Maulid Nabi SAW, Pekan Persatuan, dan Upaya Melawan Takfirisme

0
131

LiputanIslam.com –Saat ini, di sejumlah kawasan, kaum Muslimin sedang merayakan Pekan Persatuan. Istilah Pekan Pekan Persatuan merujuk kepada upaya pendekatan dua mazhab besar dunia, yaitu Sunni dan Syiah. Kedua mazhab memiliki data sejarah yang berbeda terkait dengan tanggal kelahiran Rasulullah SAW. Sunni meyakini bahwa Baginda Nabi SAW lahir tanggal 12 Rabul Awwal, sedangkan Syiah merayakan kelahiran beliau SAW pada tanggal 17 Rabiul Awwal. Selama enam hari ini, para ulama Syiah dan sebagian ulama Sunni mengadakan berbagai seminar dan diskusi dengan satu tujuan, yaitu mempererat persatuan di antara dua mazhab yang memiliki sejumlah perbedaan pandangan dalam Islam.

Penggagas Pekan Persatuan ini menyatakan bahwa Sunni dan Syiah sebenarnya sangat mungkin bersatu, karena berbagai perbedaan yang ada, sebenarnya tidaklah krusial, seperti tidak krusialnya perbedaan pendapat tentang tanggal kelahiran Nabi. Perbedaan tersebut tidaklah penting, karena tidak sampai menciptakan perbedaan di antara kedua mazhab dalam penghormatan kepada Baginda Nabi SAW. Baik Sunni dan Syiah, keduanya menaruh hormat dan kecintaan yang sama-sama mendalam kepada Rasulullah SAW.

Persatuan adalah barang yang sangat mahal bagi ummat Islam dan juga bangsa Indonesia, terutama dikaitkan dengan kemunculan fenomena radikalisme dan takfirisme. Kita lihat kilas balik ummat Islam dan bangsa Indonesia selama satu dekade terakhir ini. Lihatlah, bagaimana ummat Islam di seluruh dunia dan juga bangsa Indonesia  didera fitnah berupa kemunculan kaum radikalis-teroris, dengan dasar utama ideologi mereka yaitu takfirisme. Radikalisme dan takfirisme dikenal sebagai kelompok yang sangat buruk dari sisi cara yang mereka pilih untuk menggapai tujuannya. Cara terfavorit kelompok ini adalah menggelar festival fitnah dan kebohongan demi mencapai tujuan mereka, yaitu berkobarnya kebencian kepada kelompok lain. Fakta diputarbalikkan, video dan gambar direkayasa, dan persepsi publik digiring ke arah manapun yang mereka kehendaki, termasuk dalam menciptakan kebencian dan disintegrasi.

Lihatlah Suriah. Akibat dari berbagai kampanye kotor ala takfiri itu adalah hilangnya nyawa ratusan warga sipil selama perang yang berkobar di Negeri Syam itu. Pengungsi diperkirakan menembus angka satu juta. Infrastruktur di negeri itu hancur lebur. Negeri yang selama puluhan tahun relatif hidup dalam kedamaian itu tiba-tiba saja terbenam dalam kubangan kekerasan yang sangat mengerikan.

Karena yang menjadi aktor utama terorisme di Suriah adalah kelompok-kelompok trans-nasional, dan jaringan mereka ada di Indonesia, maka negeri kita pun terkena imbasnya. Ketika krisis Suriah memuncak yang ditandai dengan dideklarasikannya ISIS tahun 2014, di saat yang bersamaan, di negara kita digelar berbagai perhelatan politik, mulai dari pilpres/pileg 2014, lalu disambung dengan pilkada DKI Jakarta tahun 2017, hingga pileg/pilpres 2019. Di ketiga perhelatan politik tersebut, kita menemukan terjadinya penguatan politik identitas yang menimbulkan luka sangat mendalam bagi bangsa Indonesia.

Ruang opini publik Indonesia di saat itu disesaki oleh apa yang disebut dengan kampanye negatif (negative campaign) dan kampanye hitam (black campaign). Keduanya terkait dengan upaya yang dilakukan oleh satu kubu untuk menyerang lawan politiknya. Bedanya, jika kampanye negatif didasarkan kepada fakta, maka kampanye hitam berlandaskan kepada fitnah.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, dalam sejumlah literatur Islam, dikatakan bahwa keburukan fitnah itu lebih dahsyat daripada pembunuhan. Fitnah bisa membunuh karakter, menghancurkan reputasi yang sudah dibangun bertahun-tahun, mengancam kehidupan ekonomi (fitnah bisa membuat seseorang kehilangan pekerjaan), menyuburkan dendam kesumat, serta mengancam keselamatan jiwa. Yang terancam bukan hanya jiwa orang yang difitnah, melainkan juga keluarga dan kelompok. Sejarah mencatat bagaimana fitnah telah mencabik-cabik persatuan dan melemahkan ummat Islam. Bagaimana pula ribuan nyawa manusia melayang gara-gara fitnah. Semua dampak yang sangat mengerikan itu adalah buah dari cara yang dipakai oleh kaum radikalis dan teroris yang mengusung ideologi takfirisme.

Sebenarnya, yang lebih buruk dari cara yang dipakai oleh kelompok takfirisme-radikalisme adalah ideologinya. Takfirisme adalah sebuah ideologi yang menganggap kafir siapa saja yang mereka anggap berbeda dalam kehidupan beragama. Atas nama pemurnian akidah, dengan mudahnya mereka memberikan stempel kafir yang harus dilawan kepada kelompok-kelompok lain di dalam Islam. Sejarah mencatat bagaimana kaum takfirisme itu dengan sangat ringannya menjatuhkan vonis kafir dan zindiq kepada ummat Syiah, kaum sufi, penganut Asy’ari, bahkan para pengikut empat mazhab Sunni.

Takfirisme-radikalisme adalah racun mematikan bagi upaya membangun kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama. Peringatan Maulid Nabi dan Pekan Persatuan bisa menjadi momentum bagi upaya perlawanan terhadap radikalisme dan takfirisme. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: