Resesi Ekonomi, Indef: Orang Kaya Nahan Belanja, Orang Miskin Sulit Belanja

0
119

Sumber: sindonews.com

LiputanIslam.com— Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia telah mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut, yaitu -5,32 persen pada kuartal II dan -3,49 persen pada kuartal III.

Dengan kontraksi ekonomi dua kali beruturt-turut, Indoneisa telah jatuh ke dalam resesi. Menurut ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, saat resesi kelompok berpenghasilan menengah ke atas bisa menahan belanja dan mengalihkan uangnya ke simpanan perbankan atau ke aset aman.

Baca: Survei: Masyarakat Optimis Ekonomi Akan Pulih

Sebaliknya, resesi berdampak pada penurunan secara signifikan pendapatan kelompok berpenghasilan menengah ke bawah. Kondisi ini membuat daya beli mereka jatuh sehingga kesulitan untuk belanja.

“Pendapatan hanya untuk belanja pada kebutuhan pokok dan kesehatan saja,” kata dia, Jumat (6/11).

Oleh karena itu, resesi meningkatkan ketimpangan ekonomi. Orang kaya masih bisa tetap bertahan karena memiliki aset yang cukup. Sementara kelompok menengah menjadi rentan miskin.

“Desa juga akan jadi tempat migrasi pengangguran dari kawasan industri ke daerah-daerah karena gelombang PHK massal,” kata dia.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet menambahkan, penurunan pendapatan masyarakat menengah bisa membuat mereka masuk ke kategori masyarakat miskin.

“Jadi dampak buruknya da potensi penambahan jumlah pengangguran, kemudian meningkatnya angka kemiskinan dan ada dampak-dampak yang sebenarnya terlihat dampak sosial non ekonomi,” ujarnya.

Berdasarkan data BPS, orang miskin Indonesia pada Maret 2020 mencapai 26,42 juta orang, naik 1,63 juta orang dibandingkan September 2019, dan naik 1,28 juta orang dibandingkan Maret 2019. (sh/rmco/pikiran-rakyat/detik)

 

DISKUSI: