Syiah Dua Kali Menjadi Korban Fitnah Kaum Teroris

0
841

LiputanIslam.com –Berita penangkapan tiga orang “ustadz”, yaitu Farid Okbah, Zain An Najah, serta Anung Al Hamat, oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri cukup menggegerkan. Farid Okbah dikenal sebagai aktivis yang punya jaringan yang sangat luas. Ia bahkan pernah bertemu Presiden Jokowi, dan berbicara tentang Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Ahmad Zain An Najah bahkan merupakan pengurus MUI Pusat di Komisi Fatwa. Sedangkan Anung Al-Hamat adalah penulis buku Tarbiyah Jihadiyah Bukhari. Dalam keterangan resminya, Kepolisian menyebut ketiganya ditangkap atas perannya sebagai “sesepuh” kelompok terois Jemaah Islamiah (JI). Mereka juga disebut sebagai penyandang dana atas sejumlah kegiatan terorisme di Indonesia.

Sejumlah media yang selama ini dikenal “radikal”, seperti Hidayatullah.com dan Arrahmah.com menyebut bahwa orang-orang yang ditangkap itu sebagai “pakar” Syiah. Tak lama setelah itu, sejumlah media lainnya ada yang menyebut ketiganya sebagai “tokoh” Syiah. Jadi, kata “pakar” yang tadinya bermakna “ahli” tentang Syiah, diubah menjadi “tokoh”, yang bermakna bahwa mereka yang ditangkap itu adalah orang-orang Syiah.

Tentu sangat jauh beda maknanya antara istilah “pakar” dengan  “tokoh”. Pakar bermakna ahli, yang pada prakteknya juga tidak begitu tepat. Ketiga tersangka teroris itu juga jauh sekali kalau disebut pakar. Mereka lebih layak disebut sebagai demagog anti Syiah. Di mana-mana, mereka mengumbar opini ngawur tentang apa itu Syiah. Beragam fitnah dan kebohongan mereka tebar di mana-mana, tanpa rasa malu, tanpa etika, dan sama sekali jauh dari cara-cara ilmiah. LiputanIslam berkali-kali membongkar fitnah keji dari Farid Okbah, dan perilaku radikal yang bersangkutan.

baca: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Ustadz Farid Ahmad Okbah

Kumpulan Propaganda Farid Okbah Terhadap Konflik Suriah

Jadi, mereka itu sama sekali bukan pakar Syiah. Melainkan tukang penyebar fitnah terkait dengan Syiah. Hanya saja mereka berbaju ulama, dan mereka fasih berbahasa Arab. Mereka juga menjadi pimpinan pondok pesantren, bahkan ada yang menjadi anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Apapun juga jabatan dan posisi mereka, tetap saja, ketika yang mereka umbar itu adalah fitnah, dan ketika yang mereka lakukan adalah tindakan terorisme, jelas mereka tak layak sama sekali disebut sebagai pakar.

Lebih jauh lagi, sudahlah mereka itu bukan pakar, ditambah lagi dengan pemelintiran berita yang menyatakan bahwa mereka yang saat ini menjadi tersangka teroris itu adalah tokoh Syiah. Model pemberitaan yang sangat ngawur ini memungkinkan munculnya kesalahpahaman di benak pembaca, yang mengira bahwa orang Syiah adalah teroris. Jadi, komunitas Syiah menjadi korban untuk dua fitnah secara beruntun. Pertama, orang-orang Syiah menjadi korban fitnah dari orang-orang yang mengklaim diri sebagai “pakar”. Kemudian, yang kedua, ketika tukang fitnah itu menjadi tersangka tindakan terorisme, justru tindakan terorisme yang busuk dan keji itu disematkan kepada orang-orang Syiah.

Begitulah memang cara kerja busuk dari kaum teroris dan radikalis. Begitulah ketika ayat-ayat Tuhan diperjualbelikan dengan harga yang murah. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: