dirgo_purboOleh: Dirgo D. Purbo

Pengantar: mulai pekan lalu LI menghadirkan analisis berseri Keamanan Energi Indonesia, yang diambil dari paper karya pakar geopolitik Indonesia, Dirgo D Purbo. Analisis ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita tentang pentingnya keamanan energi (energy security) dan bagaimana strategi untuk mencapainya.
Berikut ini bagian kedua. (baca: bagian pertama)

Kapasitas Produksi Nasional

Dalam kaitannya produksi minyak nasional, saat ini kemampuan produksi minyak nasional Indonesia hanya berkisar 950 ribu bph untuk menopang kehidupan penduduk 220 juta orang. Angka tingkat produksi diatas tersebut pernah terjadi pada tahun 1971 dimana penduduknya pada waktu itu masih berkisar 110 juta orang. Dengan kondisi ini, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia harus impor lebih dari 13 negara, secara kombinasi crude oil dan BBM sebesar satu juta bph. Tidak hanya minyak, gas alam pun Indonesia harus impor untuk kebutuhan feedstock pabrik pupuk dan juga untuk pembangkit tenaga listrik.

Sementara itu untuk produksi gas alam rata2 mencapai 7.8 bcf per hari, juga mengalami penurunan sekitar 2 % dari tahun 2004. Indonesia mempunyai 60 cekungan hidrokarbon. Produksi minyak dan gas alam saat ini dihasilkan dari sekitar 15 cekungan. Peningkatan produksi masih bisa ditambah lagi dari 8 cekungan yang sudah terbukti akan tetapi belum memasuki tahap produksi, sedangkan 14 cekungan masih dalam tahap eksplorasi. Jadi masih ada sekitar 23 cekungan yang belum dieksplorasi.

Sejalan dengan penurunan produksi nasional secara alami, Indonesia pada tahun 2007 harus mengimpor sekitar 1 juta bph dengan perinciannya yang terdiri dari impor minyak mentah sekitar 500 ribu bph dan BBM 500 ribu bph. Perlu dicermati juga bahwa Indonesia setelah tahun 2004 adalah bagian dari pemicu tingginya harga minyak internasional dikarenakan Indonesia harus impor sekitar satu juta barel per hari, yang artinya mewakili lebih dari 1% permintaan dunia.

Selagi Indonesia sebagai negara pengekspor gas alam (LNG) pada kenyataannya di dalam negeri sedang mengalami defisit. Dan untuk menutupnya, Indonesia terpaksa impor gas agar PLN, pabrik pupuk, keramik, dan berbagai industri lainnya dapat tetap hidup.
Meskipun Indonesia masih ada 23 cekungan yang belum diekplorasi, akan tetapi Indonesia tetap harus menerapkan strategi cadangan foreign oil, terutama dari kawasan heartland agar terhindar dari tingginya harga saat membeli minyak pada pasar internasional. Cadangan minyak terbukti di Indonesia itu ibaratnya uang deposito di bank. Yang membedakannya, deposito minyak itu tidak teredusir nilainya oleh inflasi.
Contohnya, hak kelola ladang Cepu pada waktu tahun 2006 lepas dari Pertamina dengan cadangan sebesar 600 juta barel pada harga minyak US$50 per barel, mempunyai nilai sebesar US$30 miliar. Hanya dua tahun kemudian, harga minyak naik sekitar US$100 per barel, setara dengan US$ 60 miliar. Bayangkan, hanya dalam tempo dua tahun, ketika hak kelola dilepas, kita kehilangan US$30 miliar. Belum lagi bila dihitung cadangan gas alamnya.

Semua ini membuktikan bahwa minyak selalu berkaitan dengan dimensi geopolitik, geostrategi, dan geoekonomi, baik bagi negara penghasil minyak dan juga termasuk bagi negara konsumen.

Indonesia-Iran vs Amerika
Lepasnya hak kelola ladang Cepu pada waktu tahun 2006 dari Pertamina dan hanya dalam tempo dua tahun kita kehilangan kesempatan meraup US$30 miliar, menunjukkan titik strategis menjadi operator dari suatu ladang minyak yang cadangannya sudah terbukti. Artinya, tidak seharusnya kita mudah melepas hak kelola ladang migas kita begitu saja.

Untuk memenuhi kebutuhan BBM dan gas dalam negri yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada awal bulan Maret 2008 melakukan kunjungan kenegaraan ke Iran dengan agenda utamanya untuk meneruskan pembicaraan soal pembangunan proyek kilang minyak. Pembangunan kilang ini direncanakan dibangun di Banten dengan kapasitas 300 ribu barel per hari yang akan menelan biaya investasi sebesar US$ 6 miliar.

Dikabarkan bahwa Iran akan memberi jaminan suplai minimal sebesar 150 ribu barel per hari dari ladang Soroush dan Nowrouz. Di samping itu juga, akan dibangun pabrik pupuk senilai 470 juta euro,dengan kondisi bahwa Iran akan menjamin pasokan gasnya dengan harga US$ 1 /mmbtu. Pada kesempatan yang sama, PLN juga berupaya untuk mendapatkan suplai gas dari Iran. Kalau proyek-proyek tersebut sudah terealisasi, maka tentunya Indonesia tidak akan luput untuk memonitor perkembangan geopolitik di kawasan Heartland.

Sayangnya, kerjasama itu tak kunjung terealisasi karena tekanan AS terhadap pemerintah Indonesia. Sebagaimana diketahui, AS memang selalu mengancam negara-negara lain agar tidak bekerja sama dengan Iran. Ada negara-negara berkembang yang berani melawan, seperti Malaysia atau Vietnam. Namun, sayangnya Indonesia tak (belum) berani melawan.

(bersambung ke bagian ketiga)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL