Walau Jarang, PBNU Tetap Sambut Baik Bantuan untuk Pesantren

0
182

Sumber: GoNews.co

Jakarta, Liputanislam.com– Pengasuh Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah yang juga merupakan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Marsudi Syuhud mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik bantuan pemerintah untuk pesantren di masa tatanan hidup baru atau new normal. Walaupun jarang mendapatkan, tetapi bantuan kali ini dinilai bisa membantu pesantren yang selama ini memang berjalan secara mandiri.

Nah, ketika pemerintah melakukakan inisiatif-inisiatif untuk meringankan beban pesantren, PBNU dan saya juga sebagai orang pesantren, menyambut baik akan hal itu,” ucapnya di Jakarta pada Jumat (12/6).

Kiai Marsudi menjelaskan, pondok pesantren telah mencerdaskan bangsa sejak sebelum republik ini berdiri. Bahkan, sebagian kiai-kiai pesantren menjadi pendiri dari republik ini. Jumlah pesantren yang berada di bawah naungan PBNU sendiri saat ini ada sekitar 24 ribu pesantren dengan jumlah santri sekitar 4 juta.

“Maka, inisiatif untuk ikut meringankan beban pesantren di kala Covid itu sudah kewajiban pemerintah. Negara harus datang,” katanya.

Sementara Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama (Kemenag),  Kamaruddin Amin mengakui bahwa pondok pesantren selama ini memang masih jarang mendapatkan bantuan pendanaan. Karena itu, rencananya pemerintah akan menyalurkan bantuan pendidikan sebesar Rp 2,36 triliun yang diperuntukkan bagi pesantren.

“Jadi tidak untuk madrasah, karena pesantren kan sangat jarang mendapatkan bantuan karena lembaga pendidikan yang nonformal sehingga tidak mendapatkan bantuan, selama ini sangat kurang sekali,” ungkapnya.

Sedangkan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, mengatakan idealnya pemerintah menganggarkan bantuan itu sebesar Rp 25 triliun. Menurutnya, bantuan sebesar Rp 2,3 Triliun itu belum cukup untuk membantu seluruh pesantren yang ada.  “Iya idealnya Rp 25 triliun bukan 2,5 ya kalau bisa Rp 23 Triliun,” ujarnya.

Proses belajar di pesantren dengan belajar di sekolah biasa itu berbeda. Belajar atau transfer ilmu yang diterapkan selama pandemi melalui online itu tidak cukup bagi murid-murid yang ada di pondok pesantren. “Jadi kita menganggap bukan hanya transfer knowledge, tapi ada pembentukan karakter,” ungkapnya.

Baca: Ketua ICMI: New Normal Dimulai Dari Rumah Ibadah

“Pembentukan karakter bagi murid-murid yang ada di dalam Pesantren itu melalui belajar tetap muka dengan guru untuk mengambil keberkahan dari ustadz dan kiyainya,” tambah Marwan. (ar/republika/CNN).

DISKUSI: