Menko Polhukam Sebut Islam Wasathiyah Paling Cocok di Indonesia

0
105

Sumber: republika.co.id

Kediri, Liputanislam.com– Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD mengatakan bahwa Islam Wasathiyah adalah yang paling cocok diterapkan di Indonesia. Menurutnya, Islam Wasathiyah ialah Islam yang tidak terlalu condong ke kanan ataupun terlalu ke kiri.

Demikian hal itu disampaikan Mahfud saat memberikan sambutan pada peluncuran buku Fikih Kebangsaan Jilid III secara virtual yang disiarkan langsung dari Pondok Pesantren Lirboyo, Jawa Timur, seperti dilansir republika.co.id pada Selasa (18/8).

“Islam jalan tengah. Yang tidak ekstrim ke kanan dan ke kiri. Ya inilah yang cocok bagi bangsa Indonesia,” ujarnya.

Mahfud menjelaskan alasan kenapa Islam Wasathiyah paling cocok di Indonesia. Ia menyatakan bahwa sejak berdirinya Republik Indonesia, jalan tengah ini telah dirumuskan tokoh Islam yang tergabung dalam BPUPKI. Mereka menisbikan Islam di Indonesia adalah moderat, karena itu tidak memaksakan untuk mendirikan negara Islam.

Terlebih saat ini Islam dari waktu ke waktu mengalami kemajuan. Menurut dia, sebelum merdeka dan satu dasawarsa setelah merdeka, orang Islam masih disudutkan. Tidak banyak diberi peran. Namun, lambat laun, Islam mulai mendapat tempat. Hingga kini, pemeluknya bebas mendapat hak yang setara dan bahkan menempati berbagai posisi penting di republik ini.

Baca: Merdeka, Independen terhadap Imperium Dunia

“Di kampus-kampus, Islam sudah terang-terangan. Dulu sampai akhir 70-80 malu-malu. Pakai jilbab jarang. Sekarang semua pakai jilbab. Tidak ada sekali lagi islamplophobia saat ini. Kalau ada yang bilang, itu pihak yang kalah saja. Karena yang diserang mereka juga memperjuangkan Islam,” ucapnya.

Sementara Mendagri Tito Karnavian menyampaikan bahwa saat ini masih banyak yang salah dalam memahami makna jihad, sehingga yang muncul ialah terorisme. Karena itu, Tito menilai harus ada perang narasi untuk mengatasi hal tersebut. Perang narasi untuk mengubah dan meluruskan narasi jihad yang salah selama ini. Moderasi narasi atau counter narasi juga harus disertai ayat-ayat Al Quran dan hadist.

“Buku Fikih Kebangsaan ini, ini sangat penting menjadi counter narasi untuk seluruh pihak. Buku ini, saya baca, saya lega. Ini yang ketiga dari Lirboyo. NU memang benteng NKRI, salah satu pendiri NKRI,” tandasnya. (ar/republika/detik).

DISKUSI: