Orang Syiah Sering Dipersekusi Saat Memperingati Asyura, Begini Tanggapan Habib Husein Alkaf

0
796

LiputanIslam.com –Akhir-akhir ini, kasus-kasus persekusi yang dilakukan kelompok intoleransi yang menyasar kelompok-kelompok minoritas kembali marak. Salah satu kelompok minoritas yang sering menjadi sasaran persekusi adalah kaum Syiah.

Tanggal 10 Muharram diperingati oleh orang Syiah (dan sebagian kaum Muslimin Sunni) sebagai hari Asyura, yaitu hari wafatnya cucu Rasulullah SAW, Sayyidina Husein ra. Di hari itu, Husein dibunuh dengan cara yang sangat keji, yaitu kepalanya dipenggal, dan kepalanya itu ditancapkan di atas tombak, untuk kemudian diarak dari kota Kufah di Irak hingga Damaskus di Suriah.

Orang-orang Syiah di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, mengadakan acara khusus pada hari itu. Akan tetapi, acara peringatan tersebut sering dibumbui dengan kericuhan dan persekusi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok intoleran.

Di kota Bandung, Jawa Barat, salah satu komunitas Syiah yang rutin mengadakan acara peringatan Asyura adalah Husayniah Az-Zahra yang dipimpin oleh Habib Husein bin Muhammad Alkaf. Liputan Islam (LI) berkesempatan mewawancarai Habib Husein terkait dengan peringatan Asyura yang dilakukan oleh orang-orang Syiah, berikut ancaman persekusi yang sering menyertai peringatan Asyura itu.

Liputan Islam (LI): Awal Agustus lalu, terjadi persekusi yang dilakukan oleh kelompok intoleran ke kediaman Habib Umar Assegaf, di Solo. Apakah persekusi seperti itu pernah juga dialami oleh Husayniah Az-Zahra, Bandung?

Habib Husein (HH): Ya, kami juga mengikuti dengan seksama kasus persekusi brutal di Solo itu. Sangat memprihatinkan. Husayniah Az-Zahra belum pernah mengalami peristiwa persekusi dalam bentuk serangan fisik. Tapi kalau berdemo di depan Husainiyah, mereka pernah melakukannya beberapa kali. Juga pernah terjadi pemasangan spanduk secara paksa di bangunan Husayniah, yang isinya kecaman terhadap kegiatan-kegiatan kami.

LI: Liputan Islam pernah menurunkan investigasi (sumber) terkait kasus persekusi tersebut. Kami menemukan bahwa alasan persekusi itu bisa disebut “ngawur”. Pertama, mereka mengira itu adalah acara peringatan Idul Ghadir, dan faktanya, itu adalah upacara doa sebelum pernikahan. Kedua, mereka juga mengira bahwa pada peringatan Idul Ghadir, orang-orang Syiah melakukan ritual caci-maki terhadap Sahabat Nabi. Padahal, ritual tersebut tidak pernah ada. Apakah ketika Husayniah Az-Zahra didemo atau dipasangi spanduk, kaum intoleran itu menggunakan alasan yang juga “ngawur”?

HH: Kurang lebih alasannya sama. Dan saya kira, semua alasan persekusi, baik demo maupun pernyataan-pernyataan kebencian atau permusuhan terhadap Syiah tidak benar sama sekali, seperti caci-maki kepada para sahabat Nabi SAW. Kami, orang-orang Syiah, meyakini bahwa caci-maki atau dalam istilah Al-Quran dan hadis diwebut “sabb“ adalah perbuatan yang dilarang. Bahkan terhadap para penyembah patung pun, kita dilarang untuk mencaci-maki. Di dalam surah Al-An’am ayat 108, Allah SWT berfirman, “Janganlah kalian mencaci maki orang-orang yang menyembah selain Allah, (karena) mereka akan mencaci-maki Allah dengan permusuhan dan tanpa pengetahuan.”

LI: Tapi, bukankah memang ada orang Syiah yang suka mencaci-maki Sahabat?

HH: Memang ada saja oknum dari Syiah yang suka mencaci-maki Sahabat Nabi SAW. Akan tetapi, itu adalah berangkat dari sikap pribadi yang salah dan kami yakini bahwa itu adalah perbuatan dosa. Jumlah mereka sangat sedikit, dan artinya, tidak bisa digeneralisasi bahwa semua orang Syiah suka mencaci-maki Sahabat.

Sikap yang sama juga kami ambil manakala ada sekelompok kecil Ahlus Sunnah atau golongan Islam lainnya yang melakukan dosa dan maksiat. Tentu kami tak akan mengecam Ahlu Sunnah karena ulah segelintir orang itu.

LI: Sikap apa yang sebaiknya diambil ketika mendapati perilaku yang terindikasi mengandung kesesatan yang dilakukan oleh orang lain?

HH: Seperti yang diajarkan oleh Al-Quran, langkah terbaik adalah melakukan klarifikasi atau tabayyun kepada ulama dan tokoh dari semua golongan jika terjadi hal-hal semacam itu.

LI: Apakah selama ini ada yang melakukan tabayun kepada orang-orang Syiah terkait berbagai isu tersebut?

HH: Alhamdulillah, sudah banyak yang melakukan tabayun, dan alhamdulillah, bisa terjalin saling pengertian atau tafahum. Saya ucapkan terima kasih kepada mereka yang sudi melakukan tabayun tersebut.

LI: Dari kelompok intoleran?

HH: Itulah yang sangat disayangkan. Kelompok-kelompok yang Anda sebut sebagai kaum intoleran itu sejauh ini enggan melakukan tabayun tersebut. Padahal, tabayun adalah salah satu ajaran Al-Quran.

LI: Sebelum terjadinya persekusi di Solo, kami menemukan bahwa sejumlah situs intoleran seperti nahi munkar melakukan provokasi terkait apa yang sebut sebagai ritual sesat Idul Ghadir. Sekarang bulan Muharram, dan orang-orang Syiah akan mengadakan peringatan Asyura tanggal 10 Muharram nanti. Apakah kelompok intoleran itu juga melakukan provokasi?

HH: Di Bandung, ada satu lembaga yang didirikan secara khusus untuk membenci dan memusuhi Syiah, namanya ANNAS, singkatan dari Aliansi Nasional Anti Syiah. Mereka hampir tiap tahun melakukan provokasi kebencian kepada Syiah dengan berbagai macam cara, termasuk berdemo. Beberapa hari yang lalu telah viral pernyataan dari ANNAS yang isinya meminta pemerintah daerah agar melarang Syiah untuk mengadakan peringatan Asyura’. Saya heran, mengapa mereka keberatan dengan peringatan Asyura’. Padahal Asyura’ telah menjadi budaya bangsa Indonesia, bukan lagi sebuah ritual keagamaan. Artinya, Asyura sudah mengakar dalam bangsa kita ini. Aneh bin ajaib.

LI: Sudah menjadi budaya bangsa Indonesia? Bisa dijelaskan maksudnya?

HH: Kita bisa melihatnya dengan sangat jelas pada berbagai upacara adat yang tersebar di seluruh Nusantara. Orang Jawa menyebut Muharram dengan nama bulan Suro, dan itu adalah kependekan dari Asyuro. Lalu, di tanggal 10 Muharram, orang-orang Jawa biasa memasak bubur merah dan bubur putih, dan itu dikaitkan dengan peristiwa Asyura. Di Bengkulu dan Pariaman (Sumatera Barat) juga ada upacara adat mengusung keranda sebagai simbol jenazah Imam Husein, pada tiap tanggal 10 Muharram. Dan itu masih terus berlangsung sampai sekarang. Nah, kalau Syiah melakukan peringatan yang sama, kenapa malah dilarang?

LI: ANNAS Anda sebut sebagai organisasi yang dibuat secara khusus untuk membenci dan memusuhi Syiah. Bagaimana tanggapan Anda terhadap keberadaan organisasi tersebut?

HH: Saya bukan orang hukum. Jadi, tidak begitu faham soal legalitas lembaga tersebut. Akan tetapi, saya merasa ada yang aneh dari organisasi ini. Saya kira, inilah satu-satunya organisasi di Indonesia yang asasnya adalah penentangan terhadap kelompok lain. Saya tidak tahu, apakah sistem perundang-undangan di Indonesia memperbolehkan berdirinya organisasi yang dari namanya saja sudah jelas-jelas punya visi dan misi kebencian kepada kelompok lain.

LI: Bagaimana dengan kegiatan-kegiatan orang-orang Syiah secara hukum di Indonesia? Apakah kegiatan-kegiatan orang-orang Syiah ini legal?

HH: Sebelum kita bicara legalitas kegiatan-kegiatan, ada satu prinsip yang sangat penting untuk kita pegang bersama-sama. Sejatinya kegiatan keagamaan atau kebudayaan boleh dilakukan oleh siapapun selama tidak mengganggu ketenangan warga dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma dan nilai umum, baik sebagai umat beragama atau sebagai masyarakat.

Apalagi kegiatan-kegiatan kaum Syiah jelas-jelas legal secara hukum sipil NKRI. Segala aktivitas kami selalu dikoordinasikan dengan aparat keamanan. Bisa dikatakan bahwa yang keberatan dengan kegiatan kami ini hanyalah kelompok yang Anda katakan sebagai kaum intoleran tersebut.

LI: Apakah Anda ingin mengatakan bahwa karena kegiatan orang-orang Syiah ini legal, maka, upaya pembubaran paksa atas kegiatan-kegiatan tersebut justru yang ilegal?

HH: Logika hukum yang berlaku di negara kita saya yakin seperti itu. Sebutlah kegiatan apapun yang legal secara hukum, dan tak ada pelanggaran apapun di dalamnya, seperti berdagang, berolahraga, belajar, dan menggelar pengajian. Jika ada orang yang memaksa pembubaran kegiatan-kegiatan tersebut, saya yakin tindakan pembubaran itu yang menjadi ilegal.

LI: Bagaimana jika alasannya adalah ketidaksetujuan mereka dengan apa yang dilakukan orang Syiah?

HH: Tidak setuju atau tidak suka terhadap Syiah saya kira tidak bisa menjadi alasan untuk melakukan provokasi dan pembubaran. Bahwa mereka tidak suka dengan Syiah, itu hak mereka. Tapi memprovokasi dan membubarkan kegiatan Syiah menurut saya sudah melanggar hak warga untuk berkegiatan.

LI: Sekarang kita bicara tentang substansi dari surat ANNAS tersebut. Dikatakan bahwa alasan pelarangan terhadap kaum Syiah adalah beberapa hal yang sangat krusial, yaitu pelaknatan sahabat, meragukan otentisitas Al-Quran, nikah mut’ah, dan keyakinan atas kemaksuman para imam. Bisa Anda tanggapi keempat isu itu?

HH: Sebenarnya semua yang mereka tuduhkan terhadap Syiah tidak ada yang baru. Itu lagu lama dan telah usang. Mereka hanya mengulang-ulang saja agar mereka bisa tetap hidup; agar ada yang bisa mereka kerjakan. Menyebar fitnah adalah oksigen mereka. Jawaban atas masalah-masalah tersebut sudah disampaikan dalam ceramah-ceramah ulama syiah yang representatif, juga telah dituliskan dalam bentuk buku-buku. Misalnya, di Indonesia, ada buku berjudul “Syiah Menurut Syiah”, “Buku Putih Ahlul Bait Indonesia (ABI)”, dan puluhan buku-buku lainnya, baik merupakan tulisan orang-orang Syiah Indonesia ataupun buku terjemahan. Di buku-buku tersebut sudah dijelaskan jawaban atas tuduhan di atas, dan juga tuduhan-tuduhan lainnya.

LI: Bisa Anda sampaikan jawaban terkait dengan poin yang ditanyakan?

HH: Baik, misalnya tentang masalah yang paling krusial, yaitu otentitas Al-Quran. Saya yakin semua kaum Muslimin di dunia mengetahui bahwa Iran, sebagai Negara Syiah, telah melahirkan para hafidz (penghapal AL-Quran) yang sangat banyak, dan Iran sering mengikuti MTQ tingkat internasional dan berkali para qari-nya menjadi juara internasional. Bahkan, rekor penghapal Al-Quran termuda di abad modern ini adalah seorang Muslim Syiah bernama Muhammad Husein Thabathabai. Dia menghapal Al-Quran di usia lima setengah tahun. Dia bahkan berhasil meraih gelar doktor honoris causa di usia tujuh tahun, karena prestasinya di bidang hapalan dan tafsir Al-Quran. Al-Quran yang dia hapal itu sama dengan yang ada di tangan kaum Muslimin lainnya. Jika orang Syiah meyakini Al-Quran yang berbeda, untuk apa capek-capek menghapalkan Al-Quran yang ada sekarang ini?

Menurut saya, jika masih ada saja yang menuding bahwa Al-Quran Syiah berbeda dengan Al-Quran Sunni, sebenarnya dia telah membohongi dirinya sendiri dan tidak meyakini jaminan Allah SWT bahwa Dia yang akan menjaga otentitas kitab-Nya.

LI: Bagaimana dengan tuduhan mencaci-maki Sahabat ra?

HH: Itu sudah dijelaskan di atas bahwa caci-maki dilarang kepada siapapun, apalagi kepada Sahabat Nabi. Kami tidak melakukannya. Ulama-ulama kami sudah secara jelas menyampaikan fatwa keharaman melakukan caci-maki terhadap Sahabat dan istri Nabi.

LI: Bagaimana dengan nikah mut’ah dan keyakinan terhadap kemaksuman para imam?

HH: Dua masalah ini sudah kami jelaskan berkali-kali. Syiah memang punya keyakinan atas dua isu ini, dengan beberapa dalil yang berasal dari Al-Quran. Hanya saja, perlu segera kami tambahkan bahwa kaum intoleran itu sekali lagi melakukan pemelintiran atas keyakinan kami atas dua isu itu. Nikah mut’ah mereka samakan dengan zina; dan pemaksuman terhadap para imam mereka samakan dengan mempertuhankan manusia. Na’udzu billahi min dzalik. Konsep nikah mut’ah dan kemaksuman yang kami yakini berbeda jauh dengan apa yang dituduhkan oleh kaum intoleran itu. Sekali lagi, mestinya mereka ber-tabayun dulu, bertanya tentang apa yang mereka tuduhkan itu.

LI: ANNAS juga mengatakan bahwa kasus-kasus di Sampang, Halmahera, dan Solo adalah kesalahan orang-orang Syiah, sehingga, jika tidak ingin peristiwa-peristiwa tersebut terulang, orang-orang Syiah harus dilarang melakukan kegiatan apapun, karena pasti akan menciptakan keresahan. Bagaimana tanggapan Anda?

HH: Ini juga yang membuat saya bingung. Mereka bilang bahwa kegiatan kami meresahkan. Apanya yang meresahkan? Kami tidak mencaci-maki Sahabat, dan kami tidak menistakan Al-Quran. Apakah hanya karena kami “berbeda” dengan mereka lalu kami dianggap meresahkan? Jika alasannya adalah karena kami “berbeda”, maka, menurut saya, perbedaan itu akan meresahkan orang yang berpikiran sempit atau orang yang takut kehilangan pamor. Ibaratnya seperti orang yang memiliki toko kecil dan sepi akan tersinggung dan marah ketika di sampingnya ada yang membuka toko baru. Mereka marah karena takut tersaingi. Padahal setiap orang boleh membuka toko selama sesuai dengan aturan yang berlaku.

Nah, kelompok-elompok intoleran yang terganggu dengan Syiah sesungguhnya mereka tidak percaya diri dengan ajaran mereka sendri sehingga takut kalah saingan. Mereka tidak siap berkompetisi di era keterbukaan. Maka cara yang paling ampuh bagi mereka adalah membuat fitnah dan memprovokasi masyarakat akan bahaya Syiah dan mengatakan bahwa ajaran Syiah meresahkan.

Syiah adalah kelompok di dalam Islam yang berpegang dengan Al-Quran, melakukan salat lima kali sehari dan semua rukun-rukun Islam lainnya. Kami berpuasa di bulan Ramadhan, berzakat, berhaji, serta mengimani semua yang diimani kaum Musliman lainnya.

LI: Khusus terkait pelaksanaan peringatan Asyura, ada yang mengatakan bahwa orang-orang Syiah itu melaknat para sahabat yang dianggap membunuh cucu Rasulullah Sayidina Husein ra. Juga dikatakan bahwa orang-orang Syiah melakukan ritual melukai diri, sesuatu yang dilarang di dalam agama Islam. Apa tanggapan Anda terhadap dua isu tersebut?

HH: Dalam peringatan Asyura, orang-orang Syiah ingin mengingat kesyahidan cucu Nabi SAW dan mengambil pelajaran dari peristiwa itu seperti pengorbanan, amar makruf-nahi munkar, kesetiaan, dan lain sebagainya. Peristiwa Asyura tidak ada kaitannnya dengan para sahabat Nabi SAW. Yang melakukan pembantaian terhadap Imam Husein adalah Yazid, dan dia bukan tergolong sahabat. Tak ada kecaman terhadap Sahabat saat memperingati Asyura, kecuali kalau Yazid disebut Sahabat.

Lalu terkait dengan ritual melukai diri, kami juga sependapat bahwa itu adalah perbuatan yang dilarang oleh agama.Para ulama kami dengan tegas mengharamkan segala perbuatan yang melukai diri sendiri. Jika ada orang Syiah melakukan itu, sekali lagi, jumlah mereka sangat kecil. Para ulama kami sudah menegur dan mengecam ritual sesat tersebut.

LI: Jika kedua isu tersebut hanya fitnah, apa sih sebenarnya yang dilakukan oleh orang-orang Syiah ketika memperingati Asyura?

HH: Biasa saja. Mereka biasanya mendengarkan ceramah tentang hikmah dan pelajaran dari peristiwa Asyura’, sejarahnya dan membacakan syair-syair duka tentang Imam Husain as.

LI: Bagaimana dengan sikap aparat keamanan terhadap persekusi-persekusi tersebut, khususnya yang terjadi di daerah Bandung, dan umumnya yang terjadi di komunitas Syiah di seluruh Indonesia? Apakah aparat keamanan sudah melaksanakan tugasnya secara proporsional?

HH: Harapan kami, aparat keamanan bertindak profesional dan adil. Jika ada pihak yang melakukan persekusi dan kerusakan hendaknya ditindak sesuai hukum yang berlaku. Tidak perlu gamang dan ragu. Selama ini, maaf, secara pribadi, saya tidak melihat hal itu ditunjukkan oleh aparat keamanan di Bandung sebagaimana mestinya. Selama ini, terjadi pembiaran atas tindakan-tindakan persekusi tersebut.

Tapi untuk kejadian di Solo, alhamdulillah, pihak keamanan sangat tegas dan cepat bertindak kepada pelaku kerusuhan. Hal itu harus diapresiasi. Saya berharap aparat keamanan di Bandung bisa meniru sikap-sikap profesional yang ditunjukkan oleh aparat keamanan di Jawa Tengah, mulai dari Polsek, Polres hingga Polda-nya

LI: Sebagian aparat keamanan mengatakan bahwa mereka harus berada di tengah-tengah saat berhadapan dengan pertikaian di antara dua kelompok yang berseteru.

HH: Ini bukan pertikaian di antara dua kelompok. Ini terkait dengan persekusi yang dilakukan oleh kelompok intoleran terhadap kelompok lain yang sedang melakukan kegiatan yang legal. Lihatlah yang dilakukan aparat kemanan di Solo. Apakah aparat kepolisian di sana mengambil posisi sebagai penengah? Saya kira tidak demikian. Mereka dengan tegas menindak para perusuh dan perusak. Di Solo dan Jawa Tengah, aparat keamanan telah bertindak benar untuk memberantas kelompok-kelompok intoleran dan radikal yang mengancam keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (os/LI)

DISKUSI: