata itu menyatakan, “Israel harus menghentikan semua aksi permusuhan (hostilities)-nya terhadap Jalur Gaza, baik dari darat, laut maupun udara, serta memastikan untuk tidak tidak melancarkan invasi darat terhadap Jalur Gaza atau menjadikan warga sipil sebagai sasaran.”

Falastin Online dalam laporannya mempersoalkan sikap Mesir karena dalam seruan gencatan senjata itu apa yang selama ini disebut oleh bangsa Palestina dan bangsa-bangsa Arab secara umum sebagai “muqawamah” (perlawanan/resistensi) ternyata juga disebut “hostilities”.

Insiatif gencata senjata itu menyatakan, “Semua faksi Palestina di Jalur Gaza hendaknya menghentikan semua aksi ‘permusuhan’ dari Jalur Gaza ke Israel melalui udara, laut, darat dan bawah tanah (terowongan), serta memastikan untuk menghentikan penembakan roket dengan segala jenisnya atau serangan terhadap perbatasan atau serangan terhadap warga sipil.”

Seruan itu juga menyatakan bahwa semua persoalan yang masih tersisa, termasuk isu keamanan, akan dibahas oleh kedua pihak.

Seruan itu sama sekali tidak menyinggung keharusan Israel mengakhiri blokadenya terhadap Jalur Gaza yang sudah berjalan tujuh tahun. Demikian pula masalah tahanan Palestina yang telah dibebaskan tetapi kemudian ditangkap lagi oleh Israel pada bulan Juni lalu. Padahal dua masalah ini adalah bagian dari syarat yang ditegaskan pejuang Palestina untuk penerapan gencatan senjata.

Alasan Hamas

Menanggapi seruan itu Hamas menegaskan bahwa problema utama di balik krisis Palestina-Israel sekarang adalah blokade Israel terhadap Jalur Gaza.

“Duduk persoalannya bukanlah gencatan senjata atau kembali kepada kesepakatan sebelumnya dengan rezim pendudukan Israel, melainkan realitas blokade terhadap Gaza, pemaksaan kelaparan dan penutupan jalur-jalur akses, pemboman dan penistaan manusia, ”ungkap Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, Senin (14/7) sore.

Dalam pernyataan yang ditayangkan TV al-Aqsha milik Hamas itu dia menegaskan penolakan faksi ini terhadap inisiatif gencatan senjata yang tidak menjamin penghentian blokade Gaza dan penghentian aksi kekerasan yang kerap dilakukan Israel di Tepi Barat dan Baitul Maqdis.

“Problemanya terletak pada kenyataan yang mendera Gaza. Karena itu blokade Gaza harus disudahi agar bangsa kami dapat hidup secara bebas dan bermartabat sebagaimana bangsa-bangsa lain di dunia. Sebagaimana juga warga kita di Tepi Barat juga harus dapat menjalani kehidupan yang aman dari segala bentuk aksi pembenaran segala cara, dari gangguan Israel terhadap al-Quds dan Tepi Barat yang memuncak pada aksi penangkapan para anggota parlemen,” tegas Haniyeh.

Dia kemudian menegaskan bahwa Israel telah melanggar semua kesepakatan yang sudah terjalin dengan prakarsa Mesir, seperti perjanjian pertukaran tawanan, perjanjian gencatan senjata tahun 2012 dan perjanjian terkait aksi mogok makan tahanan administratif tahun 2011.

Singkatnya, sebagaimana ditegaskan Juru bicara Hamas Fauzi Barhoum; “Tak ada kata gencatan senjata tanpa disertai syarat-syarat pihak muqawamah.”

Peran dan Blunder Mesir

Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa resistensi Palestina belakangan ini telah dibayar mahal dengan jatuhnya korban syuhada yang sudah menembus jumlah 200 orang dan korban luka sekitar 1,500 orang. Karena itu, tulis Jurnalis senior Timur Tengah berdarah Palestina Abdul Bari Atwan di situs Rai al-Youm, sudah sepatutnya pejuang Palestina menolak gagasan yang isinya cenderung merendahkan dan memaksa pihak Palestina supaya tunduk kepada Israel.

Atwan menilai pemerintah Mesir telah bertindak blunder ketika tidak dapat membedakan antara faksi-faksi pejuang Palestina di Jalur Gaza dan otoritas Palestina yang bermarkas di Ramallah, Tepi Barat. Menurut Atwan, kontras dengan faksi-faksi pejuang di Jalur Gaza, otoritas Palestina cenderung tunduk pada kehendak AS dan Israel sehingga malah berbangga dengan tindakannya menghapus hak pengungsi Palestina untuk ke kampung halaman. Ramallah siang malam juga tak berhenti berpikir untuk mencegah segala bentuk intifada Palestina, meskipun dalam bentuk aksi damai, untuk melawan aksi pendudukan dan ekspansi permukiman Yahudi.

Mesir, lanjut Atwan, juga tidak sepatutnya selantang itu meneriakkan inisiatif gencatan senjata ketika rezim Kairo sama sekali tidak menyinggung pembukaan gerbang Rafah secara normal sebagaimana yang ia lakukan pada gerbang-gerbang perbatasan Mesir dengan Libya, Sudan, dan negara-negara lain, tak terkecuali Israel. Padahal, di seberang gerbang Rafah terdapat 15 juta manusia yang terkunci dari semua arah, itupun dalam kondisi banyak di antara mereka yang mengerang menahan luka.

Atwan menegaskan bahwa seruan gencatan senjata yang dikumandangkan Mesir jelas-jelas sejalan dengan impian Netanyahu untuk menumpas resistensi Palestina, melucuti senjata para pejuang, dan menggulung semua infrastruktur militer pejuang.

Sedangkan Israel, lanjut Atwan, sekarang sudah dalam kondisi keteteran karena tak menyangka akan mendapat gebrakan sedemikian hebat dari para pejuang Palestina. Pamornya kini berantakan setelah kota-kotanya ternyata dengan sangat mudah diterjang badai roket pejuang Palestina. Celakanya lagi, kubah besi Israel ternyata juga kian terbukti rapuh ketika Hamas membuat gebrakan baru dengan menerbangkan pesawat-pesawat nirawak ke berbagai wilayah Israel dan hampir semuanya kembali ke Gaza dengan selamat.

“Ketika Netanyahu berusaha mencari jalan keluar dari kerugian-kerugian yang dideritanya dan berharap dapat menyelamatkan air mukanya, tiba-tiba datang insiatif dari Mesir dengan ‘hak cipta’ Menteri Luar Negeri AS John Kerry yang telah menggodoknya di atas kobaran api bersama Perdana Menteri Israel. Mesir bertindak sebagai tukang pos yang membawa surat kepada alamat-alamat yang salah,” pungkas Atwan.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL