Pandemi covid-19 dan Jamu Herbal

0
5071

Sumber: Mongabay

LiputanIslam.com — Pasien yang dinyatakan positif covid-19 di Indonesia kian bertambah. Berdasarkan data terbaru, pasien positif corona sudah bertambah menjadi 369 orang. Sebanyak 32 orang diantaranya meninggal dan 17 orang dinyatakan sembuh. Hari Jumat ini saja, pasien positif bertambah 60 orang.

Pertambahan pasien positif berasal dari Bali, Banten, DIY, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kepulauan Riau. Melihat data di atas, tampak bahwa penularan covid-19 begitu cepat menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Hal ini tentu membuat mayoritas penduduk Indonesia panik, bahkan sejak hari diumumkan pasien pertama positif corona di Indonesia oleh Presiden Joko Widodo.

Di samping kepanikan tersebut, ada yang cukup melegakan masyarakat Indonesia, yaitu kabar bahwa jamu herbal yang tak asing dan sering dikonsumsi masyarakat Indonesia bisa menjadi salah satu obat penangkal corona. Kabar tersebut disampaikan langsung oleh kepala peneliti vaksin corona di Jawa Timur.

Beberapa saat kemudian, harga beberapa empon-empon yang menjadi bahan pembuatan jamu herbal pun melejit, bahkan di beberapa wilayah, menjadi langka.

Jamu herbal erat kaitannya dengan Serat Centhini (1814-1823) di masyarakat Jawa. Serat Centhini merupakan dokumentasi pengetahuan jamu tradisional yang pernah lestari di Jawa pada masa silam. Dicermati ada 80an ramuan dan jenis penyakit yang tersurat dalam Serat Centhini berhasil dikonfirmasi dan di-crosscheck kepada para informan.

Baca juga: Hadapi Corona, Persis: Jangan Panik dan Perkuat Solidaritas

Sekalipun usia Serat Centhini sudah dua abad lebih, ternyata kini masih bisa ditemukan beberapa jumlah bahan atau gampang dikenali. Namun tidak menutup kemungkinan, tidak sedikit pula aneka bahan hilang lantaran macetnya transfer knowledge (pengetahuan) resep lintas generasi dan bahannya sulit didapatkan di pasaran maupun pekarangan.

Menurut naskah Centhini dan sejumlah informan, orang Jawa mengobati penyakit batuk dengan bahan asem kawak, kelapa, kunir, dan terasi merah. Jenis obat lainnya untuk batuk, yaitu asem kawak diramu dengan kunci dan minyak kelapa. Sementara ramuan batuk tanpa dahak yang tidak dikenali adalah sunti dan gadarusa.

Ditemukan fakta-fakta jamu tradisional dalam Serat Centhini menegaskan bahwa pengetahuan jamu memang penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dicermati dari aspek temporal, aneka informasi jamu yang tertuang dalam Serat Centhini mampu melewati lorong waktu yang panjang (2019).

Jamu sebagai kekayaan pengetahuan Jawa dalam Serat Centhini adalah fakta sejarah lingkungan, bukan fiksi atau khayalan sebagaimana yang sering dialamatkan tatkala menilai kisah dalam karya sastra. Jamu yang terawat dalam memori kolektif masyarakat maupun didokumentasi Serat Centhini merupakan kearifan lingkungan yang harus dilestarikan, bukan komoditas pasar semata.

Sumber: Mongabay

Selagi mencuat kasus Virus Corona, mestinya pemerintah Indonesia getol mengangkat jamu berikut empon-empon. Unsur lokal ini sejatinya mencerminkan pula etos kemandirian leluhur Jawa di bidang pengobatan.

Seharusnya pemerintah Indonesia getol mengangkat jamu berikut empon-empon. Unsur lokal ini sejatinya mencerminkan pula etos kemandirian leluhur Jawa di bidang pengobatan. Jangan sampai redupnya kasus Corona, warisan kakek moyang ini kembali dicampakkan. Padahal, ia sudah membuktikan kehebatannya di tengah gejolak dunia internasional. (Ay/Antara)

DISKUSI: