Sumber: Ceknricek.com

Bogor, LiputanIslam.com– Direktur Wahid Institute, Yenny Wahid mengatakan bahwa trend radikalisme dan sikap intolerans di Indonesia cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Menurutnya berbagai hal yang menyebabkan peningkatan itu, diantaranya terkait kontestasi politik, ceramah bermuatan kebencian, dan maraknya posting di medsos yang mengandung fitnah, hoaks, dan ujaran caci maki.

“Hasil survei yang dilakukan Wahid Institute menunjukkan trend intoleransi dan radikalisme di Indonesia cenderung meningkat dari waktu ke waktu,” ujarnya di Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (18/1).

Menurutnya, dari hasil survei menunjukkan bahwa ada ada sekitar 0,4 persen atau sekitar 600 ribu jiwa warga negara Indonesia (WNI) yang pernah melakukan tindakan radikal. Survei dilakukan terhadap penduduk dewasa masyarakat Indonesia.

“Data itu dihitung berdasarkan jumlah penduduk dewasa yakni sekitar 150 juta jiwa. Karena, kalau balita tidak mungkin melakukan gerakan radikal,” ucapnya.

Terkait yang disebut radikalisme itu sendri, Yenny menjelaskan ialah tindakan yang merusak atau berdampak merusak kelompok masyarakat lainnya di tengah kehidupan bermasyarakat di Indonesia, misalnya perusakan rumah ibadah agama lain. Sementara intolerans ialah sikap yang melarang atau tidak membolehkan orang lain mengekspresikan hak-haknya.

Baca: Arief Rasyid: Hadapi Bonus Demografi Dengan Kolaborasi

“Sebagai contoh, etnis tertentu tidak boleh bekerja di profesi tertentu atau tidak boleh menampilkan budaya etniknya,” tandasnya. (aw/republika/MI).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*