Rupiah Terus Menguat, Indef: Perlu Diwaspadai

0
7

Sumber: market.bisnis.com

Jakarta, LiputanIslam.com— Institute for Development of Economic and Finance (Indef) mengatakan penguatan rupiah terhadap dolar AS yang berlangsung sejak awal tahun perlu diwaspadai.

Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto menyampaikan, penguatan rupiah diklaim pemerintah sebagai tanda adanya perbaikan ekonomi. Akan tetapi, menurutnya, menguatnya rupiah tidak selalu menggambarkan situasi yang sebenarnya.

“Jangan-jangan justru bukan penguatan yang terjadi. Rupiah itu kalau naik cepat, turun juga cepat,” ujar dia, Jakarta, Rabu (22/1).

Dia menerangkan, penguatan rupiah disebabkan oleh dana asing yang masuk dalam jumlah besar ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN). Total capital inflow pada 2019 tercatat mengalami peningkatan menjadi Rp 224 triliun dan 75 persennya masuk ke SBN.

Baca: Rupiah Melemah ke Posisi Rp 13.669 per Dolar AS

Hal itu menunjukkan dana asing masuk untuk membeli SBN pemerintah yang diterbitkan untuk mendapatkan pembiayaan utang. Penjualan SBN ini menjadi besar karena target penerimaan pajak tidak tercapai sehingga utang meningkat.

“Karena target penerimaan pajak tidak tercapai sehingga menambah utang. Utang yang ditarget 1,8 persen terhadap PDB jebol menjadi 2,2 persen. Utang riil juga naik dari Rp 269 triliun menjadi 353 triliun,” jelasnya.

Sementara itu, Peneliti Indef Bhima Yudhistira menilai, penguatan rupiah harus diperhatikan apakah masih sesuai dengan fundamental ekonomi dalam negeri. Sebab, jika tidak sesuai, maka rupiah akan cepat mengalami pelemahan.

“Karen ajika tidak, akan mudah melemah kembali,” ucapnya.

Selain itu, menurutnya, penguatan rupiah yang terlalu cepat bisa membuat pelaku usaha tidak nyaman karena harus melakukan penyesuaian belanja. (sh/republika/harianterbit)

 

DISKUSI:
SHARE THIS: