GPPU: Target Ekspor Produk Peternakan Sulit Tercapai

0
162

Sumber: pertanianku.com

Jakarta, LiputanIslam.com— Pemerintah menargetkan ekspor produk peternakan pada 2020 naik 13 persen secara volume dan 17 persen secara nilai. Saat ini, pemerintah terus menggenjot produk peternakan untuk meningkatkan nilai dan volume ekspor.

Akan tetapi, Gabungan Perusahan Pembibitan Unggas (GPPU) menilai, target pemerintah tersebut akan sulit tercapai. Salah satu masalah utama yang akan menghambatnya adalah daya saing harga produk peternakan.

Baca: Kejar Target Ekspor, Pemerintah Genjot Produk Peternakan

Ketua Umum GPPU Achmad Dawami mengatakan, peternak unggas masih harus berurusan dengan biaya produksi yang besar karena harga pakan cenderung tinggi sehingga produk kalah saing.

“Harga jagung yang merupakan komponen utama produksi saja sudah mencapai Rp 5.200 per kilogram. Hal ini mengakibatkan produk kita kalah saing,” ujar Dawami, Minggu (9/2).

Dia menyampaikan, kondisi ini membuat pelaku usaha hanya terkonsentrasi untuk mengekspor produk peternakan ke negara-negara tetangga. Sebab, jarang yang dekat bisa menekan biaya distribusi sehingga produk yang dijual dapat bersaing.

Selain itu, dia menyebutkan, tantangan lainnya adalah aspek kesehatan hewan. Peternakan di Indonesia memang menerapkan standar kesehatan, akan tetapi negara-negara maju cenderung menerapkan perizinan yang lebih ketat.

Dalam hal ini, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita mengatakan, Kementan secara konsisten mengembangkan dan memastikan update informasi mengenai jaminan kesehatan hewan, mutu dan keamanan setiap produk yang akan diekspor.

“Kita terus dorong para pelaku usaha untuk meningkatkan ekspor peternakan dan kesehatan hewan dalam rangka meningkatkan pendapatan negara dari sektor pertanian,” kata dia.

Sementara itu, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen PKH, Fini Murfiani menjelaskan, Kementan telah melakukan pemetaan potensi negara tujuan ekspor berdasarkan analisa market intelligent.

Analisa tersebut dilakukan untuk mengetahui potensi negara tujuan ekspor dan mengidentifikasi negara pesaing untuk ekspor ke negara tujuan tersebut.

“Langkah konkrit lain yang sedang dan akan kita lakukan adalah melalui harmonisasi persyaratan teknis dan perdagangan dengan negara tujuan,” kata dia. (sh/ekonomi.bisnis/republika/sindonews)

 

 

 

DISKUSI: