Dampak Corona, Rupiah di Atas Rp 16.000 per Dolar AS

0
268

Sumber: wartaekonomi.co.id

Jakarta, LiputanIslam.com— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin anjlok imbas dari wabah virus corona. Pada perdagangan Jumat (20/3), rupiah sudah berada di atas Rp 16.000 per dolar AS.

Berdasarkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah menempati posisi Rp 16.273 atau melemah 3,57 persen dibandingkan perdagangan hari sebelumnya. Posisi tersebut merupakan terendah sejak krisis moneter pada 1998.

Baca: Rupiah Tembus Rp 15.200 per Dolar AS

Sementara dalam transaksi konvensional di perbankan Indonesia, rupiah sudah menyentuh Rp 16.550 per dolar AS. Bank Mandiri tercatat menjual rupiah di posisi Rp 16.550 per dolar AS, BCA di posisi Rp 16.550 per dolar AS, BNI di posisi Rp 16.450 per dolar AS, BRI di posisi Rp 16.335 dan Panin di posisi Rp 16.430 per dolar AS.

Dalam hal ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal itu dia sampaikan dalam rapat terbatas yang digelar melalui video conference pada Jumat (20/3).

“Saya minta BI fokus jaga stabilitas rupiah,” ucapnya.

Selain itu, Jokowi juga meminta otoritas moneter untuk mempercepat pemberlakukan ketentuan penggunaan rekening rupiah di dalam negeri. Hal ini sebagai bentuk mitigasi pelemahan rupiah lebih lanjut.

“Mempercepat berlakunya ketentuan penggunaan rekening rupiah di dalam negeri,” ujarnya.

Sementara itu, peneliti Indef Bhima Yudhistira menilai, pergerakan rupiah bisa kembali stabil asalkan penanganan virus corona semakin membaik.

“Kondisi yang bisa membuat nilai rupiah menguat lagi tergantung pada penanganan virus corona. Jangan seperti sekarang, komunikasi maju mundur, kemudian pusat dan daerah juga belum clear, ini cukup mempengaruhi,” kata dia, Sabtu (21/3).

Dia melanjutkan, nilai tukar rupiah juga tergantung pada daya beli masyarakat yang cukup kuat menghadapi virus corona dan resesi ekonomi secara global.

“Jadi saya usulkan untuk mempertahankan daya beli masyarakat sehingga investor juga percaya pada kekuatan Indonesia, maka harusnya ada universal basic income,” tuturnya. (sh/detik/cnbcindonesia/kumparan)

DISKUSI: