mahdi-darius-nazemroayaOleh:  Mahdi Darius Nazemroaya *

Secara historis, Levant adalah tempat lahirnya agama Kristen. Yang dimaksud Levant adalah wilayah Mediterania Timur yang meliputi Lebanon, Suriah, Yordania,  dan Palestina. Komunitas Kristen tertua pun  berkembang  di dalamnya, di daerah yang juga dikenal sabagai Fertile Crescent (Bulan Sabit Subur–  suatu kawasan subur di Mesopotamia yang berbentuk bulan sabit).

Awalnya, komunitas Kristen menyebut diri mereka sebagai pengikut  “The Way” sebelum menggunakan istilah Kristen, yang  dalam Bahasa Arab Kuno mereka disebut Ahl Al-Deen. Jejak nama aslinya terdapat dalam Perjanjian Baru dari Alkitab dan dapat dibaca dalam Yohanes 14: 5-7, Kisah Para Rasul 9: 1-2, Kisah Para Rasul 24: 4 dan 14.

Dari kawasan  Bulan Sabit Subur ini,  komunitas Kristen mulai menyebar di Afrika, Asia dan Eropa. Saat itu masyarakat kuno Kristen, banyak yang masih menggunakan dialek bahasa Aram Suryani di gereja-gereja mereka, telah menjadi bagian integral dan penting dari sosial masyarakat majemuk di Palestina, Lebanon, Suriah, Irak, Turki, dan Iran. Namun, orang-orang Kristen dari Levant dan Irak kini tengah dibidik.

AS dan Israel Tengah Menggambar Ulang Peta Timur Tengah

Penipuan dan kejahatan pun terjadi. Bukan suatu kebetulan bahwa orang Kristen Mesir diserang pada saat yang bersamaan  dengan peristiwa Referendum Sudan Selatan, dan diduga merupakan  pertanda akan terjadinya perpecahan antara umat Islam di Khartoum dan umat Kristen di Juba.

Juga bukan sebuah kebetulan, terkait yang terjadi pada umat Kristen di Irak, salah satu komunitas Kristen yang paling tua di dunia. Mereka mulai menghadapi eksodus modern, digusur untuk meninggalkan rumah mereka dan tanah air leluhurnya di Irak pada tahun 2003. Dan sebuah kelompok misterius menargetkan mereka, selain menargetkan  kelompok pengungsi Palestina.

Bertepatan dengan eksodus Kristen Irak, yang terjadi di bawah pengawasan pasukan AS dan militer Inggris, lingkungan di Baghdad mulai terjadi konflik sektarian antara Muslim Syiah dan Muslim Sunni. Konflik ini berlanjut  dengan kekerasan yang berakhir dengan tewasnya tentara di daerah-daerah yang tengah diterjang badai sekterian. Namun sesungguhnya, ini semua terjadi lantaran  proyek AS dan Israel, yang tengah berusaha menggambar ulang peta Timur Tengah.

Masyarakat Kristen di Levant dan Irak telah lama tidak mempercayai Pemerintah AS lantaran dukungannya pada Israel, pada  Kerajaan Arab Saudi, dan pada militan bersenjata fanatik, yang cenderung anti-Kristen. Orang-orang Kristen Lebanon juga telah lelah  terhadap dukungan AS terhadap  ekspansi dan ide-ide Israel, untuk menggusur rakyat  Palestina menuju Lebanon.

Di samping itu, terdapat pihak yang meyakini bahwa AS dan Israel telah terlibat dalam sebuah kebijakan untuk melenyapkan orang-orang Kristen dari Irak dan Levant, yang sejalan dengan cita-cita Zionis untuk membangun pemukiman Israel.  Sejak para militan anti-pemerintah yang didukung AS mulai menyerang umat Kristen di Suriah, akhirnya dilakukan pembicaraan kembali tentang eksodus umat Kristen di Timur Tengah.

Masyarakat Arab yang beragama Kristen, baik yang berasal dari etnis Assyria maupun Armenia, yang berada di Lebanon dan Suriah kini tengah dibidik. Dari Homs dan Maaloula hingga ke Kessab, umat Kristen berada di bawah pengepungan. Berbagai rohaniawan dan tokoh-tokoh dari seluruh dunia telah menyatakan keprihatinannya atas tragedi yang menimpa umat Kristen di Suriah, apalagi, setelah pemerintah Turki secara terbuka mendukung Jabhat Al-Nusra untuk menyerang kota Kessab di provinsi Latakia yang didominasi oleh etnis Armenia.

Di dalam negeri Suriah, keprihatinan serupa juga diungkapkan oleh berbagai tokoh lintas agama. Baik dari kalangan gereja, Druze, maupun dari tokoh-tokoh Islam, antara lain Grand Mufti Suriah, Syeikh Ahmad Hassoun. Mereka mengutuk peperangan yang disponsori AS di Suriah, dan menyeru perdamaian. Mereka adalah tokoh-tokoh yang berani mengambil resiko dengan melakukan kecaman itu.

Sebelumnya, Syeikh Ramadhan Al-Buthi, seorang ulama dari etnis Kurdi, dibunuh saat mengajar di masjid pada tanggal 21 Maret 2013 atas dukungannya kepada Pemerintah Suriah.  Saudara dari Pendeta Patriark Ignatius IV diculik, dan Syeikh Ahmad Hassoun juga harus kehilangan putranya yang baru berusia 22 tahun – dalam perjalanannya menuju kampus. Kendati terancam, semua tokoh ini telah angkat bicara untuk menentang pemberontakan, yang tak ubahnya bak kanker: mengancam kehidupan masyarakat Suriah yang biasa berdampingan. Patriark Gregory III Laham bahkan secara lugas telah menyatakan bahwa negaranya telah diserang oleh para bandit  dan teroris yang berusaha untuk menghancurkan kehidupan rakyat Suriah, juga kehidupan umat Kristen.

Masyarakat Kristen Suriah, yang merupakan 10% dari populasi Suriah, telah menjadi target secara sistematis: gereja-gereja mereka dirusak; imam mereka, para pendeta, dan biarawati dibunuh. Mereka juga mengalami diskriminasi dari pasukan pemberontak yang didukung oleh AS, Inggris, Perancis, Israel, Qatar, Turki, Saudi Arabia dan aliansinya. Tujuan eksodus tercermin dari kicauan pasukan anti-Pemerintah, yaitu hendak menggusur orang-orang Alawi dan Kristen ke Lebanon. Apakah  ini berarti bahwa Suriah tidak lagi bisa menjadi tempat untuk dihuni oleh  Alawi atau Kristen?

Fides News Agency(FNA), kantor berita resmi Vatikan dan Gereja Katolik Roma, telah melaporkan bahwa pemuka agama dari para kelompok anti-pemerintah Suriah menyatakan halal bagi para militan untuk memperkosa wanita Suriah dari kalangan non-Sunni. Pernyataan ini dijadikan pembenaran untuk melakukan pemerkosaan, penghinaan, penyiksaan, dan pembunuhan perempuan dan anak-anak di kota atau wilayah yang direbut oleh kelompok-kelompok pemberontak, seperti Tentara Pembebasan Suriah (FSA), Al-Nusra, ataupun kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Berikut ini adalah keterangan yang ditunjukkan oleh FNA terkait apa yang dilakukan terhadap seorang gadis Kristen di Suriah yang berusia 15 tahun saat Kota Homs jatuh ke tangan militan.

Komandan Batalyon Jabhat Al-Nusra di Qusair mengambil Mariam, mengawini dan memperkosanya. Setelah itu, Mariam dilepaskan. Hari berikutnya, wanita muda ini kembali dipaksa untuk dikawini oleh jihadis lainnya, lalu diperkosa kembali. Hal ini terjadi selama 15 hari berulang-ulang, dan Mariam diperkosa oleh 15 lelaki yang berbeda. Kejiwaannya tidak stabil dan iapun menjadi gila. Akibat tekanan mental, ia tewas. Namun kekejaman ini tidak dikabarkan oleh badan Komisi Internasional manapun. FNA mengungkapkan ini berdasarkan keterangan dari dua imam Katolik Yunani yang baru saja kembali ke kota.

Kelompok pemberontak multinasional yang dudukung oleh AS juga melakukan hal yang sama kepada orang-orang Kristen di Irak. Pada tanggal 12 Juni 2014, hanya sehari setelah mencaplok Mosul dan wilayah lainnya, kelompok ISIS mengeluarkan dekrit yang memerintahkan kepada penduduk untuk mengirim para perempuan lajang untuk “jihad seks”  —  perempuan ini akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan biologis para militan. Berikut ini adalah keterangan yang telah dikonfirmasi oleh Komisi HAM Irak, yang dilaporkan oleh Assyrian International News Agency, 25 juni 2014, terkait kondisi Mosul pasca direbut oleh pasukan militan ISIS.

Seorang ayah yang pemeluk agama Kristen harus menyaksikan istri dan putrinya mendapatkan perlakuan brutal, diperkosa oleh anggota kelompok ISIS karena dia tidak bisa membayar pajak. Sang ayah akhirnya bunuh diri akhir pekan ini akibat trauma.

Penganiayaan dan pemerkosaan terhadap perempuan dan anak perempuan Kristen sebagai obyek seks tidak  terbatas pada orang-orang Kristen saja. Wanita Suriah dan anak perempuan, terlepas dari agama mereka, yang ditangkap oleh pasukan pemberontak, akan diperkosa dan dianiaya. Muslim, Kristen, Druze, sama-sama beresiko. Tindakan-tindakan menyimpang ini justru dianjurkan oleh ulama-ulama yang menyimpang  dengan  mengeluarkan fatwa yang mendukung pemerkosaan.

Fatwa yang dikeluarkan juga meliputi seruan kepada para perempuan untuk menjadi istri-istri para pemberontak di Suriah, dan hal memalukan ini disebut sebagai jihad al-nikah. Pemerintah Tunisia bahkan bereaksi keras pada pertengahan tahun 2013 atas fatwa ini, lantaran mereka mengeskploitasi gadis-gadis muda Tunisia. Menteri  Agama  Tunisia, Noureddine Al-Khadimi, mengutuk ulama jahat ini, dan menegaskan bahwa kelompok ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam.

Pernyataan Menteri Agama ini merupakan respon dari fatwa seruan jihad seksual yang beredar di internet. Kelompok pemberontak menyerukan kepada wanita muda untuk mendukung perjuangan pasukan pemberontak di Suriah dengan memberi pelayanan seksual. Menurut sejumlah laporan media dan para jihadis yang kembali ke Tunisia, 13 orang gadis Tunisia yang melakukan “jihad seks”, pulang dalam keadaan hamil. Menteri Dalam Negeri Tunisia, Tunisia Lotfi bin Jeddou, bersaksi beberapa bulan kemudian, bahwa seorang gadis (yang berjihad seks) memiliki lebih dari 100 pasangan.

(bersambung ke bagian ke dua)

*Mahdi Darius Nazemroaya adalah seorang analis geopolitik terkemuka, menerima berbagai penghargaan atas karyanya yang aktif menentang NATO. Artikel ini diterjemahkan dari http://www.globalresearch.ca/wiping-out-the-christians-of-syria-and-iraq-to-remap-the-mid-east-prerequisite-to-a-clash-of-civilizations/5394075

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL