Soal Wabah, KH Nasaruddin Umar Ajak Umat Teladani Para Nabi

0
257

Sumber: viva.co.id

Jakarta, Liputanislam.com– Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, KH Nasaruddin Umar mengimbau umat agar tidak memaki musibah seperti wabah covid-19. Terkait menyikapi wabah, ia mengajak umat Islam agar meneladani dan mencontoh para Nabi terdahulu tentang memberlakukan wabah yakni dengan cara tidak memusuhi, tetapi justru bersahabat. Sebab bagaimanapun virus tersebut juga adalah ciptaan dan mahkluk Allah.

“Kalau kita mempersiapkan batin kita dan melakukan persahabatan dengan sesama makhluk Allah, itu nanti akan hasilnya lain,” ucapnya pada acara yang bertema Gelombang Spiritual Ramadhan Menggapai Dari Rumah, di Jakarta pada Jumat (24/4).

Menurutnya, semakin kita memusuhi virus itu maka akan semakin merasakan sakit. Tetapi kalau kita menganggapnya sebagai sahabat, maka tidak akan menyakiti. Kiai Nasaruddin menceritakan kisah Nabi Ayub AS tertimpa musibah penyakit.

“Ketika Nabi Ayub memusuhi belatung yang ada di sekujur tubuhnya itu dia sangat kesakitan. Karena begitu parahnya penyakit yang menimpa tubuh Nabi Ayub, akhirnya Nabi Ayub dibuang ke sebuah gua di luar kota oleh istrinya,” ucapnya.

“Ini diabadikan dalam Alquran di tengah malam di dalam gua sepi sendirian itu Nabi Ayub berkata, wahai para belatung kalian dulu itu adalah musuhku di mana ada dokter di mana ada tabib di situ aku akan musnahkan engkau, tapi kamu nggak bisa musnah. Sekarang, ternyata tidak ada yang bisa menemani aku di dalam kegelapan gua ini selain kalian. Wahai para belatung makan sepuasnya daging ku,” tambah Kiai Nasar.

Ketika dibuang itulah kemudian Nabi Ayub menganggap belatung-belatung di tubuhnya sebagai sahabatnya. Bahkan kalau ada belatung yang jatuh maka ia naikan kembali ke badannya. Dengan persahabatan dan kesabaran itulah pada akhirnya Nabi Ayub merasa ringan dan rasa sakitnya hilang. Hingga di suatu malam ia mendengarkan suara dan keajaiban. Ia disuruh memukul-mukulkan tumitnya ke tanah dan memancarlah dua sumber mata air di bawah tumit itu persis seperti air zam-zammya Ismail.

“Di situlah Nabi Ayub, minum air itu dan mandi. Dan apa yang terjadi keesokkan harinya, sekujur tubuhnya yang belang dan bonyok itu utuh kembali bersih,” ungkapnya. “Jadi sikap kita terhadap penyakit jangan memusuhinl penyakit. Akan tetapi bersahabatlah dengan musibah termasuk penyakit,” sambung Kiai Nasar.

Baca: Haedar Nashir: Soal Pandemi, Umat Islam Harus Beri Solusi, Bukan Tambah Masalah

Selain Nabi Ayub, ada juga kisah Nabi Ibrahim yang menganggap mahkluk Allah bernama api menjadi sahabat. Sehingga, ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke lautan api, api tidak membakarnya. “Apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim dilemparkan ke lautan api. Apa kata api, saya tidak tega melukai kekasihku dan kekasih Allah,” terangnya.

“Dan apa yang terjadi, api itu padam. Nabi Ibrahim berjalan di atas bara api tanpa sehelai rambutnya pun juga terbakar, dia sambil makan buah. Sementara raja Nambrud keringatan dan kepanasan,” katanya.

Begitu juga dengan apa yang terjadi dengan Nabi Yunus yang ada di dalam perut ikan ikan buas yang ada di tengah laut. Nabi Yunus bukannya dimangsa tapi itu diselamatkan sampai ke pantai. “Jadi barang siapa yang bersahabat dengan sesuatu, maka sesuatu itu tidak akan melukai kita,” ucap Kiai Nasar. (aw/republika).

 

 

 

DISKUSI: