Ekonom Core: Indonesia Belum Sehat Meski Surplus Perdagangan

0
314

Sumber: alinea.id

Jakarta, LiputanIslam.com— Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2020 mengalami surplus 743 dolar juta dolar AS.

BPS juga mencatat, surplus perdagangan terjadi sepajang periode Januari hingga Maret 2020 sebesar 2,62 miliar dolar AS. Surplus terjadi karena nilai ekspor lebih tinggi dari impor.

Dalam hal ini, ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, surplus neraca perdagangan masih belum bisa menggambarkan kondisi sehat secara penuh.

Baca: Neraca Perdagangan Maret Surplus 743 Juta Dolar AS

Yusuf menjelaskan, Indonesia mengalami surplus lantaran didorong oleh kinerja impor yang turun lebih dalam dibandingkan ekspor.

Meski begitu, kata dia, kabar baiknya adalah perkembangan ekspor ke China mengalami pertumbuhan cukup signifikan. Hal ini menunjukkan ekonomi China sedang mengalami pemulihan.

“Ini berita baik karena China merupakan mitra dagang utama ekspor kita,” ucapnya, Rabu (15/4).

Akan tetapi, dia menuturkan, pemulihan ekonomi China bisa juga berimbas negatif bagi Indonesia. Sebab, China merupakan salah satu importir terbesar ke Indonesia. Pemulihan tersebut jangan sampai membuat neraca dagang Indonesia mengalami defisit karena pertambahan impor yang lebih besar dari ekspor, khususnya dari China.

Dia memprediksi, neraca perdagangan Indonesia berpotensi mengalami defisit pada kuartal-kuartal berikutnya. Proyeksi tersebut didasarkan pada skenario ekonomi China yang terus mengalami perbaikan dari waktu ke waktu dan tren impor barang modal yang belum bisa pulih ditambah kenaikan impor barang konsumsi.

Selain itu, industri dalam negeri juga belum mampu menggenjot ekspor lebih besar sehingga potensi defisit neraca perdagangan semakin lebar.

“Dengan faktor-faktor ini, potensi terjadinya defisit neraca dagang semakin membesar,” kata dia. (sh/republika/kompas)

 

 

DISKUSI: