dirgo_purboOleh: Dirgo D. Purbo

Pengantar: mulai 2 pekan yang lalu LI menghadirkan analisis berseri Keamanan Energi Indonesia, yang diambil dari paper karya pakar geopolitik Indonesia, Dirgo D Purbo. Analisis ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita tentang pentingnya keamanan energi (energy security) dan bagaimana strategi untuk mencapainya.

Berikut ini bagian ketiga (baca bagian pertama dan kedua).

 

Dominasi Dollar dalam Perdagangan Minyak

Amerika sebagai negara penghasil minyak sebesar 8.5 juta barel per hari (bph) dan sekaligus sebagai negara pengimport minyak terbesar sekitar 13,5 juta bmph, berarti total konsumsinya mencapai 22 juta bph (Data 2005,IEA) ditambah dengan negara-negara industri lainnya, membuat sirkulasi mata uang Dollar sangat kuat.

Dilihat dari keterkaitan ekonomi dunia dalam lingkup perdagangan antar negara saat ini, yang terjadi justru kompetisi untuk melakukan ekspor demi mendapatkan/menghasilkan mata uang Dollar sebanyak-banyaknya guna memberikan perimbangan pada hutang luar negeri yang sebagai besar didominasi atas mata uang dollar. Juga, demi menghimpun cadangan Dollar secara maksimal agar dapat mengimbangi nilai tukar terhadap mata uang lokal.

Semakin tinggi desakan pasar untuk mendevaluasikan mata uang dari suatu negara, semakin banyak cadangan mata uang Dollar diperlukan untuk mempertahankan nilai tukarnya di bank sentral. Diperkirakan dua pertiga bank sentral diseluruh dunia secara resmi telah menetapkan Foreign exchange reserve dengan mata uang Dollar. Dalam kondisi yang sama negara- negara pengekspor minyak juga menyimpan keuntungan yang melimpah dengan mata uang Dollar dalam penerimaan pembayarannya. Menanamkan kembali dengan Dollar tersebut dari hasil penjualan minyak (baca: petrodollar) menciptakan ekonomi Amerika menjadi “zero currency risk”.

Norwegia sebagai salah satu negara pengekspor minyak signifikan dengan kapasitas produksi sebesar 3,3 juta bph, telah menanamkam modalnya puluhan miliar Dollar pada stocks and US government bond, begitu juga Rusia sebagai negara penghasil minyak nomor dua di dunia (sekitar 8 juta bmh) melakukan hal yang sama. Sedangkan Arab Saudi pengekspor minyak terbesar didunia mempunyai 700 miliar Dollar yang telah diinvestasikan di Amerika dalam berbagai sektor. Dengan menggunakan sistem mata uang Dollar yang bertindak sebagai world reserve currency dalam perdagangan minyak dan juga pada sebagian besar perdagangan lainnya di seluruh dunia, membuat permintaan atas mata uang Dollar sangat tinggi.

Mulai Beralih ke Euro

Irak yang sejak Perang Teluk I terkena sanksi ekonomi di bawah ketentuan UN Resolusi 986 mengalami penurunan kapasitas produksi minyaknya menjadi hanya 600 ribu bph dari 2,5 juta bph. Pada saat itu berbagai upaya dilakukan oleh Presiden Irak, Saddam Hussein untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dari hasil produksi minyaknya. Pada akhir tahun 2000, Irak mengambil sikap mengubah haluan dari apa yang dijuluki “enemy currency” Dollar ke Euro dalam transaksi penjualan minyaknya.

Sewaktu berubah ke Euro, nilai mata uang tersebut sangat rendah dibandingkan dengan Dollar. Pertimbangan Irak memindahkan ke Euro semata -mata hanya gerakan politik, bukan merupakan suatu pertimbangan ekonomi. Namun pada saat yang bersamaan Washington menilai bahwa pergeseran menggunakan Euro merupakan “lonceng tanda bahaya”. Pertanyaan yang sangat krusial akan muncul, siapa berikutnya yang akan mengikuti jejak Irak?

Setelah kejadian 11 September 2001, Presiden Amerika, George W.Bush, menyatakan perang Afghanistan merupakan perang untuk melawan teroris, kemudian mendeklarasikan Irak, Iran dan Korea Utara sebagai negara “Axis of Evil”. Tidak lama setelah deklarasi tersebut, di kawasan produksi minyak di Amerika Latin berlangsung program militerisasi Amerika di Kolombia dan kemudian terjadi percobaan penggulingan kekuasaan di Venezuela pada bulan April 2002. Kedua negara ini merupakan buffer zone untuk suplai minyak di kawasan Amerika Serikat bagian selatan. Sebelumnya ada sebuah laporan Kongres pada bulan Januari 2001 yang secara garis besar mengungkapkan agar Pentagon mempersiapkan diri terhadap ancaman penggunaan senjata nuklir oleh Rusia, Cina, Irak, Korea Utara, Iran dan Syria.

Rentetan kejadian ini mengindikasikan adanya kaitan antara perang yang dilancarkan AS di berbagai negara yang ternyata, negara-negara yang diperangi itu adalah negara-negara yang telah memulai pengurangan nilai-nilai kepentingan ekonomi Amerika dengan menggunakan mata uang Euro dalam transaksi minyaknya. Venezuela sebagai negara pengekspor minyak nomor empat di dunia dengan kapasitas produksi sebesar 3,2 juta bph telah melakukan upaya barter minyak dengan 12 negara di kawasan Amerika Latin dan juga melakukan diversifikasi cadangan devisanya yang diimbangi dengan menggunakan Euro.

Menurut analis strategi Washington, langkah ini secara tidak langsung dapat dikatakan efektif untuk memotong nilai mata uang Dollar dalam setiap transaksi perdagangan minyak (devaluation pressure on dollar) yang dapat mengakibatkan, cepat atau lambat, berakhirnya kekuatan Dollar. Cina juga telah mulai mengimbangi cadangan devisanya dengan Euro. Iran yang mempunyai kapasitas produksi sekitar 3,6 juta bph, sebagian hasil produksi minyaknya yang diekspor dibayar dengan Euro. Demikian pula, Jordania, Syria, dan Rusia.

Di kawasan Asia Tenggara, lonceng perlawanan terhadap Dollar juga telah dibunyikan pada bulan Mei tahun 2003, yaitu pengumuman oleh Perdana Menteri Malaysia, Mahatir Muhamad sewaktu acara inaugrasi export LNG ke Korea Selatan, akan mulai menggunakan Euro.

Dan ternyata selang beberapa waktu, pernyataan itu menimbulkan reaksi dari Washington, dengan memberikan anjuran (travel warning) kepada warga Amerika untuk tidak pergi ke Malaysia, terutama ke Sabah lantaran kota tersebut diduga merupakan sarang organisasi AI-Qaeda.

Pemimpin Libya, Qaddafi, pada tahun 1986 dan 2000, pernah menyelenggarakan konferensi negara-negara Afrika, berupaya mengajak mereka agar menggunakan emas saat bertransaksi minyak. Beberapa bulan sebelum Libya diserbu NATO (2011), dia juga kembali menyeru negara-negara Afrika dan muslim untuk membuat mata uang baru yang akan menandingi Dollar dan Euro. Namun ajakan Qaddafi belum terwujud karena ia terbunuh dalam operasi militer NATO.

(bersambung)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL