Krisis Ekonomi di Masa Pandemi, Sri Mulyani: Kita Bisa Survive

0
141

Sumber: wartaekonomi.co.id

LiputanIslam.com— Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan Indonesia telah berhasil melalui beberapa tantangan dan krisis ekonomi sejak awal kemerdekaan.

Akan tetapi, krisis yang disebabkan oleh Covid-19 saat ini diakui jauh lebih rumit ketimbang krisis-krisis sebelumnya. Saat krisis ekonomi pada 1998 atau 2008, pemerintah bisa fokus pada penyelamatan perusahaan atau perbankan. Sedangkan situasi sekarang sangat berbeda karena banyak sektor yang tergilas.

Baca: PSBB Jakarta Dicabut, Ekonomi Kuartal IV Tumbuh Positif

“Situai hari ini juga fokus pada keselamatan masyarakat, dunia usaha, namun juga saat yang sama dihantui oleh penyakit yang tidak terlihat namun kita sudah melihat korbannya cukup banyak. Ini yang menyebabkan karakter krisis ini sangat berbeda,” kata Sri Mulyani, Kamis (8/10.)

Meski begitu, Sri Mulyani tetap optimis Indonesia dapat mengatasi krisis yang terjadi akibat pandemi Covid-19 dan menjadi negara dengan pondasi yang lebih kuat.

“Kita bisa survive, kita kembali survive bahkan membangun pondasi yang lebih kuat. Setiap kali ada episode sulit, kita kemudian bisa keluar dengan membangun pondasi yang lebih bagus,” ujarnya, Senin (12/10).

Dia menerangkan, sejak awal kemerdekaan Indonesia telah dibebankan utang pemerintah kolinial Hindia-Belanda. Di awal orde baru, Indonesia mengalami hiper inflasi yang nilainya mencapai ratusan persen. Kemudian, ada krisis finansial Asia yang mengakibatkan dolar melambung dan membuat utang Indonesia meningkat hingga 100 persen.

Krisis-krisis tersebut membuat Indonesia terus melakukan pembenahan dan perbaikan. Di era reformasi, banyak peraturan perundang-undangan yang dibentuk dan menjadi pijakan bagi pengelolaan neraca keuangan negara hingga saat ini.

“Dari sisi keuangan negara, kita tahu di situ lah milestone bagaimana neraca dan keuangan negara mulai dibangun. Kita membuat undang-undang pembendaharaan negara dan undang-undang tentang BPK. Itu adalah tiga pilar dari sisi keuangan negara,” terangnya. (sh/kompas/cnnindonesia)

 

 

DISKUSI: