Piala Dunia Qatar, Hamas dan Hizbullah Puji Penolakan Para Suporter Arab terhadap Eksistensi Israel

0
273

Beirut, LiputanIslam.com   Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) mengungkapkan kebanggaan dan apresianya kepada aksi para suporter dari dunia Arab dan Islam di semua pertandingan Piala Dunia Qatar 2022 dalam mengekspresikan penolakan mereka terhadap eksistensi rezim Zionis Israel dan normalisasi hubungan dengannya.

Hamas dalam siaran persnya, Senin (28/11), menyebut aksi para suporter itu menunjang kemenangan perjuangan bangsa tertindas Palestina melawan pendudukan kaum Zionis , serta penegasan bahwa Palestina masih eksis di hati nurani bangsa-bangsa sebagai simbol perjuangan merebut kemerdekaan.

Seperti diketahui, sentimen anti-Israel mewarnai suasana Piala Dunia di Qatar. Wartawan Israel mengatakan bahwa sentimen itu mendorong penggemar sepak bola untuk mengibarkan bendera Palestina di stadion Qatar di tengah maraknya penolakan mereka untuk berbicara dengan media Israel.

Hamas menyatakan solidaritas itu mencerminkan penolakan rakyat berbagai negara dunia terhadap segala bentuk normalisasi dengan entitas pendudukan Zionis, yang belakangan ini getol berusaha menembus kesadaran bangsa-bangsa Arab agar menerima eksistensi Zionis di Timur Tengah.

Hamas  juga menyebutkan bahwa bangsa-bangsa Arab dan Muslim telah mengekspresikan jatidiri dan simpati mereka kepada Palestina dan kota suci Quds (Yerussalem), “yang akan tetap menjadi bagian dari dunia Arab dan Islam dan orientasi bagi seluruh para penyanjung kemerdekaan di dunia”.

Petinggi kelompok pejuang Hizbullah Libanon juga memuji penolakan para suporter Arab diwarancara oleh media Israel di Piala Dunia di Qatar 2022.

Wasekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem di Twitter, Senin (28/11), menyebut aksi para suporter Arab itu sebagai penolakan terhadap eksistensi  Israel dan normalisasi hubungan dengannya, dan cerminan perlawanan yang mengarah pada kemenangan bangsa Palestina atas rezim pendudukan.

“Aksi warga Arab menolak wawancara dengan koresponden Israel di Piala Dunia di Qatar merupakan indikasi penolakan masyarakat terhadap normalisasi (hubungan) dengan musuh,” tulis Syeikh Qassem.

“Resistensi pemuda terhadap normalisasi merupakan ekspresi penolakan terang-terangan terhadap keberadaan entitas Israel di wilayah kita. Upaya bersama dari perlawanan militer, budaya, media, dan pemuda akan mencapai kemenangan dan pembebasan bagi Palestina tercinta,” tambahnya.

Reporter dan jurnalis media Israel dalam beberapa kesempatan mengaku diboikot dan diteriaki oleh para suporter, warga setempat, dan bahkan pejabat di Piala Dunia di Qatar.

Dalam berbagai video yang ditayangkan oleh media Israel, warga lokal dan non-lokal terlihat berdiri di belakang wartawan Israel dan mengibarkan bendera Palestina untuk memprotes rezim pendudukan.

Selain boikot terhadap media Israel, spanduk besar pro-Palestina juga dibentangkan oleh para suporter di hampir seluruh stadion di Qatar. Para suporter dan pemain Qatar juga terlihat mengenakan ban lengan dan pita bergambar bendera Palestina sebagai penolakan atas kesepakatan normalisasi dengan entitas ilegal Israel.

Semua itu aksi sekaligus juga menandai penolakan rakyat di negara-negara Arab terhadap normalisasi hubungan sejumlah penguasa Arab dengan Israel.

Pada tahun 2020, Uni Emirat Arab dan Bahrain menandatangani perjanjian yang ditengahi Amerika Serikat dengan Israel untuk menormalisasi hubungan mereka dengan rezim Zionis tersebut.

Sudan dan Maroko lantas ikut menormalisasi hubungan dengan Israel, meski memicu kecaman luas dari Palestina serta negara-negara dan pembela hak asasi manusia di seluruh dunia, terutama di dunia Muslim. (mm/alalam/presstv)

Baca juga:

[Video:] Piala Dunia Qatar, Para Suporter Arab Permalukan Wartawan Israel

[Video:] Komunitas Yahudi Anti-Zionis Bakar Bendera Israel dan Kibarkan Bendera Palestina

DISKUSI: