IPW: Pengangkatan Kepala BNPT Wewenang Presiden, Bukan Kapolri

0
132

Sumber: liputan6.com

Jakarta, Liputanislam.com– Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane menyoroti soal pergantian Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dari Komjen Pol Suhardi Alius ke Irjen Pol Boy Rafli Amar yang prosesnya lewat telegram rahasia (TR) Kapolri. Menurut Neta, proses pergantian itu ialah sebuah malaadministrasi. Sebab, pengangkatan Kepala BNPT adalah wewenang Presiden, bukan Kapolri.

“TR Kapolri tentang penunjukan itu bisa dinilai sebagai tindakan melampaui wewenangnya. Untuk itu, TR pengangkatan Boy Rafli sebagai Kepala BNPT itu harus segera dicabut dan dibatalkan,” ujarnya di Jakarta pada Sabtu (2/5).

Neta menjelaskan, berdasarkan Perpres Nomor 46 Tahun 2010 tentang BNPT disebutkan bahwa pengangkatan Kepala BNPT dilakukan oleh Presiden. Jabatan Kepala BNPT juga bisa diisi oleh selain aparatur kepolisian, artinya nonpegawai negeri juga bisa menjabat posisi Kepala BNPT tersebut.

“Memang selama ini pimpinan BNPT selalu dari kepolisian. Akan tetapi, hal itu bukan serta-merta Kapolri menunjuk dan mengganti Kepala BNPT dengan telegram rahasianya. Kapasitas Kapolri hanya sebatas mengusulkan pergantian dan calon pengganti kepada Presiden,” ucapnya.

Terlebih pergantian Kepala BNPT oleh Kapolri memberi kesan bahwa BNPT di bawah Polri dan menjadi anak buah langsung Kapolri. Padahal, BNPT merupakan lembaga di bawah Presiden, yang bertanggung jawab kepada Presiden. “Oleh sebab itu, IPW menilai ada dugaan kesalahan administrasi dalam penunjukan Irjen Pol. Boy Rafli sebagai Kepala BNPT oleh TR Kapolri,” tandasnya.

Karena itu, tambah Neta, pihaknya mendesak Kapolri segera membatalkan TR pengangkatan Irjen Pol. Boy Rafly sebagai Kepala BNPT. IPW juga berharap Presiden Jokowi memperpanjang masa jabatan Komjen Suhardi Alius. Apalagi prestasinya selama ini sangat baik dalam menangani kasus-kasus terorisme.

Baca: Hardiknas Saat Covid-19, Mendikbud: Momentum Inovasi Pendidikan

“Suhardi punya prestasi yang sangat menonjol selama memimpin, misalnya aksi terorisme di Indonesia cenderung meredup. Sehingga, Densus 88 bisa membersihkan kantong-kantong terorisme dengan landai di berbagai daerah,” tutupnya. (aw/republika/CNN).

DISKUSI:
SHARE THIS: