Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Opini

Rukun NU dan Muhammadiyah

Published 03/04/2014 8 Min Read
Share
8 Min Read
SHARE
binneka
Bhineka Tunggal Ika

Oleh: Doni Febriando, Mahasiswa Universitas Gajah Mada Yogyakarta

Kondisi keagamaan di Indonesia pasca Reformasi 1998 memang mencemaskan. Agama yang seharusnya menjadi jalan hidup, justru dijadikan alasan bertikai. Tidak hanya antar pemeluk agama yang berbeda, jama’ah satu agama pun sering bertikai, karena masalah agama.

Kita bicara internal agama Islam saja. Karena, bagaimana bisa membicarakan toleransi antar umat beragama, jika kondisi internal umat Islam di Indonesia kacau-balau?

Kalau zaman Orde Baru dulu, organisasi NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah relatif damai, karena kebebasan berpendapat memang dibatasi. Mungkin karena kran demokrasi dibuka oleh Era Reformasi, banyak orang kini sangat bebas berpendapat, bahkan cenderung seperti lomba paling keras suaranya.

Menjadi masalah di kemudian hari, perlombaan keras-kerasan suara tersebut, kemudian mengarah ke “pembasmian” suara yang tidak sejalan. Jika orang A berpendapat A, maka ia akan berusaha menyalahkan pendapat B, C, dan D.

Perang Saudara dan Pembodohan

Indonesia itu negara yang luas wilayahnya, subur tanahnya, kaya sumber daya alam, dan banyak penduduknya. Maksud saya, “Indonesia” adalah sebuah negara dan bangsa yang akan sangat menyenangkan bila menjadi jajahan. Sumber daya alamnya dikeruk, lalu sumber daya manusianya dijadikan buruh.

Kalau saya adalah seorang penjajah, maka saya akan menghancurkan Indonesia dengan dua cara; pembodohan dan perang saudara. Dengan proses pembodohan bangsa Indonesia, maka sumber daya alamnya bisa dijarah tanpa perlu peperangan. Tidak ada perlawanan, karena bangsa Indonesia memang tidak tahu sedang dijarah.

Mantan Presiden Indonesia ke-3, B.J. Habibie pernah mengusulkan sistem pendidikan nasional direvolusi agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas dan kreatif, tapi usul itu tidak pernah ditanggapi. Dahulu beliau mengusulkan agar sistem soal kurikulum pendidikan Indonesia bukan “pilihan ganda”, tapi memakai “jawaban esai.”

Sistem pertanyaan dengan model jawaban pilihan ganda membuat siswa-siswa di seluruh sekolah Indonesia (menurut beliau) hanya pandai menghapal. Tapi, jika sistem pertanyaan dengan model jawaban esai, siswa-siswa di seluruh Indonesia (menurut beliau) akan menjadi pandai menghapal dan kreatif memecahkan masalah.

Jawaban esai menuntut kreativitas cara menjawab, juga mendidik generasi penerus bangsa untuk lebar pemikirannya. Dengan terbiasa dididik sejak SD hingga SMA bahwa bermacam-macam jenis jawaban bisa bernilai sama, maka para generasi penerus bangsa akan bisa hidup menjadi “manusia Indonesia.”

Konsep Bhinneka Tunggal Ika akan sulit dipahami oleh orang-orang yang sejak kecil disekolahkan untuk memandang dunia ini adalah “hitam-putih”. Kalau jawaban (a) yang betul, maka jawaban (b), (c), dan (d) adalah salah. Ya, sistem pendidikan nasional di Indonesia saat ini secara tidak langsung menyuburkan paham radikalisme agama.

Bisa kita amati bersama, banyak “orang kota” yang pandai soal ilmu agama, tapi justru adalah kalangan yang paling kejam dalam beragama. Kekacauan sosial karena alasan agama seringkali justru terjadi di perkotaan.

Hal itu terjadi karena masalah pola pikir. Karena terbiasa diajari “jawaban yang paling benar adalah satu saja” sejak SD sampai SMA, maka saat beragama pun pola pemikiran seperti itu dipakai. Dipikirnya Gusti Allah itu seperti guru sekolah. Dipikirnya Gusti Allah itu seperti manusia biasa.

Kalau Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri jatuh pada hari Senin, maka umat muslim yang ibadah shalat ied di hari Selasa dianggap warga Muhammadiyah menyalahi agama Islam. Kalau NU menetapkan shalat tarawih sebanyak 20 raka’at, maka umat muslim yang ibadah shalat tarawih dengan 8 raka’at dianggap nahdliyyin menyalahi agama Islam.

Agama Islam adalah Akhlak ?
Inti agama Islam sebenarnya adalah akhlak. Maka dari itu, ilmu tasawuf berada di atas ilmu fikih. Kalau menurut bahasanya KH. Muhammad Ainun Nadjib, “kebenaran” adalah tingkatan paling rendah, karena di atasnya ada “kebaikan”, lalu di atasnya lagi ada “keindahan.”

Anda jangan salah mengira dulu. Maksud beliau adalah, tingkatan paling rendah adalah “benar-salah” saja. Di tingkatan kedua, kebenaran tersebut harus ditambah pertimbangan “baik-buruk.” Di tingkatan ketiga, kebenaran yang sudah mengandung kebaikan, harus ditambah pertimbangan “indah-jorok.”

Memang saya akui, konsep beliau sulit dipahami oleh umat Islam di Indonesia yang sedari SD sampai SMA dididik dengan sistem berpikir (a), (b), (c), atau (d). Sebab beliau menawarkan cara berpikir yang siklikal, sementara sistem pendidikan nasional kita mengajarkan cara berpikir yang linier.

Kebenaran itu sangat penting, tapi bukan yang utama. Kebenaran harus ditambahi kebaikan dan keindahan. Jika ketiga elemen itu bersatu di dalam jiwa seorang muslim, maka ia akan bisa mencapai derajat “kemuliaan.”

Kita pakai contoh kasus saja, agar lebih mudah dipahami. Kita pakai contoh kasus NU – Muhammadiyah saja, untuk menjelaskan maksud “kebenaran adalah tingkatan paling rendah di agama Islam” dan “kebenaran + kebaikan + keindahan = kemuliaan adalah tingkatan paling tinggi di agama Islam.”

Misalnya, sekali lagi ini cuma misalnya, kalau Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri di hari Senin dan NU menetapkan Idul Fitri di hari Selasa, bagaimana sikap Anda?

Kalau Anda menggunakan tingkatan paling rendah di agama Islam, yaitu “kebenaran” saja, saya jamin hari lebaran Anda adalah hari penuh kebencian. Misalnya Anda adalah warga Muhammadiyah, maka Anda akan berusaha semaksimal mungkin melecehkan ibadah shalat Ied puluhan juta Nahdliyyin. Entah dengan mencari dukungan riset, ataupun hanya sekadar cacian tanpa dasar. Sebaliknya pun demikian.

Kalau Anda menggunakan tingkatan paling tinggi di dalam agama Islam, yaitu “kebenaran + kebaikan + keindahan = kemuliaan,” saya jamin hari lebaran Anda adalah hari penuh kasih sayang. Apapun hari yang Anda pilih, apapun organisasi Anda.

Anda akan berpikir; daripada sibuk menerka ijtihad ormas mana yang benar, lebih baik tawakal pada Allah SWT dan berbaik sangka kepada “pihak lain.” Jadi, warga Muhammadiyah dan Nahdliyyin akan saling mendoakan. Warga Muhammadiyah mendoakan ibadah para Nahdliyyin diterima Allah, demikian pula sebaliknya.

Daripada membahas shalat shubuh yang paling benar adalah pakai doa qunut atau tidak, lebih baik dan lebih indah adalah saling mendoakan shalat shubuh semua umat Islam di Indonesia diterima oleh Allah. Daripada membahas shalat tarawih yang paling benar adalah 8 raka’at atau 20 raka’at, lebih baik dan lebih indah adalah saling mendoakan shalat tarawih semua umat Islam di Indonesia diterima oleh Allah.

Pertikaian Penyebab Keterpurukan
Ketika dua gajah bertubrukan, yang sebenarnya menang adalah para pemburu gajah. Saat NU – Muhammadiyah sibuk bertikai, yang rugi adalah umat Islam di Indonesia. Rakyat miskin jadi semakin tidak terurus, anak yatim jadi semakin terlantar, jadi ada perang saudara, dan bangsa Indonesia jadi bangsa sangat lemah.

Jadi,  jika Anda ingin rakyat miskin semakin tidak terurus, anak yatim semakin terlantar, ada perang saudara, dan bangsa Indonesia menjadi bangsa sangat lemah, silakan Anda semua senang bertikai. Kalau Anda adalah warga Muhammadiyah, hinalah NU sekejam mungkin. Begitu pula sebaliknya. Kalau Anda adalah Nahdliyyin, tertawakan Muhammadiyah sekeras mungkin.

Tetapi, kalau Anda ingin menjadi muslim yang mulia dan ingin melihat Indonesia kuat, kembalilah ke ajaran leluhur kita; Bhinneka Tunggal Ika. Kemuliaan adalah ketika kita sudah bisa saling mendoakan “pihak lain” masuk surga secara bersama dan sama-sama bisa bertemu Nabi Muhammad SAW. Berbeda-beda jalan, tapi tetap satu jua tujuannya; menggapai ridha Allah SWT.

———————————

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke [email protected]

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Opini

Perang Opini di Dunia, Israel Kalah Telak Melawan Palestina

By Muhammad
Indonesiana

Haedar Nashir Dorong Warga Muhammadiyah Pertajam Rasa Empati dan Simpati

By Fadel
Indonesiana

Diduga Hina Islam, Muhammadiyah Desak Tangkap Youtuber Muhammad Kece

By Fadel
Indonesiana

Jaga Mental Anak Yatim, Habib Syech: Santunan Untuk Mereka Sebaiknya Tidak Terbuka

By Fadel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account