Infrastruktur Jauh Tertinggal, World Bank: RI Butuh Dana Rp 22.000 Triliun

0
104

Sumber: cnnindonesia.com

Jakarta, LiputanIslam.com— Bank Dunia (World Bank) melakukan perhitungan terkait dana yang diperlukan Indonesia untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur. Perhitungan tersebut disesuaikan dengan rencana investasi Indonesia.

Berdasarkan perhitungan Bank Dunia, Indonesia membutuhkan dana sebesar 1,6 triliun dolar AS atau Rp 22 ribu triliun untuk mengatasi kesenjangan infrastruktur.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, rencana investasi Indonesia sebesar Rp 415 miliar dolar AS atau Rp 5.810 triliun. Sedangkan, RPJMN membutuhkan biasaya sebesar 412 miliar dolar AS atau Rp 5.768 triliun.

Baca: Jokowi dan Selisih Paham Terhadap Covid-19 di Indonesia

Bank Dunia mencatat, total dana yang diperlukan untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur tersebut lebih besar dibandingkan dengna ukuran ekonomi Indonesia.

“Nilai sebesar ini melembihi kapasitas keuangan publik untuk membiayainya,” tulis Bank Dunia.

Bank Dunia menilai, Indonesia harus meningkatkan ruang fiskal, seperti meningkatkan penerimaan domestik terutama dari pajak, meningkatkan kualitas belanja publik secara efisien dan efektiv, dan melakukan pinjaman dengan hati-hati.

“Menjadikan belanja publik lebih efisien dan efektif sangat penting karena dapat membantu meningkatkan investasi swasta di bidang-bidang yang penting bagi modal manusia dan modal fisik,” ujar Bank Dunia.

Hingga saat ini, kondisi infrastruktur Indonesia masih jauh tertinggal dibanding negara lainnya di Asia Tenggara. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, meski pembangunan infrastruktur masif dilakukan, tapi daya saing Indonesia masih kalah dibanding Vietnam, Thailand, dan Malaysia.

Basuki mengungkapkan, infrastruktur yang belum memadai dan rendahnya daya saing ini merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi Kementerian PUPR.

“Untuk Kementerian PUPR, ada beberapa tantangan dalam pembangunan infrastruktur. Ini masih terjadi,” kata dia. (sh/cnnindonesia/kompas)

DISKUSI: