mahdi-darius-nazemroaya

Berikut ini bagian kedua dari analisis Mahdi Darius Nazemroaya (Baca bagian pertama)

Sejak awal pertempuran, tokoh spiritual Kristen telah ditargetkan dengan berbagai cara. Ada kasus Uskup Agung Sayedna Paul  Yazigi dan Mar Gregorios John Abraham (Ibrahim Yohanna), yang diculik di dekat perbatasan Turki, pada tanggal 22 April 2013.  Sopir mereka, seorang pendeta Kristen,  tewas seketika untuk melindungi dua pemuka  Kristen ini. Orang keempat di dalam mobil, Fouad Eliya, dibebaskan dan menuturkan peristiwa tersebut.

Pemerintah Turki terlibat langsung dalam penculikan dua uskup Kristen Ortodoks tersebut. Dogan News Agency, salah satu media Turki, menggunakan kata-kata “pembunuh” dalam laporannya terhadap dua uskup Suriah yang ditangkap di Konya. Penangkapan ini dilakukan oleh militan yang berasal Kaukasus Utara, anti-Rusia, dan melakukan kontak kepada Fouad Eliya, dan mengabarkan bahwa kedua uskup tersebut ditangkap oleh Militan Kaukasus Utara yang berpakaian layaknya Taliban dari Afghanistan.

Grand Mufti Suriah Syeikh Ahmad Hassoun mengungkapkan bahwa militan Chechnya telah dilatih oleh Turki, dan dikirim untuk menculik Sayedna Boulos Yazigi dan Mar Gregorios, karena dua alasan penting. Menurut Syeikh Hassoun, alasan pertama adalah bahwa Mar Gregorios diminta oleh Suryani Ortodoks Patriarch Ignatius Zakka untuk mengepalai sebuah komite gereja, guna  memulai proses membangun kembali – atas kepemilikan  Gereja Ortodoks Suriah, yang selama ini disita oleh  pemerintah Turki.

Dalam pertemuan antara Perdana Menteri Erdogan dan Mar Gregorios, pemerintah Turki meminta agar Gereja Ortodoks Suriah mendirikan eparki (provinsi gerejawi atau pembagian administratif gereja dengan metropolitan) di Turki.  Turki bahkan meminta untuk memindahkan  patriarkat  dari Damaskus ke Hatay (Antiokhia), tapi Mar Gregorios menolak dan mengatakan bahwa patriarkat Gereja Ortodoks Suriah  tidak akan pernah berubah lokasi, dan bahwa  Kristen Ortodoks Suriah mengakui Levant sebagai wilayah terpadu.  Mar Gregorios juga menjelaskan bahwa ia akan ditugaskan ke Turki, setelah properti milik Gereja Ortodoks Suriah dikembalikan oleh pemerintah Turki. Hal inilah yang membuat marah para pejabat Turki.

Alasan lain dari penargetan pemuka agama Kristen Ortodoks, lantaran mereka berusaha mendamaikan para pemberontak dengan pemerintah Suriah di Aleppo, yang membuat berang Turki dan sekutunya.

Kasus lainnya, seperti yang dialami  Bapa (Abouna) Fadi Jamal Haddad, seorang Imam Ortodoks Yunani Antiokhia. Ia bertindak sebagai mediator di Qatana selama pertempuran, dan karenanya ia disiksa dan ditembak di kepala setelah ia mencoba melakukan mediasi guna melepaskan seorang dokter yang  dimintai tebusan.  Bapa Francois Al-Mourad, adalah seorang imam Katolik dari Ordo Fransiskan, telah ditembak untuk melindungi  orang –orang Kristen—dan juga rakyat Suriah—dilukai oleh pasukan pemberontak.

Lalu Romo Frans van der Lugt, seorang Imam Belanda Ordo Jesuit yang bekerja di Homs, ia juga diculik, lantas dibunuh.  Mayatnya ditinggalkan di  jalan raya, dalam kondisi yang sangat mengerikan. Ia  disiksa dan matanya dicungkil, dan ditemukan pada tanggal 25 September 2012.

Menurut perwakilan Ordo Fransiskan di Suriah, para pemberontak masuk ke biara, menjarah dan menghancurkan segalanya. Ketika Fr. Franҫois mencoba membela para biarawati dan lainnya, maka para militan  bersenjata menembaknya hingga tewas.

Para pemberontak juga membunuh Pastor Frans van der Lugt pada tanggal 7 April, 2014. Berikut  penjelasan tentang situasi di balik pembunuhan:

Wael Salibi, 26, ingat bagaimana ketika wilayah Kristen di Homs diambil alih oleh pemberontak, 66,000 orang  meninggalkan rumah mereka, dan hanya beberapa dari mereka tinggal di sana. Frans adalah satu-satunya imam, ia tinggal di gerejanya.

Beberapa bulan sebelum meninggal, berkata, “Aku tidak bisa meninggalkan umat-ku, aku tidak bisa meninggalkan gerejaku, aku direktur gereja ini, bagaimana aku bisa meninggalkan mereka?” Demikian ucapan Frans yang dituturkan Salibi kepada CNA pada 11 April. Salibi, yang berasal dari kota Homs, merupakan teman dekat dan murid Pastor Frans.

Frans dibunuh secara brutal pada 7 April Hari sebelum ulang tahunnya yang ke-76, penembak tak dikenal memasuki gerejanya, memukul  dan menembaknya di kepala.

Di  Hasakah, banyak orang Aram Kristen yang  melarikan diri, tapi hampir 30.000 tetap tinggal sebagai pengungsi di wilayahnya sendiri.

Orang-orang Kristen Suriah dari Gereja Katolik Chaldean, Gereja Ortodoks Suriah, Gereja Katolik Suriah, Gereja Apostolik Armenia Ortodoks, dan Gereja Katolik Armenia secara kolektif meminta dunia untuk membantu dan untuk mengakhiri pertempuran pada akhir 2012. Mereka telah menderita akibat penganiayaan, pelanggaran hukum, penculikan dan pembunuhan.

Seorang umat Kristen dari daerah kepada Fides News Agency mengungkapkan  bahwa Al-Nusra menargetkan semua orang muda yang lahir antara tahun 1990 dan 1992. Mereka dicari dan dituduh sebagai anggota Tentara Pertahanan Nasional (NDF) Suriah, lantas membunuhnya tanpa ampun. Mereka meneror para pemuda guna mencegah pemuda-pemuda ini mendaftar sebagai NDF.

Contoh lain dari serangan terhadap komunitas Kristen adalah serangan Al-Nusra di kota Ma’aloula. Ma’aloula adalah salah satu dari beberapa desa yang masih mempertahankan dialek Aramia, yang dikenal sebagai bahasa Yesus dari Nazaret. Banyak peninggalan Kristen dan situs bersejarah Suriah. Termasuk Biara Melkite Yunani Katolik Saint Sergius (Mar Sarkis dan Antiokhia Ortodoks Yunani Saint Tekla (Mar Taqla) Monastery. Kota ini menjadi tempat pertempuran antara Al-Nusra dan Tentara Suriah. Kota ini silih berganti dikuasai pemerontak dan Tentara Suriah sebanyak  empat kali sepanjang  akhir 2013 dan pertengahan 2014.

Banyak warga Ma’aloula, baik Kristen dan Muslim, yang  terjebak di rumah mereka dan bangunan, termasuk empat puluh biarawati Yunani Kristen Ortodoks, dan memicu kepanikan di dalam komunitas Kristen Suriah dan Lebanon. Oleh karena itu, dukungan kepada Pemerintah Bashar al-Assad dari minoritas pun semakin menguat. Hampir seluruh umat Kristen Suriah mengungkapkan hal yang sama: pemberontak masuk ke daerah penduduk, dan melakukan pembantaian kepada warga. Menurut Odette Abu Zakham, seorang wanita tua, 65, “Yang diketahui oleh militan hanyalah membunuhi orang-orang.”

Bukan hanya biarawati disandera oleh Al-Nusra, namun mereka menodai semua kuil di Ma’aloula dan bangunan-bangunan ibadah milik umat  Kristen, mencuri artefak sejarah dan menjualnya di pasar gelap. Saksi mata menerangkan sebagai berikut:

[Para pemberontak] mencoba untuk mengubah tampilan religius dan arsitektur bersejarah kota Kristen kuno sepenuhnya. Militan benar-benar  menghancurkan beberapa gereja, dan  menurunkan lonceng-lonceng. Nasib dua monumen terkenal di Ma’aloula pun tak kalah tragis: ekstremis meledakkan patung Kristus Juruselamat, yang berdiri di pintu masuk St Tekla Convent. Mereka juga  menghancurkan patung Bunda Perawan Maria, yang berdiri di dekat Hotel Safir.  Hotel ini, telah dipergunakan sebagai markas utama para teroris Takfiri selama berbulan-bulan.

Paskah, pada tahun 2014 adalah waktu yang istimewa bagi  Ma’aloula. Sebelum  Paskah, Tentara Suriah kembali menguasai kota. Ma’aloula akhirnya diamankan dan warga kembali. Rumah-rumah hancur total, seluruh desa hancur lebur.  Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana kerusakan yang terjadi pada  desa tersebut. Presiden Al-Assad juga datang mengunjungi Maaloula sebagai tanda komitmen Pemerintah Suriah kepada penduduknya tanpa melihat batasan etnis maupun iman mereka. Perayaan Paskah baik yang menggunakan kalender Gregorian maupun Julian, jatuh pada tanggal yang sama, 20 April 2014. (ba/LiputanIslam.com)

 

*Mahdi Darius Nazemroaya adalah seorang analis geopolitik terkemuka, menerima berbagai penghargaan atas karyanya yang aktif menentang NATO. Artikel ini diterjemahkan dari http://www.globalresearch.ca/wiping-out-the-christians-of-syria-and-iraq-to-remap-the-mid-east-prerequisite-to-a-clash-of-civilizations/5394075

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL