Sri Mulyani: Indonesia Harus Perkuat Struktur Perekonomian

0
75

Sumber: ekonomi.bisnis.com

Jakarta, LiputanIslam.com— Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut pekerjaan rumah (PR) Indonesia saat ini adalah memperkuat struktur perekonomian. Sebab, saat ini ekonomi Indonesia masih belum kuat.

“Apa PR kita? PR kita adalah ekonomi belum kuat. Kalau tahu ekonominya tumbuh tapi terjadi defisit transaksi berjalan dan diperdagangan, berarti harus memperkuat struktur perekonomian Indonesia,” ujar Sri Mulyani di Jakarta, Jumat (7/2).

Baca: Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi 2020 di Atas 5 Persen

Menkeu menyampaikan, untuk membuat ekonomi Indonesia semakin maju, pemerintah harus mengetahui aspek-aspek yang bisa memperkuat perekonomian sehingga bisa terus ditingkatkan.

“Kalau ingin membuat Indonesia ekonominya makin maju kita harus melihat what is the strength dan bagaimana memperkuat hal yang memperkuat tersebut,” kata Menkeu.

Menurutnya, salah satu aspek tersebut adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, berinovasi, dan kreatif. Agar Indonesia bisa menjadi negara kompetitif, kualitas SDMnya harus ditingkatkan.

“Itu bergantung pada manusianya yang harus berkualitas. Anggaran pendidikan kita sudah 20 persen (dari APBN) tapi kualitasnya perlu ditingkatkan,” terangnya.

Sri Mulyani menuturkan, kualitas SDM yang baik itu ditunjang dengan infrastruktur yang memadai. Untuk itu, kata dia, pemerintah terus membangun dan meningkatkan infrastruktur.

“Ekonomi kita menjadi produktif dan kompetitif kalau infrastrukturnya baik, kualitas maupun kuantitas. Kita punya seribu pulau yang harus dimanfaatkan,” kata dia.

Selain itu, dia menyebutkan, aspek yang juga mempengaruhi pembentukan ekonomi adalah sistem birokrasi. Agar Indonesia bisa menjadi negara yang produktif dan kompetitif, pemerintah harus terus berupaya memperbaiki sistem birokrasi.

“Indonesia kalah produktif dan kompetitifnya adalah karena birokrasi makanya kita terus berusaha untuk mereformasi birokrasi kita di pusat maupun daerah,” tuturnya. (sh/republika/antaranews)

DISKUSI: