Tiga Kelompok di Iran Berjuang Membuat Vaksin COVID-19

0
784

Teheran, LiputanIslam.com –  Wakil Presiden Iran Urusan Sains dan Teknologi Sorena Sattari menyatakan tiga kelompok di negara ini sedang bekerja keras untuk menghasilkan vaksin virus corona (COVID-19) di tengah mobilisasi nasional melawan epidemi ini.

“Sejak awal krisis ini berbagai perusahaan berbasis pengetahuan, penelitian, dan banyak perusahaan baru telah melakukan upaya sepanjang waktu untuk berkontribusi dalam perang melawan virus corona,” tulis Sattari di halaman Instagram-nya, seperti dikutip FNA, Jumat (3/4/2020).

Sattari menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan itu terlibat dalam pembuatan masker, desinfektan, ventilator, peralatan ICU, perangkat CT-Scan, alat uji COVID-19 dan lain-lain.

Kementerian kesehatan Iran Kamis lalu mengumumkan adanya temuan 2.875 kasus baru infeksi COVID-19 di negara ini, sementara pasien yang meninggal sejauh ini  berjumlah 3.160 orang.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Kianoush Jahanpour mengatakan bahwa dengan adanya temuan baru itu maka total jumlah kasus infeksi menjadi 50.468, sedangkan jumlah pasien yang sembuh 16.711 orang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan respon Iran terhadap virus sejauh ini sudah mencapai target. Namun, lanjut WHO, sanksi AS menjadi kendala besar sehingga Washington dapat terlibat dalam meningkatnya jumlah kematian di Iran jika tidak akan menghapus sanksi itu.

Baca: Rouhani Umumkan Penurunan Tingkat Penyebaran Covid-19 di Semua Provinsi Iran

Organisasi Kesehatan Dunia telah mempertimbangkan beberapa prioritas dalam penanggulangan pandemi ini, dan Iran menjalankan prioritas seperti yang didefinisikan oleh WHO, yang mengirim delegasi terpisah ke semua negara.

Kasus infeksi COVID-19 di dunia sejauh ini dilaporkan mencapai  lebih dari 1,002,000  dengan jumlah kematian yang melampaui angka 51.000, sementara jumlah pasien yang sembuh sekitar 208.000 orang.

Baca: Militer Iran Nyatakan Siap Membalas Jika AS Menyerang

AS  merupakan negara yang paling terdera wabah ini di dunia, dan mencatat lebih dari 5.600 kematian, menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins, yang juga telah mengkonfirmasi lebih dari 236.000 kasus infeksi penyakit di AS. (mm/fna/aljazeera)

DISKUSI: