Benarkah tak ada pasien yang meninggal karena virus corona?

0
486

Sumber: Kompas

LiputanIslam.com — Sebuah penelitian terbaru dari seorang ahli patologi Bulgaria terkemuka bernama Dr. Stoian Alexov melaporkan bahwa ia dan rekan-rekannya di seluruh Eropa belum menemukan bukti adanya kematian pasien dari virus corona di benua itu.

Dr. Stoian Alexov menyebut bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah “organisasi medis kriminal” karena menciptakan ketakutan dan kekacauan di seluruh dunia tanpa memberikan bukti pandemi yang dapat diverifikasi secara obyektif. Ia juga mengatakan bahwa saat ini belum memungkinkan untuk mereka membuat vaksin melawan virus tersebut.

Dia juga mengungkapkan bahwa patolog Eropa belum mengidentifikasi antibodi yang spesifik untuk SARS-CoV-2.

Pernyataan yang menakjubkan ini menimbulkan pertanyaan besar, termasuk tentang klaim pejabat dan ilmuwan tentang banyaknya vaksin yang mereka telah uji coba secara klinis di seluruh dunia.

Mereka juga menimbulkan keraguan tentang kebenaran klaim penemuan antibodi virus corona (yang mulai digunakan untuk mengobati pasien).

Antibodi spesifik virus corona baru diduga menjadi dasar bagi uji coba mahal yang digunakan di banyak negara (beberapa di antaranya telah ditemukan tidak akurat dan tidak dapat diterima).

Dan konon mereka adalah kunci bagi sertifikat imunitas yang didambakan oleh Bill Gates yang akan digunakan secara luas – dalam bentuk COVI-PASS – di 15 negara termasuk Inggris, AS, dan Kanada.

Dr. Alexov melakukan pengamatan dalam sebuah wawancara video yang merangkum konsensus para peserta dalam sebuah webinar European Society of Pathology (ESP) pada 8 Mei 2020.

Di antara pendapat utama yang dijatuhkan Dr. Alexov adalah bahwa para pemimpin webinar ESP 8 Mei mengatakan tidak ada antibodi khusus virus corona yang telah ditemukan sejauh ini.

Tubuh membentuk antibodi khusus untuk patogen yang dihadapinya. Antibodi spesifik ini dikenal sebagai antibodi monoklonal dan merupakan alat utama dalam patologi. Ini dilakukan melalui imunohistokimia, yang melibatkan penandaan antibodi dengan warna dan kemudian melapisi slide jaringan biopsi atau autopsi. Setelah memberikan waktu antibodi untuk mengikat patogen yang spesifik, patolog dapat melihat slide di bawah mikroskop dan melihat tempat-tempat spesifik di mana antibodi ditemukan.

Oleh karena itu, dengan tidak adanya antibodi monoklonal pada virus corona, ahli patologi tidak dapat memverifikasi apakah SARS-CoV-2 ada dalam tubuh, atau apakah penyakit dan kematian yang dikaitkan dengannya memang disebabkan oleh virus tersebut atau disebabkan oleh sesuatu yang lain.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa penelitian terbaru dari Dr. Alexov hanya sebagai ‘teori konspirasi’. Setelah semua orang percaya bahwa virus corona ada di mana-mana hari ini.

Penting diketahui, Dr. Alexov memiliki catatan dan reputasi yang tidak dapat disangkal. Dia sudah menjadi dokter selama 30 tahun. Dia adalah presiden BPA, anggota Dewan Penasihat ESP, dan kepala departemen histopatologi di Rumah Sakit Onkologi di ibukota Bulgaria Sofia.

Selain itu, ada pendukung pendapat Dr. Alexov. Seperti, direktur Institute of Forensic Medicine di University Medical Center Hamburg-Eppendorf di Jerman mengatakan dalam wawancara media bahwa ada kelangkaan bukti kuat untuk kematian COVID-19.

Alexov menyatakan dalam wawancara 13 Mei bahwa:

“Kesimpulan utama [dari kita yang berpartisipasi dalam webinar 8 Mei] adalah bahwa otopsi yang dilakukan di Jerman, Italia, Spanyol, Prancis, dan Swedia tidak menunjukkan bahwa virus itu mematikan.”

Dia menambahkan bahwa:

“Apa yang dikatakan oleh semua ahli patologi adalah bahwa tidak ada orang yang meninggal karena virus corona. Saya akan ulangi bahwa: tidak ada yang meninggal karena virus corona.”

Dr. Alexov juga mengamati bahwa tidak ada bukti dari autopsi mereka bahwa siapa pun yang dianggap telah terinfeksi dengan coronavirus dan meninggal hanya karena reaksi peradangan yang dipicu oleh virus tersebut (muncul sebagai pneumonia interstitial) atau karena penyakit yang berpotensi fatal lainnya.

Pendapat selanjutnya dari Dr. Alexov adalah:

“Kita perlu melihat persis bagaimana proses pembuatan imunitas dan vaksin yang kita semua bicarakan, karena saya yakin [saat ini] tidak mungkin untuk membuat vaksin melawan COVID-19. Saya tidak yakin apa sebenarnya yang dilakukan Bill Gates dengan laboratoriumnya – apakah ini benar-benar vaksin yang dia hasilkan, atau yang lainnya?”

Oleh karena itu Dr. Alexov menyatakan bahwa:

“WHO menciptakan kekacauan di seluruh dunia, tanpa fakta nyata di balik apa yang mereka katakan.”

Di antara banyak cara WHO menciptakan kekacauan adalah dengan melarang otopsi orang yang dianggap telah meninggal karena COVID-19. Sebagai hasilnya, Dr. Alexov hanya boleh melakukan tiga otopsi di Bulgaria.

Juga, WHO mendikte bahwa setiap orang yang dikatakan terinfeksi virus corona yang kemudian meninggal harus dikaitkan dengan COVID-19.

Lebih lanjut, ia mengatakan:

“Saya benar-benar sedih bahwa kita harus mengikuti instruksi [WHO] bahkan tanpa memikirkannya. Tetapi di Jerman, Prancis, Italia dan Inggris mereka mulai berpikir bahwa kita tidak seharusnya mengikuti WHO dengan ketat, dan [sebagai gantinya] ketika kita menulis penyebab kematian kita harus memiliki beberapa patologi [hasil untuk mendukung hal itu] dan kita harus mengikuti protokol. Itu karena] ketika kita mengatakan sesuatu, kita harus bisa membuktikannya.”

Dia menambahkan bahwa otopsi bisa membantu mengkonfirmasi atau menyangkal teori bahwa banyak orang yang dianggap meninggal karena COVID-19 di Italia adalah sebelumnya mereka menerima vaksin flu H1N1. Karena, seperti yang dia perhatikan, justru vaksin tersebut menekan sistem kekebalan tubuh orang dewasa dan karena itu mungkin telah menjadi kontributor signifikan terhadap kematian mereka dengan membuat mereka jauh lebih rentan terhadap infeksi. (Ay/Guardian)

DISKUSI: