Nestapa Rakyat Gaza

0
50

Judul buku: Sketsa Gaza
Penulis: Kirana Sulaeman
Penerbit: Diva press
Cetakan: Pertama, September 2020
Genre: Novel

Sampai saat ini, informasi yang tersebar seputar Palestina terbelah menjadi dua haluan. Haluan pertama adalah informasi pro-Barat, secara langsung membenarkan sepak terjang Israel di Palestina. Secara tak langsung, sengaja mengangkat isu-isu lain, seperti sepak terjang berbagai fraksi di negara itu (Hamas, Fatah misalnya), agar dunia lupa dengan masalah yang lebih penting, yaitu kemanusiaan. Isu ini sengaja diangkat agar dunia mengabaikan betapa serangan-serangan Israel ke Palestina telah menginjak nilai-nilai kemanusiaan. Haluan kedua adalah mereka yang menyuarakan penderitaan orang-orang Palestina dan seberapa buruk dampak dari embargo serta serangan-serangan Israel ke negara itu. Haluan pertama lebih dominan karena didukung dengan pendanaan yang besar dan disuarakan oleh media-media arus utama (Mainstream). Sementara haluan kedua dimotivasi oleh panggilan kemanusiaan yang geram terhadap kesewenang-wenangan Israel. Karena tidak didukung dengan finansial yang cukup, suara-suara mereka terdengar sayup. Eksistensinya seperti lilin kecil, tapi tersebar di banyak tempat. Mereka tidak mungkin dipadamkan, karena manusia-manusia yang menjunjung tinggi keadilan dan kemanusiaan akan selalu ada hingga akhir zaman.

Novel Sketsa Gaza adalah salah satu sumber informasi yang posisinya berada di haluan kedua. Ini adalah karya spesial, karena, pertama: ia menyuarakan penderitaan rakyat Palestina dalam bentuk karya sastra dan menggunakan Bahasa Indonesia. Karya seperti ini jarang sekali bisa kita temukan, terlebih dalam bentuk sastra, sebab seperti yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer, sastra bisa membuat sebuah peristiwa menjadi lebih hidup.

Kedua, penulis berhasil merekam berbagai peristiwa yang sulit ditemukan di halaman-halaman media pada umumnya. Contohnya, ribuan pelajar Palestina yang terpaksa kehilangan kesempatan belajar ke luar negeri karena prosedur di perbatasan dibuat begitu rumit. Inilah proses yang digambarkan oleh salah satu aktor dalam novel sebagai “Neraka”. Berjemur di bawah terik matahari, berdesakan dengan ribuan orang, dan penanganan petugas imigrasi yang begitu lambat. Bahkan tak jarang ada yang meninggal karena dehidrasi. Di sisi lain, pembaca juga digambarkan tentang kesulitan para petani tomat Palestina yang harus “mensiasati” label produk mereka dengan tulisan “produk buatan Israel” agar proses ekspor dipermudah oleh petugas bandara. Jika tidak demikian, produk tomat produksi para petani Palestina itu akan diperlama hingga sampai ke tangan konsumen dalam keadaan busuk.

Belum lagi pembaca dihadapkan dengan kenyataan pahit seputar pola hidup para pengungsi di Gaza yang hidup dengan air kotor dan asin, bangunan kumuh, dan teror serangan F-15 Israel yang sewaktu-waktu bisa datang menghancurkan mereka.

Sulit untuk menemukan kekurangan pada karya ini. Sebab, sebagai novel, penulisnya telah berhasil membuat pembaca merasakan derita dan nestapa yang dialami rakyat Palestina.

Bagipara penggemar isu-isu timur tengah, khususnya Palestina, karya ini penting untuk memperkaya wawasan dan sudut pandang kita, serta meresapi lebih dalam, tentang bagaimana sebuah konflik dilihat dari sudut pandang korban dan orang-orang yang menjadi objek serangan. Sementara bagi pembaca pada umumnya, Novel Sketsa Gaza perlu dibaca sebagai penyeimbang informasi tentang Palestina dari berita-berita mainstream yang terkadang tidak sesuai dengan kenyataannya. (Ay/Liputan Islam)

DISKUSI: