Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Liputan

Aksi Pembubaran Asyura dan Ancaman Keutuhan NKRI

Published 14/01/2014 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

Pada Kamis, 14 November 2013, sekitar seratusan orang yang menamakan diri “Aliansi Sunnah untuk Kehormatan Keluarga dan Sahabat Nabi” bergerombol di luar area Balai Samudra, Jalan Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara dengan tujuan menolak acara peringatan Asyura. Gerakan penolakan tersebut dikomandoi oleh Abu Jibril, ayah dari pemimpin situs Arrahmah (Jibril), yang pernah ditahan polisi karena terlibat kasus terorisme. Dengan membawa bendera hitam khas Al-Qaida, serta spanduk berisi foto-foto rekayasa, mereka meneriakkan kecaman-kecaman dan caci-maki terhadap acara peringatan Asyura yang sedang berlangsung di gedung tersebut. 

aksi demo pembubaran acara Asyuro (foto: merdeka.com)
aksi demo pembubaran acara Asyuro (foto: merdeka.com)

Mereka memaksa aparat agar segera membubarkan acara Asyura. Kapolres Jakarta Utara, Komisaris Besar Polisi Mohammad Iqbal, berusaha menenangkan massa dan tetap bersiaga menjaga keamanan para peserta Asyura di dalam gedung. Sekitar empat ratus personel polisi lengkap dengan sejumlah water cannon telah bersiaga.

Sementara itu, sekitar 7000 massa penganut mazhab Syiah di dalam gedung terlihat tidak terpengaruh oleh aksi caci-maki massa di luar. Mereka dengan khusyuk mengikuti acara demi acara, antara lain ceramah hikmah Asyura, pembacaan maqtal (narasi peristiwa Asyura), dan bahkan menangis tersedu-sedu karena terharu mendengarkan ulang kisah pembantaian cucunda Rasulullah di padang Karbala. Syair-syair duka-cita juga dibacakan oleh penyair Mahdali.

suasana di dalam gedung (foto: tempo)
suasana di dalam gedung (foto: tempo)

Ahmad Hidayat, Sekjen Ahlul Bait Indonesia, yang merupakan penyelenggara acara Asyura, menyayangkan massa aksi yang membubarkan acara peringatan Asyura dan menyebutnya sebagai sikap intoleransi dan pemaksaan kehendak.

Sementara itu, di Jawa Barat, tekanan dari kelompok-kelompok intoleran telah membuat peringatan Asyura  yang rencananya diadakan di Gedung Kawaluyaan, terpaksa dipindahkan ke SMA Muthahhari, Bandung. Pemindahan lokasi tersebut karena adanya larangan dari pihak Kepolisian.

Jalaluddin Rahmat, Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), mengatakan tidak ada alasan pasti dari pencekalan tersebut. “Alasannya tidak jelas. Mereka (polisi) katanya mendapat desakan dari kelompok yang menolak Syiah,” kata Jalaluddin.

Jalaluddin mengecam beberapa kasus ketidakadilan yang menimpa warga Syiah dan menyatakan akan melaporkannya ke Komnas HAM. “Di Surabaya, peringatan Asyura dibubarkan secara paksa. Kedua, di Makassar, (peringatan Asyura) diserbu dan dibubarkan juga oleh kelompok massa yang membawa senjata tajam. Di Yogyakarta, diberhentikan di tengah jalan saat akan merayakan. Begitu pun di Jakarta, kami mendengar kabar tidak baik.”

Pimpinan Ijabi, Jalaluddin Rakhmat, dalam jumpa pers (foto: kompas)
Pimpinan Ijabi, Jalaluddin Rakhmat, dalam jumpa pers (foto: kompas)

Jauh hari sebelum acara peringatan Asyura digelar, media-media garis keras yang mengklaim sebagai “pembela kemurnian ajaran Islam” menghembuskan kampanye hitam terhadap acara duka mengenang perjuangan Imam Husein di padang Karbala. Situs-situs Islam seperti Arrahmah, jauh-jauh hari menggembar-gemborkan penyesatan ajaran Syiah dan menilai peringatan Asyura sebagai bidah yang harus diberangus. Padahal peringatan hari Asyura telah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari budaya Islam Muslim dunia, dan bangsa Indonesia sendiri.

Pertama, hari Asyura yang diperingati Muslim Syiah di seluruh penjuru dunia merupakan momentum untuk mengenang perjuangan seorang Imam Husein dan pengikutnya yang membela agama Islam dari penyimpangan penguasa lalim. Cucu Rasulullah Saw itu mengorbankan dirinya sendiri dan keluarga serta pengikutnya demi tegaknya kebenaran. Penolakan keras oleh segelintir kelompok intoleran yang mengatasnamakan “Aliansi Sunnah untuk kehormatan Keluarga dan Sahabat Nabi” terhadap peringatan Asyura yang digelar penganut Syiah di Tanah Air menunjukkan inkonsistensi kaum intoleran itu terhadap Sunnah Nabi yang diperjuangkan dengan darah oleh Imam Husein. Padahal isu yang diusung dalam peringatan Asyura mengangkat relevansi kepahlawanan Imam Husein dan hari pahlawan di Indonesia, “Dari 10 Muharram hingga 10 November”.

Kedua, tudingan klise yang tidak valid terhadap Muslim Syiah terus-menerus dihunjamkan kelompok intoleran yang diwujudkan dengan menentang peringatan “Hari Pengorbanan dan Pengabdian terhadap kebenaran”. Bagi kaum intoleran, hanya pemahaman milik mereka sendirilah yang benar dan yang lain pasti salah. Akibatnya apapun yang dianggap berbeda harus diberangus dan dimusnahkan, termasuk Syiah. Ketua PB NU, Said Aqil Siradj menyebut kaum intoleran itu sebagai Muslim “antibudaya”.

Mereka meneriakan puritanisme dan hendak melenyapkan segala bentuk budaya Islam. Pemikiran demikian muncul karena mereka buta terhadap budaya. Padahal Islam di ranah budaya telah menunjukkan dinamikanya yang unik. Asyura sebagai tradisi kebudayaan Islam Nusantara hendak diberangus oleh kalangan intoleran seperti yang mereka tampilkan hari Kamis, 14 November. Padahal selama bertahun-tahun tradisi Asyura telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia. Orang Jawa menyebut bulan Muharram sebagai Suro. Demikian juga masyarakat Pasundan. Di Sumatra ada budaya Tabut dan Tabuik yang mengenang episode perjuangan Imam Husein di padang Karbala. Selain itu, terdapat banyak kesamaan budaya antara Syiah dan Sunni Indonesia seperti tradisi tawasul, maulid dan lain-lain.

tradisi Hoyak Tabuik di Pariaman (foto:melayuonline)
tradisi Hoyak Tabuik di Pariaman (foto:melayuonline)

Penolakan terhadap peringatan Asyura yang dilancarkan kubu intoleran di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini dipengaruhi oleh gerakan Wahabisme yang berniat menjadi “penafsir tunggal” terhadap ajaran Islam. Entah sadar atau tidak, mereka sedang merobek persatuan Islam dengan mengusung agenda Zionisme global dalam bentuk penyesatan sesama muslim.

Di Tanah Air, gerakan intoleran ini sedang mencabik-cabik keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari dalam yang perlu diwaspadai. Inilah yang dipertontonkan secara telanjang oleh kelompok-kelompok garis keras yang menolak kebhinekaan di Indonesia dengan menentang peringatan Asyura.(sumber: Tempo/Kompas/IRIB Indonesia)

 

 

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Indonesiana

Filsafat Islam sebagai Way of Thinking, Solusi Menghadapi Problema Sosial di Era Industri 5.0

By Farid
Editorial

Maulid Nabi SAW, Pekan Persatuan, dan Upaya Melawan Takfirisme

By Farid
Internasional

Hizbullah dan Moqtada Sadr Kutuk Peledakan Masjid di Afghanistan

By Hadi
Dari Redaksi

Syiah Dua Kali Menjadi Korban Fitnah Kaum Teroris

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account