Indonesia Menuju New Normal, Ini Kata Ekonom Core

0
114

Sumber: tempo.co

Jakarta, LiputanIslam.com— Indonesia mulai bersiap untuk menyambut fase normal baru atau new normal, yakni fase di mana orang-orang tetap menjalankan aktivitas normal ditengah pandemi Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, Indonesia harus tetap produktif tetapi juga aman dari wabah Covid-19. Untuk itu, sosialisasi new normal harus dilakukan secara besar-besaran.

“Saya minta protokol beradaptasi dengan tatanan normal baru yang sudah disiapkan oleh Kemenkes ini disosialisasikan secara masif kepada masyarakat,” kata dia, Rabu (27/5).

Baca: Pusat Kajian VTS: Proses Pemulihan Ekonomi Indonesia Perlu Waktu Panjang

Dalam hal ini, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai, dari sudut pandang ekonomi, penerapan lockdown yang sudah dilakukan akan berdampak buruk bagi ekonomi. Sehingga pemerintah harus mengambil jalan tengah.

“Menurut saya jalan tengah yang dipropose pemerintah saat ini adalah dengan mewacanakan untuk melonggarkan dalam hal ini PSBB,” ujarnya.

Akan tetapi, menurutnya, hal ini tergantung kesiapan Indonesia dalam menghadapi normal baru. Jika tidak siap, maka akan memicu gelombang kedua covid-19 atau melonjaknya kasus positif corona. Bahkan, negara yang berhasil menerapkan normal baru tetap terkena gelombang kedua.

Dia menuturkan, kehidupan normal baru itu seperti dua mata uang, ada potensi untuk meningkatkan perekonomian, tapi ada risiko peningkatan kasus positif virus corona. Jika pemerintah berhasil menghadapi fase normal baru tanpa memicu lonjakan kasus corona, Indonesia bisa keluari dari ancaman pertumbuhan ekonomi negatif pada tahun ini.

“Kalau kita melihat dari tren kuartal 1 yang tumbuh 2 persen, kemudian kuartal 2 ini kan memang ada kemungkinan dia lebih rendah dibandingkan kuartal 1. Menurut saya potensinya berada di kisaran maksimal kalau hitungan kami itu di 2 persen,” terangnya. (sh/kompas/detik)

 

DISKUSI: