Merdeka, Independen terhadap Imperium Dunia

0
91

LiputanIslam.com –Banyak orang yang masih salah dalam memahami makna merdeka, dan karenanya, belum menyadari bahwa kita sebenarnya belum merdeka sepenuhnya. Merdeka itu artinya adalah independen (independence), bukan sekedar bebas (freedom) dari belenggu penjajahan politik. Meskipun, kemerdekaan meniscayakan adanya kebebasan dari belenggu penjajahan. Akan tetapi, sekali lagi, keterbebasan dari belenggu penjajahan saja belumlah cukup untuk menjadi dasar pengklaiman bahwa kita sudah sepenuhnya merdeka.

Kita bisa melihat, bagaimana segala keputusan dan tindakan kita masih sangat bergantung kepada kepentingan-kepentingan asing. Kata-kata ini jangan disalahartikan sebagai sikap anti-China, karena sejatinya, yang menjadi problem besar kita adalah ketergantungan bangsa ini kepada setiap kekuatan “besar” dunia. Hingga kini, semua kekuatan dunia masih menjadi jangkar tempat menambatkan sauh harapan. Bahkan, sebenarnya, kebergantungan terbesar sejumlah elemen bangsa ini lebih banyak ditujukan kepada Barat, yang dikomandani AS. Sampai-sampai, “isu anti China” pun sejatinya dikapitalisasi oleh AS, melalui media-media mainstream dunia. Maka, dari perspektif ini, sikap independen “anti asing dan anti aseng” itu muncul dari ketergantungan kita kepada Barat.

Sejatinya, merdeka itu merupakan sebuah konsep yang abadi dan berkelanjutan. Kata “merdeka” selalu diikuti dengan pertanyaan “merdeka/independen dari apa?”. Pertanyaan itu semakin urgen untuk tetap dimunculkan mengikuti jargon “merdeka” manakala kita mendapati fakta bahwa memang ada kekuatan dunia yang menghendaki ketergantungan negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, kepada mereka. Kita mengenalnya sebagai imperium, yaitu kekuatan besar yang ingin menghegemoni dunia demi kepentingan mereka. Mereka mendefinisikan diri sebagai pihak yang superior, dan bangsa-bangsa dunia ketiga adalah pihak-pihak yang inferior.

Maka, dihembuskanlah berbagai narasi tentang berbagai kekurangan pada bangsa kita, mulai dari sisi intelektual, karakter, hingga budaya. Indonesia dikesankan sebagai bangsa yang tidak becus mengurusi diri sendiri. Tanpa adanya bantuan, bimbingan, dan kepemimpinan imperium dunia, bangsa kita tak akan pernah bisa bersaing untuk kemudian “melompat” menjadi bangsa yang maju di segala bidang.

Para pendiri bangsa ini sejatinya telah memberikan contoh, bagaimana kemerdekaan ini dicapai dengan cara-cara yang merdeka/independen. Kita dulu merdeka dengan cara independen. Ketika sebagian tokoh politik, bahkan termasuk Bung Karno dan Bung Hatta, masih menaruh harapan kepada “penjajah” yang memberikan janji-janji kemerdekaan, sikap yang berbeda diambil oleh sebagian pemuda kita di saat itu. Rengasdengklok di Karawang, jawa Barat, menjadi saksi gelora anak-anak muda bangsa yang percaya bahwa bangsa ini bisa merdeka kapan saja, tanpa perlu menaruh harapan kepada pihak-pihak asing (penjajah).

Maka, proses tarik ulur deklarasi kemerdekaan (proklamasi) yang sempat membuat ragu sebagian pendiri bangsa kita, dikunci oleh sikap tegas kaum pemuda yang mengultimatum Bung Karno dan Bung Hatta agar segera mengumumkan kemerdekaan secepat-cepatnya, tanpa perlu menunggu inisitaif dan “kebaikan hati” pihak luar manapun. Para pemuda bangsa di masa kemerdekaan mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan harus direbut; bahwa menjadi merdeka harus diraih dengan cara merdeka.

Bangsa kita terus dihadapkan kepada berbagai tantangan dan rintangan yang sangat besar. Kemampuan kita untuk lolos dari tantangan itu akan sangat bergantung kepada mental bangsa kita untuk tetap mampu bersikap independen di hadapan kekuatan imperium dunia. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: