Tes PCR COVID-19 Secara Ilmiah Tidak Berguna dan Irasional

0
164

LiputanIslam.com — Meskipun seluruh dunia bergantung pada tes PCR untuk mendiagnosis infeksi virus Sars-Cov-2 (COVID-19), namun secara ilmiah hal tersebut tidak berguna.

Penanganan pasien di seluruh dunia didasarkan pada jumlah kasus dan tingkat kematian yang diciptakan oleh apa yang disebut tes RTS-PCR SARS-CoV-2 yang digunakan untuk mengidentifikasi pasien “positif”, di mana “positif” biasanya disamakan dengan “terinfeksi.” Tetapi melihat fakta-faktanya, kesimpulannya adalah bahwa tes PCR ini tidak berguna sebagai alat diagnostik untuk menentukan dugaan infeksi oleh virus yang diduga baru bernama SARS-CoV-2 tersebut.

Pada acara briefing media tentang COVID-19 pada 16 Maret 2020 kemarin, Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, “Kami memiliki pesan sederhana untuk semua negara: tes, tes, tes.”

Pesan itu kemudian menyebar melalui berita utama di seluruh dunia, misalnya oleh Reuters dan BBC.

Masih pada tanggal 3 Mei, moderator jurnal kesehatan – salah satu majalah berita paling penting di televisi Jerman – menyampaikan mantra dogma korona kepada para pendengarnya dengan kata-kata peringatan, “Tes, tes, tes — itulah satu-satunya cara untuk benar-benar memahami seberapa banyak virus korona telah menyebar di suatu negara.”

Ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap validitas tes PCR begitu kuat sehingga sama dengan agama yang tidak menoleransi bahkan hampir tidak ada kontradiksi.

Penemu PCR, Kary Mullis, meninggal tahun lalu pada usia 74 tahun. Belum ada keraguan di sebagian ahli biokimia yang menganggap PCR sebagai alat yang tidak tepat untuk mendeteksi infeksi virus.

Alasannya adalah bahwa tujuan penggunaan PCR adalah mereplikasi urutan DNA jutaan dan milyaran kali, dan bukan sebagai alat diagnostik untuk mendeteksi virus.

Tes PCR tidak memiliki standar emas yang valid dan paling akurat. spesialis penyakit menular Australia Sanjaya Senanayake, misalnya, menyatakan dalam sebuah wawancara TV ABC “Seberapa akurat pengujian [COVID-19]?” Ia menjawab bahwa untuk COVID-19, kami tidak memiliki tes standar emas.

Jessica C. Watson dari Universitas Bristol membenarkan hal ini. Dalam makalahnya berjudul “Menafsirkan hasil tes COVID-19”, yang diterbitkan baru-baru ini di The British Medical Journal, ia menulis bahwa “kurangnya ‘standar emas’ yang jelas untuk pengujian COVID-19.”

Terlepas dari kenyataan bahwa benar-benar tidak masuk akal untuk mengambil tes PCR itu sendiri sebagai bagian dari standar emas untuk mengevaluasi tes PCR, tidak ada gejala khusus yang khas untuk COVID-19, karena bahkan orang-orang seperti Thomas Löscher, mantan kepala Departemen Infeksi dan Kedokteran Tropis di Universitas Munich dan anggota Asosiasi Federal Internis Jerman, mengakui hal tersebut kepada kami.

Sekarang pertanyaannya adalah: Apa yang diperlukan pertama kali untuk bukti virus? Kita perlu tahu dari mana RNA tes PCR dikalibrasi berasal.

PCR sangat sensitif, yang berarti dapat mendeteksi potongan DNA atau RNA terkecil, tetapi tidak dapat menentukan dari mana partikel-partikel ini berasal. Itu harus ditentukan sebelumnya.

Dan karena tes PCR dikalibrasi untuk sekuens gen (dalam hal ini sekuens RNA karena SARS-CoV-2 diyakini sebagai virus RNA), kita harus tahu bahwa cuplikan gen ini adalah bagian dari virus yang dicari. Dan untuk mengetahui hal itu, bukti pemurnian yang benar dari virus yang diduga harus dijalankan.

Oleh karena itu, kami telah meminta tim sains dari makalah yang relevan yang dirujuk dalam konteks SARS-CoV-2 sebagai bukti apakah bidikan mikroskopis-elektron yang digambarkan dalam eksperimen in-vitro mereka menunjukkan virus yang sebenarnya.

Awal 2020, para peneliti mengklaim penemuan coronavirus baru, mereka mengakui tidak memiliki bukti bahwa asal genom virus adalah partikel seperti virus atau puing seluler, murni atau tidak murni, atau partikel dalam bentuk apa pun. Dengan kata lain, keberadaan RNA SARS-CoV-2 didasarkan pada iman, bukan fakta.

Ini sebenarnya berarti bahwa seseorang tidak dapat menyimpulkan bahwa sekuens gen RNA, yang diambil oleh para ilmuwan dari sampel jaringan yang disiapkan dalam percobaan in vitro untuk kalibrasi tes PCR SARS-CoV-2. Tidak ada bukti ilmiah bahwa sekuens RNA tersebut adalah agen penyebab dari apa yang disebut COVID-19.

Selain itu, ada fakta bahwa beberapa hasil tes PCR ternyata tidak rasional. Sebagai contoh, pada bulan Februari kemarin, otoritas kesehatan di provinsi Guangdong China melaporkan bahwa orang-orang yang telah sepenuhnya pulih dari COVID-19, dengan hasil tes PCR “negatif”. Kemudian ketika diuji lagi, hasilnya “positif” lagi.

Sebulan kemudian, sebuah makalah yang diterbitkan dalam Journal of Medical Virology menunjukkan bahwa 29 dari 610 pasien di sebuah rumah sakit di Wuhan memiliki 3 hingga 6 hasil tes yang terbalik-balik antara “negatif”, “positif”, dan “meragukan”.

Baca juga: Benarkah tak ada pasien yang meninggal karena virus corona?

Contoh ketiga adalah penelitian dari Singapura di mana tes dilakukan hampir setiap hari pada 18 pasien dan mayoritas beralih dari “positif” menjadi “negatif” dan kemudian menjadi “positif” lagi. Setidaknya hingga lima kali pada satu pasien.

Bahkan Wang Chen, presiden Akademi Ilmu Kedokteran Tiongkok, mengakui pada bulan Februari lalu bahwa tes PCR hanya memiliki 30 hingga 50 persen keakuratan. Sementara Sin Hang Lee dari Milford Molecular Diagnostics Laboratory mengirim al etter ke tim tanggapan coronavirus WHO dan kepada Anthony S. Fauci pada 22 Maret 2020, mengatakan bahwa:

“Telah dilaporkan secara luas di media sosial bahwa kit uji RT-qPCR [Reverse Transcriptase kuantitatif PCR] yang digunakan untuk mendeteksi SARS-CoV-2 RNA dalam spesimen manusia menghasilkan banyak hasil positif palsu dan tidak cukup sensitif untuk mendeteksi beberapa kasus positif.”

Dengan kata lain, bahkan jika kita secara teoritis berasumsi bahwa tes PCR ini benar-benar dapat mendeteksi infeksi virus, tes tersebut sebenarnya tidak berguna, dan hanya akan menyebabkan ketakutan yang tidak berdasar di antara orang-orang “positif” yang dites. (Ay/Guardian)

DISKUSI: