Tanggapi Isyarat dari Iran, AS Nyatakan Siap Berunding Langsung

0
471

Washington, LiputanIslam.com –   Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan kesiapannya untuk mengadakan pembicaraan “mendesak” dengan Teheran secara langsung untuk pemulihan perjanjian tentang program nuklir Iran Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), setelah Teheran mengisyaratkan kemungkinan pembicaraan demikian jika dirasa perlu untuk memperoleh pemahaman yang “baik”.

Iran dan berbagai kekuatan dunia yang terikat dalam JCPOA terlibat negosiasi di Wina dengan tujuan memulihkan perjanjian tahun 2015 ini, yang telah ditinggalkan AS pada tahun 2018 dan Teheranpun membalasnya dengan menarik komitmen dasarnya sehingga JCPOA praktis macet.

AS berpartisipasi secara tidak langsung dalam negosiasi di Wina, dan pihak-pihak yang tersisa dalam perjanjian, yaitu Rusia, Cina, Prancis, Inggris dan Jerman, selain Uni Eropa, mengoordinasikan posisi antara perunding Iran dan AS.

Iran telah berulang kali menolak pembicaraan langsung dengan AS di Wina, dengan alasan bahwa Washington tidak lagi menjadi pihak dalam perjanjian tersebut.

Namun, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian dalam jumpa pers, Senin (24/1), mengatakan, “Pihak AS mengirim pesan dengan berbagai cara bahwa mereka mencari tingkat tertentu pembicaraan langsung dengan Iran.”

Dia menambahkan, “Saat ini Iran tidak berbicara langsung dengan AS, tapi jika kita mencapai titik selama negosiasi di mana kesepakatan yang baik dengan jaminan yang kuat perlu dicapai pada tingkat pembicaraan tertentu dengan AS maka kami tidak akan mengabaikannya dalam jadwal kerja kami.”

Segera setelah pernyataan itu, AS mengumumkan kesiapannya untuk pembicaraan sedemikian rupa.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS kepada AFP mengatakan, “Pertemuan langsung akan memungkinkan komunikasi yang lebih efektif, yang mendesak untuk mencapai kesepahaman dengan cepat.”

Dia juga memperingatkan, “Kita nyaris tak lagi memiliki waktu untuk mencapai kesefahaman.”

Perundingan Wina dimulai pada April 2021, ditangguhkan pada Juni karena faktor pilpres Iran, dan dilanjutkan pada akhir November.

Semua pihak terkait mengakui bahwa negosiasi baru-baru ini mengalami kemajuan, namun masih ada beberapa poin yang belum terpecahkan. Iran dan negara-negara Barat juga saling lempar tanggung jawab atas lambatnya proses negosiasi dan kemajuannya.

Para pejabat Iran belakangan ini menekankan bahwa perundingan langsung dengan AS pertama-tama membutuhkan “perubahan arah”  dari pihak AS.  Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei, pemegang keputusan tertinggi, beberapa waktu lalu juga membuat pernyataan bahwa bernegosiasi dengan “musuh” tidak berarti menyerah kepadanya.

Para pengamat lantas menduga pernyataan ini sebagai isyarat menuju perundingan langsung Iran dengan AS, sebagaimana pernah dilakukan dalam proses pengadaan perjanjian nuklir tahun 2015. (mm/raialyoum/fna)

Baca juga:

Pertama Kali Setelah 6 Tahun, Iran Ikuti Sidang OKI di Saudi

Serpihan Rudal AS Ditemukan dalam Serangan Saudi di Penjara Sa’dah Yaman

DISKUSI: