Pertumbuhan Ekonomi Tak Capai Target, Indef: Banyak yang Harus Diperbaiki

0
103

Sumber: tempo.co

Jakarta, LiputanIslam.com— Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai banyak hal yang harus diperbaiki terkait pertumbuhan ekonomi.

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad mengatakan, dalam 100 hari pemerintahan Jokowi-Ma’ruf, realisasi pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 5,02 persen atau meleset dari target 5,3 persen. Untuk itu, banyak hal yang harus dikoreksi.

Baca: Ekonom Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2020 di Bawah 5 Persen

“Target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen dalam 100 hari tidak tercapai, hanya mampu tumbuh 5,02 persen. Bagi kami ini banyak hal yang harus diperbaiki,” kata Tauhid, Jakarta, Kamis (6/2).

Dia menyebutkan, pertumbuhan konsumsi pada kuartal IV 2019 hanya 4,97 persen dari perkiraan di atas lima persen. Kemudian, pertumbuhan konsumsi pemerintah turun dari 4,5 persen menjadi 3,5 persen. Hal ini menunjukkan langkah pemerintah dalam mendorong perekonomian tidak tepat sasaran.

“Tidak tepat sasaran dorong perekonomian. Padahal konsumsi pemerintah bisa jadi fundamental dorong ekonomi sampai 5,3 persen,” ujarnya.

Selain itu, sektor industri hanya tumbuh 3,5 persen dari target 4,5 persen. Padahal, konstribusi sektor industri cukup besar terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Padahal sektor industri pegang kontribusi penting yakni 19 persen hingga 20 persen terhadap PDB. Kita harus keluar dari jebakan deindustrialisasi,” ucapnya.

Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto menambahkan, pemerintah tidak mampu memanfaatkan beberapa momentum yang mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi, seperti libur akhir tahun, dan penunjukkan menteri-menteri baru Jokowi jilid kedua.

“Munculnya wajah baru di tim ekonomi Kabinet Indonesia Maju yang dilantik pada 23 Oktober 2019 tidak mampu mengungkit optimism perekonomian sehingga realisasi masih jauh dari harapan,” tuturnya.

Menurutnya, melambatnya pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV menunjukkan makin beratnya persoalan ekonomi yang dihadapi Indonesia. Pemerintah masih belum mampu mendorong optimisme perekonomian.

“Justru optimism pebisnis kian meredup seiring turunnya Indeks Tendensi Bisnis di Desember 2019,” kata dia. (sh/tribunnews/detik)

 

 

DISKUSI: